Senin, 28 Juni 2010

Persahabatan Tri Dharma

Tri Dharma mengacu pada 3 ajaran yaitu Budhisme, Taoisme dan Konfusianisme/ Ruisme, ada sebuah kisah menarik tentang persahabatan dan kerukunan diantara ke3 umat agama tersebut:
Hui Yuan(334-416), seorang Bhiksu yang dihormati dan berpengaruh pada masa dinasti selatan suka hidup menyepi di gunung LuShan. Dia memiliki kebiasaan yaitu tidak akan mengantar tamunya sampai jembatan sungai kecil dekat rumahnya, karena bila dia sampai melintasi jembatan tersebut secara misterius seekor harimau muncul dan mengaum untuk memperingatkannya.
Suatu ketika Lu Xiu Jing(406-477) seorang Taois datang berkunjung bersama temannya seorang sastrawan terkenal yang menganut Ruisme(Kongfusianisme) Tao Yuan Ming (365–427). Mereka bertiga ternyata sangat cocok. Karena keasyikan mengobrol, ketika Hui Yuan akan mengantar tamu2nya melintasi jembatan harimau tersebut muncul dan memperingatkannya. Harimau tersebut berkali2 mengaum dan mereka bertiga rupanya terlalu asyik mengobrol sembari tertawa.
Dari cerita ini bisa dilihat bahwa Budhisme, Taoisme maupun Konfusianisme/ Ruisme ternyata dapat hidup rukun tanpa pemusuhan...

Pendapat pribadi
Alangkah senangnya bila kini ke3 agama ini bisa tetap rukun, ngga ada yang namanya saling menghina dan mencela... Apa jadinya klenteng kalau didalamnya ke3 agama tersebut ngga rukun?

Reteller by: Wang'ZW

Asal Usul Tradisi membakar Uang saat Upacara Kematian


Tradisi unik yang dimiliki orang China yaitu membakar uang2 kertas, orang2an sebagai pelayan, rumah2an, berbagai macam kendaraan (tandu, mobil, pesawat), gunung emas-gunung perak, dll bila dilihat dari sejarahnya bisa dilihat dari kebiasaan masyarakat China kuno pada waktu pemerintahan kaisar2 kuno...

Seperti kepercayaan kuno bangsa2 lain yang menyertai harta kubur dalam pemakaman (Mesir dengan Piramidnya, Yunani, bahkan penduduk pulau jawa kuno, dll), bangsa China kuno juga memiliki kepercayaan yang sama. Sewaktu seorang kaisar atau bangsawan meninggal, dibuatkan sebuah makam besar untuknya (biasanya berada digua), semua benda kesayangannya ikut dikubur bersamanya, emas, perak, kuda kesayangannya serta para budak2nya.(mau lebih jelas, silahkan nonton film Confisius yang diperankan oleh ChouYunFa)

Tetapi lama kelamaan karena perbuatan ini dinilai terlalu kejam dan "menyia-nyiakan" SDM yaitu para budak, maka para budak, kuda, dsb diganti dengan patung terakota (yang paling terkenal adalah terakota kaisar Qin Shi Huang Di dari dinasti Qin yang tingginya sekitar 2 meter). Harta kubur berupa terakota ini tidak berakhir begitu saja pada dinasti Qin ini...bahkan bukti arkeologis akhir2 ini ditemukan patung2 terakota di makam kaisar2 dan bangsawan2 dinasti Tang (walupun ukurannya lebih kecil tetapi menampilkan seni ukir yang luar biasa)
Perbuatan ini pun ditiru oleh rakyat biasa... oarang2 kaya bisa saja menyuruh pematung membuat patung2 namun lebih kecil, tetapi orang2 biasa yang tak memiliki uang terpaksa memakai kertas sebagai media harta kubur, setelah disembayangi baru kemudian "harta kubur" tersebut dibakar untuk mengiringi kepergian si almarhum.

