Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Agustus 2021

ULAMBANA (Zhong Yuan Jie)

 Zhong Yuan Jie awalnya berasal dari tradisi umat taoisme dimana dihari itu adalah hari kebesaran dari Di Guan (penguasa bumi, salah satu dari San Guan Da Di) yang bertugas memberi pengampunan dosa manusia. Sedangkan oleh sebagian besar masyarakat tionghua biasa disebut sebagai Gui Jie (Cioko/bulan hantu) yang menurut kepercayaan, pintu gerbang alam baka dibuka selama satu bulan agar semua leluhur dapat kembali kedunia manusia untuk menemui keturunannya. Zhong Yuan Jie juga bias disebut sebagai Qi Yue Ban (pertengahan bulan ketujuh) karena memang Zhong Yuan Jie jatuh dibulan 7 penganggalan imlek.

Umat buddhis juga memperingati Zhong Yuan Jie yang biasa disebut sebagai Ulambana dan biasanya dalam upacara ulambana juga terdapat upacara ChaoDu (penyeberangan arwah). Asal usul Ulambana tidak bisa dipisahkan dari kisah Maha Maudgalyayana yang menolong ibunya dari siksa neraka. Selain itu ada kisah2 buddhis yang berkaitan erat dengan bakti seorang anak yang menolong ibunya dari siksa neraka. Biasanya kisah2 anak berbakti itu menjadi dasar pembuatan sutra buddhis tentang penyeberangan arwah seperti kisah putri Brahmana dan kaisar Liang.


Maha Maudgalyayana(Moggalana) menolong Ibu
Pada zaman dulu, ada seorang Bikkhu yang bernama Maha Moggalana. Ia merupakan salah seorang dari 10 Murid Utama Sang Buddha Gautama. Maha Moggalana adalah murid Sang Buddha dengan kesaktian no. 1 (di bawah Sang Buddha).

Maha Moggalana pada suatu ketika, dengan mata bathinnya melihat ibunya yang telah meninggal dunia, berjalan bersama dengan sekelompok hantu kelaparan. Dengan maksud menolong ibunya, lalu ia mengisi nasi ke dalam sebuah mangkok, untuk memberi makan ibunya. Siapa sangka, begitu nasi akan disuapkan ke mulut ibunya, nasi tersebut berubah menjadi bara api yang panas membara. Maha Moggalana dengan menggunakan kesaktiannya mencoba berkali-kali, tapi setiap kali hendak masuk ke mulut ibunya, nasi tersebut berubah menjadi bara api.

Maha Moggalana terkejut luar biasa, lalu kembali dan melapor kepada Sang Buddha Sakyamuni. Sang Buddha berkata kepadanya : "Dosa ibu kamu terlalu berat, hanya dengan kekuatan kamu 1 orang, tidak bisa membebaskan penderitaan ibu kamu!".

Lalu Maha Moggalana berlutut di lantai, memohon kepada Sang Buddha sambil berlinang air mata : Mohon Buddha memberi petunjuk, bagaimana baru bisa menolong ibu saya agar terbebas dari lautan penderitaan, dan tidak bersama dengan para hantu kelaparan itu lagi.

Melihat usaha Maha Moggalana yang bersungguh hati ingin berbakti dan membalas budi orang tuanya, maka dengan penuh Maha Maitri Karuna (Welas Asih) dan Maha Prajna (Bijaksana), Buddha Sakyamuni memberikan petunjuk kepada siswanya agar ia memberikan dana paramita kepada Para Arya Sangha dan setelah itu memohon Arya Sangha mengadakan suatu upacara guna menolong meringankan penderitaan ibundanya.

Sang Buddha menjawab : Mengenai hal ini, membutuhkan kekuatan para Bikkhu di 10 penjuru, begitu sampai Hari Raya Tiong Gwan Cwe ini, mewakili orang tua dari 7 generasi, dan orang tua sekarang yang berada dalam bencana /malapetaka, mempersiapkan bermacam-macam sayur dan buah-buahan, untuk dipersembahkan kepada Yang Berkebajikan di 10 penjuru, setiap orang berbuat kebajikan, di saat ini barulah bisa membebaskan penderitaan semua hantu kelaparan.

Maha Moggalana merasa amat gembira dan dengan penuh rasa bakti segera melaksanakan petunjuk Gurunya. Ia mempersembahkan dana paramita dari hasil Pindapatta-nya kepada para Sangha, dan kemudian memohon para Arya Sangha mengadakan suatu upacara penyaluran jasa untuk menolong ibundanya.

Setelah menerima dana paramita dari Arahat Moggalana, para Arya Sangha kemudian mengadakan upacara dengan membaca mantra, dharani dan ayat-ayat kitab suci, yang mana semua jasa dan pahala dari upacara ini disalurkan kepada ibunda Arahat Moggalana dan juga kepada makhluk-makhluk lain di tiga alam sengsara.

Sewaktu upacara dilaksanakan, terjadilah berbagai keajaiban, api neraka menjadi padam, segala penderitaan berubah menjadi kegembiraan dan kedamaian, makhluk-makhluk di alam Neraka setelah menerima getaran suci hasil pembacaan dharani tersebut, terbebaslah mereka dari penderitaannya.

Ibunda Maha Moggalana segera tertolong dan tumimbal lahir di alam yang lebih baik, begitu pula makhluk-makhluk di tiga alam sengsara lainnya, ikut menikmati hasil jasa dan pahala dari diadakannya upacara