Kemudian tradisi ini meluas dan ditiru oleh yang lainnya hingga sampai sekarang dengan berbagai macam modifikasinya.

by: Wang'ZW

Jumat, 25 Juni 2010

Tai Sui Ye


Yin Qiao
Tai Sui Ye (Hindu Budha: MahaKala | Pewayangan Jawa: Bathara Kala)
Sang Dewa Penguasa Waktu


YinQiao adalah karakter favoritku dikisah FengShen YanYi(Penganugrahan Dewa) setelah JiangZiYa.... YinQiao adalah putra dari kaisar ZhouWang (Kaisar terakhir dinasti Shang) yang lalim...Dengan kata lain dia adalah Putra Mahkota Dinasti Shang.Sewaktu dilahirkan, dia berbentuk bola2 daging(mirip Nezha?), atas hasutan DaJi, selir Kaisar ZhouWang(yang juga siluman rubah betina yg berniat memperalat Kaisar) menyuruh membuang bola tersebut. tetapi oleh JiangFei, Permaisuri Kaisar ZhouWang/ibu YinQiao bola daging itu dipelihara.Lalu keluarlah seorang bayi yang diberi nama YinQiao.Beberapa tahun kemudian, Daji memfitnah JiangFei yg berakibat meninggalnya JiangFei, YinQiao yang marah mencabut pedang dan berusaha membunuh Daji. Oleh Kaisar ZhouWang YinQiao dihukum penggal. Beruntung YinQiao dibawa lari oleh pertapa dari gunung KunLun....
YinQiao dilatih ilmu kedewaan guna membalas kematian Ibundanya. Dilain pihak, JiangZiYa mendapat mandat dari Maha Dewa YuanShiTianZun untuk melakukan Proyek Para Dewa (Fengshen Project),meruntuhkan Dinasti Shang dan membangun Diansti Zhou...untuk itu JiangZiya membutuhkan banyak perwira2 tangguh...diantaranya ada YangJian (Dewa Erlang) LiNeZha, LeiZhenZi, dll. YinQiao yang sudah siap bertempur untuk Zhou diperintahkan gurunya turun gunung. YinQiao diberi sebuah Wasiat yg merubah wujudnya menjadi raksasa seperti Ashura...tubuhnya menjadi gelap(Hitam atau biru?), tangannya menjadi 6 pasang dengan senjata2 ditangannya,BaoBei FanTianYing(Segel Takdir Langit) dan mampu menguasai waktu.

Sewaktu turun gunung, dia bertemu ShengGongBao(Pertapa yang menjadi rival JiangZiYa) yang menasihatinya untuk membela Shang yang merupakan tanah airnya bukannya Zhou musuh Ayahandanya. Akhirnya YinQiao pun balik arah dan menyerang XiQi(Ibukota Zou), menggempur habis2an kota XiQi hingga banyak perwira Zhou yang gugur ditangan YinQiao...Sewaktu bertarung dengan JiangZiYa, YinQiao menyadari bahwa sebelum turun gunung dia bersumpah diahadapan gurunya bahwa dia akan membantu JiangZiYa, bila melanggar maka dia akan mati tergencet gunung. JiangZiYa mati2an menasihati YinQiao untuk nyawanya.

Kemudian Maha Dewa YuanShiTianZun membuat 2 buah gunung menggencet tubuh YinQiao. YinQiao yang sudah tak berdaya merelakan dibunuh oleh JiangZiYa.Akhirnya YinQiao gugur setelah dipenggal oleh WuJi (murid JiangZiYa), tak ada penyesalan dihati YinQiao, bahkan dia meninggal dengan tersenyum...Dia telah membela tanah airnya Shang....Setelah peperangan selesai dengan kemenangan Zhou, atas perintah Maha Dewa YuanShiTianZun, JiangZiYa mendirikan FengShenTai(Panggung penganugrahan Dewa) dan mengangkat perwira2 dari Zhou maupun Shang sebagai dewa. YinQiao diangkat sebagai TaiSuiYe(Dewa penguasa waktu)


Diambil dari kisah Feng Shen Yan Yi (Penganugrahan Dewa)

Karakter YinQiao ini aku ciptakan waktu pembuatan komik "GOD's PROJECT" Tugas Akhir Diploma III...
belakangan desain karakternya berubah lagi pas ak liat gambar MahaKala...


Ilustrated by: Wang'ZW (Do not copy without my permission)
Reteller by: Wang'ZW

Selasa, 22 Juni 2010

Tian Long Ba Bu


Tian Long Ba Bu / 天龍八部
Para pelindung Buddha Dharma


Mereka sudah ada sebelum ada agama Hindu dan Buddha. Setelah Sidharta menjadi sang Buddha, mereka bersama-sama menjadi pelindung sang Buddha.


Deva/Tian 天

Para Dewa terbagi dari tingkat tertinggi hingga tingkat terendah, didalamnya termasuk Brahma, Shiva, Vhisnu, Indra, Bayu, Varuna, Yama Deva, Catur Maha Raja, Bodhidruma, Hariti, dll.


Naga/Long龍

Naga versi Buddha agak sedikit berbeda dengan naga versi China. Mereka termasuk golongan ular-ular besar yang menguasai langit dan lautan. Terkadang Long disamarkan dengan Naga versi Buddha yang berasal dari India yaitu ular kobra raksasa yang berkepala banyak dan mereka menjadi musuh alami para Garuda.


Ashura/A Xiu Luo 阿修羅

Ashura / Asura / Asyura असुर(阿修羅 A xiu luo) adalah adalah makhluk mitologi yang berasal dari India (kemudian diadopsi oleh umat Hindu dan Buddha). Di kisah2 Hindu Ashura digolongkan kedalam bangsa Detya yaitu bangsa para iblis (Yaksha, Raksasa, Ashura, dll) yang menjadi musuh para Dewa (Adetya). Kisahnya diceritakan dalam kitab Adiparwa (bab pertama Mahabarata), bermula ketika para Detya dan Adetya bahu membahu mengambil tirta amerta didasar samudra. Kemudian tirta amerta diambil oleh para dewa, para detya yang merasa mempunyai hak meminum tirta amerta pun meminta bagian mereka, tetapi oleh para dewa tirta amerta dibawa kekhayangan. Sejak itu bangsa Detya yang dipimpin oleh Ashura selalu menyerang surga Indra untuk merebut Tirta Amerta kembali.
Dalam kisah Buddhis, Ashura merupakan makhluk yang berada 6 jalur kehidupan reinkarnasi (Dewa / surga, manusia, Ashura {terkadang diletakan diatas manusia hingga Ashura dikenal sebagai 1/2 dewa}, Hewan, Neraka, setan kelaparan). Dalam jalur reinkarnasi ini, Ashura adalah semua makhluk termasuk manusia maupun dewa yang jatuh kedalam angkara murka, setelah meninggal, mereka bereinkarnasi kealam Ashura dimana para Ashura suka sekali berperang, sehingga dialam Ashura selalu ada perang. Seperti halnya manusia, Ashura ada yang baik ada pula yang jahat, beberapa Ashura yang baik bersama2 menjadi pelindung sang Buddha.
Di dalam beberapa aliran Esoterik Buddha seperti Shingon (mantrayana) dijepang menganggap Ashura sebagai salah satu pelindung Buddha, sehingga Ashura disejajarkan dengan dewa, naga, garuda, Yaksha, Kinnara, Mahoraga dan Ghandarva (selanjutnya mereka ber8 disebut Tian Lung Ba Bu / Hachi Bushu). Disini Ashura digambarkan sebagai seorang raksasa bertangan 3 pasang dan berkepala 3(muka2nya digambarkan marah dan sedih), kadang disetiap tangannya terdapat bermacam2 senjata tajam (tangan depannya beranjali, tangan2 lainnya kadang memegang panah, busur, cermin, matahari dan bulan), dia digambarkan pemarah tapi kadang murah hati tetapi suka berperang.
Dalam bahasa pali Asyura berarti seseorang yang tidak tersentuh oleh cahaya, tetapi juga bisa diterjemahkan orang yang tidak minum surah (alkhohol). Tampaknya kisah ini diambil dari salah satu kisah Ashura yang sebenarnya penguasa surga Trayastrimsha, tetapi dia diusir oleh dewa Sakra / Indra ketika mereka sedang mabuk. Ashura yang kehilangan tempat tinggalnya sejak itu selalu meyerang surga Trayastrimsha yang kini dikuasai oleh dewa Indra. Sejak itu pula Ashura bersumpah tidak akan pernah minum minuman keras lagi.


Yaksha/Ye Cha 夜叉


Yaksha 夜叉(China : Ye Cha - jepang Yasha)adalah makhluk mitologi yang berasal dari India (kemudian diadopsi oleh umat Hindu dan Buddha). Dalam kisah Hindu maupun Buddha Yaksha diceritakan sebagai makhluk halus seperti peri / bidadari yang tinggal didalam hutan dan gunung, tetapi terkadang diceritakan sebagai bangsa yang liar, kasar dan brutal sehingga Yaksha terkadang disamakan dengan para Raksasa. Yaksha laki2 biasa digambarkan dengan tubuh tinggi besar dengan sosok menakutkan, sedang Yaksha wanita atau biasa disebut Yakshi digambarkan sangat cantik, lemah gemulai dengan bagian tubuh dada dan pinggul yang besar.
Contoh Yaksha yang menjadi pelindung Buddha yaitu The 12 Jenderal langit 十二神将 yang menjadi pengawal Bhaisajyaguru Budha (Budha pengobatan / Yàoshī Rúlái).


Garuda/Jia Lou Luo 迦樓羅


Garuda 迦樓羅 (China : Jia Lou Luo - Jepang : Karura) adalah makhluk mitologi yang berasal dari India (kemudian diadopsi oleh umat Hindu dan Buddha). Garuda berwujud raksasa berkepala dan bersayap burung, bagian atas tubuhnya berwarna merah, bagian bawah tubuhnya berwarna putih, seluruh tubuhnya diliputi sinar keemasan. Apabila terbang, sayapnya menutupi langit, kepakan sayapnya menimbulkan angin besar. Ketika Garuda lahir, teriakan dan kepakan sayapnya memporak porandakan khayangan, hingga Dewa Indra turun menenangkannya. Dia memiliki banyak julukan, salah satunya yaitu Gaganesvara (penguasa langit).
Menurut kisah Adhiparwa (bab pertama Mahabaratha) dikisahkan kelahiran Garuda (disini dia dinamakan Garudeya{mungkin generasi pertama dari bangsa Garuda}), bagaimana dia diperbudak oleh kakak2nya para naga hingga melepaskan diri dari perbudakan kakak2nya dengan mencuri tirta amerta dari surga Indra hingga harus bertarung dengan dewa Indra. Dewa Indra yang kalah meminta bantuan kepada dewa Whisnu. Kemudian dewa Whisnu membebaskan Garudeya dan Ibunya dari perbudakan para naga setelah mengalahkan Garudeya (skemudian Garudeya menjadi wahana dewa Whisnu). Sejak itu para garuda yang masih mendendam kepada para naga kemudian memburu dan memakan para naga.
Setelah Sidharta menjadi Buddha, para naga datang memohon kepada sang Buddha untuk menolongnya dari ancaman para garuda. Awalnya garuda menolak utk tidak memakan para naga, kemudian sang Buddha berjanji bahwa apabila murid2 sang Buddha berdoa berkah makanan, maka Garuda juga akan mendapat berkah makanan dari murid2 sang Buddha.
Kisah ini juga erat hubungannya dengan peninggalan mantra kuno berbahasa jawa kuno yang ditemukan disebuah pura Cakranegara di lombok, mantra itu dinamakan garudeyamantra, dilafalkan pada waktu mau makan untuk menangkal racun yang mungkin ada dalam makanan atau minuman,
mantra itu berbunyi :

Putih warna ning pupu nira makahingan ing nabhi, Mirah warna ning dada nira makahingan ing gulu
(Putih adalah warna pahanya sampai ke perut, Merah adalah warna dadanya sampai ke leher)




Gandharva/Gan Ta Po 乾闥婆

Para bidadara dan bidadari (malaikat).
Keterangan lanjut lihat Kinnara


Kinnara/Jin Na Luo 緊那羅


Kinnara 緊那羅 (China :Jin Na Luo - Jepang : Kimnara), Gandharva (laki-laki) 乾闥婆 (China : Gan Ta Po - Jepang : Kendatsuba), Apsara (perempuan) 天人 Tian Ren-Tennin / 飛天 Fei Tian-Hitten / 天女 Tian Nii-Tennyo / Kalavinka 迦陵頻伽, adalah makhluk2 surgawi dari mitologi India (kemudian diadopsi oleh umat Hindu dan Buddha). Mereka semua dikatakan pandai bernyanyi, bermain musik dan menari, mereka juga disejajarkan dengan malaikat dari dunia barat, sehingga mereka dikenal sebagai malaikat (bidadara-bidadari) dari timur. Kinnara digambarkan sebagai manusia dengan bagian bawah tubuhnya berupa burung angsa (beberapa kisah di India mengatakan berbadan kuda - centaur?). Wujud Kinnara bisa kita lihat di relief di candi Agung Borobudur. Konon Kinnara pernah turun kebiara Shaolin sebagai juru masak kuil, Kinnara kemudian menciptakan masakan vegetarian yang kita kenal sekarang yaitu Luo Han Cai (Sayur vegetaris Lohan). Gandharva dan Apsara terkadang disamakan, bahkan kadang dianngap pasangan, bila Gandharva menyanyi satau bermain alat musik, maka Apsara akan menyanyi dan menari mengiringinya. Gandharva dan Apsara digambarkan seprti sosok manusia pada umumnya, hanya saja mereka sering digambarkan sedang terbang dengan selendang yang melambai2 terkadang bersayap dan berada diatas awan. Karena kesamaan ciri ciri tersebut ketiga makhluk ini juga sering disebut Kalavinka (manusia bersayap / malaikat).


Mahoraga/Ma Ho Luo Jia 摩睺羅迦

Ular yang sangat besar, berjalan dengan perutnya. Sayangnya tidak ada info jelas mengenai makhluk ini, bahkan untuk image gambarnya tidak ada. Dijepang ada arca Tian Long Ba Bu (Hachi Busshu) ini, hanya saja info mengenai Mahoraga sangat kurang sekali.

Ilustrated by: Wang'ZW (Do not copy without my permission)
Reteller by: Wang'ZW

Selasa, 01 Juni 2010

Anak Anak Naga

BEI XI
Suka mengangkat benda berat
Aplikasi: Penyangga Prasasti

PU LAO
Suka Berteriak
Aplikasi: Oernamen pada lonceng dan genta

BI GAN
Suka mengobrol dan berdebat
Aplikasi: Hiasan diatas pintu penjara

TAO TIE
Suka makan
Aplikasi: Ornamen di bejana perunggu kaki tiga(yang berfungsi sebagai tempat makanan dan minuman)

BA XIA
Suka bermain Air
Aplikasi: Ornamen pada saluran air (Seperti patung Gargoyle dibarat)

YA CI
Suka membunuh dan berperang
Aplikasi: Ornamen di senjata dan zirah perang

SUAN NI
Suka duduk tenang dan bermain api
Aplikasi : Oernamen di pedupaan (Hiolo) dan sebagai alas dudukan Budha dan Bodhisatva

JIAO TU
Suka menyendiri dan tertutup
Aplikasi: Pegangan pintu di Istana maupun di kuil-kuil

QIU NIU
Suka bermain musik
Aplikasi: Ornamen di alat musik

by: Wang'ZW

Garudheya

Mitos Garudheya hidup di kalangan masyarakat Jawa kuno, khususnya yang mendapat pengaruh Hinduisme. Mitos ini mengisahkan perjuangan seorang anak untuk membebaskan ibunya dari penderitaan. Alkisah di sebuah pertapaan, tinggal seorang resi bernama Resi Kasyapa dengan dua orang istrinya, Dewi Winata dan Dewi Kadru. Walaupun kedua istri sang resi tersebut bersaudara kandung, namun di antara keduanya terjadi persaingan keras untuk mendapatkan perhatian yang lebih dari suaminya. Oleh karena itu, keduanya merasa gelisah ketika mereka tak juga dikaruniai putra.

Pada suatu hari, Dewi Winata kedatangan seorang dewa yang menghadiahkan sebuah telur kepadanya. Dewa itu berpesan agar Dewi Winata menjaga telur itu baik-baik hingga saatnya menetas nanti dan merawat makhluk yang keluar dari dalam telur tersebut. Sang Dewi lalu menyimpan telur di tempat tersembunyi. Pada saat yang bersamaan ternyata Dewi Kadru juga mengalami hal yang sama. Setelah tiba waktunya, telur yang diberikan kepada Dewi Winata menetas dan dari dalam telur tersebut keluar seekor anak burung. Sementara itu, telur milik Dewi Kadru juga menetas dan dari dalamnya keluar beberapa ekor ular. Kedua wanita itu merawat anak-anak angkat mereka dengan baik. Anak angkat Dewi Winata tumbuh menjadi seekor garuda yang diberi nama Garudheya, sementara anak-anak Dewi Kadru tumbuh menjadi naga.

Walaupun masing-masing telah mempunyai anak angkat, persaingan di antara kedua wanita tersebut tidak mereda. Pada suatu hari, Dewi Kadru menipu kakaknya dalam sebuah taruhan, sehingga ia memenangkan taruhan tersebut. Dewi Winata yang kalah harus menjadi budak Dewi Kadru dan anak-anaknya. Garudheya sangat sedih melihat penderitaan ibunya. Setelah dewasa, Garudheya berusaha mencari cara untuk membebaskan ibunya dari perbudakan. Akhirnya Garudheya berhasil mendapatkan keterangan bahwa ibunya akan bebas dari ikatan perjanjian dengan tebusan tirta amerta (air kehidupan) yang tersimpan di kahyangan dan dijaga oleh Dewa Wisnu. Setelah melalui berbagai perjuangan, Garudheya berhasil mendapatkan izin dari Dewa Wisnu untuk mengambil tirta amerta yang diperlukan untuk meruwat (membebaskan dari penderitaan) ibunya dengan syarat ia harus menjadi tunggangan Dewa Wisnu.

Jud Bio


Jud Bio secara Harafiah berasal dari bahasa Hokkian yang berarti Keluar Kuil, yaitu suatu acara semacam kirab dengan mengarak Kimsin (Rupang Dewa Pujaan) Kuil setempat keliling kota memakai Tandu (Kio) sebagai media.

Awalnya Kimsin yang diarak hanyalah ChengHuang Lao Ye (ShinHong Loya) sebagai Dewa Penjaga Kota untuk menjaga, melindungi dan memberi kesejahteraan pada kota yang dijaganya. Tetapi lama kelamaan tradisi Jud Bio tak melulu mengarak ChengHuang, semisal contoh adalah tradisi dari klenteng TayKakSie di kota Semarang yang setiap tahunnya mengarak BaoSheng Dadi (PoSheng TayTee) sebagai Dewa pengobatan dikarenakan pada tahun 1800an di Semarang terjadi wabah penyakit yang menular. Umat Tridharma Semarang kala itu memutuskan membawa sebuah Kimsin BaoSheng Dadi dari China menuju ke Semarang. Suatu Mukjizat, setelah Kimsin tersebut diarak keliling kota Semarang perlahan-lahan orang2 yang terkena penyakit menular tersebut sembuh.


Tandu yang dipakai ada dua jenis. Yang pertama berbentuk seperti miniatur Kuil, biasa digunakan untuk Kimsin Tuan Rumah dan Kimsin Dewa lainnya. Yang satunya berbentuk seperti kursi, biasanya digunakan untuk Kimsin pengawal. Tetapi tidak menutup kemungkinan Kimsin Utama memakai tandu kursi karena lebih ringan dan lebih sedikit orang yang memanggul.

Urutan JudBio biasanya sbb:
Sang Sakka MerahPutih
Bendera Kebesaran klenteng
Bendera Kebesaran Kimsin Tuan rumah
Barisan Panji dan pusaka
Kesenian Rakyat dan musik tradisional
Gembreng Besar
Bendera perintah (Lengki)
Pedupaan (Hiolo) (terkadang pakai tandu)
Tandu Kimsin pengawal
Tandu Kimsin Tuan Rumah
Payung dan Kipas
Tandu2 Kimsin yang dipuja diklenteng setempat
Liong dan Barongsai

Reteller by: Wang'ZW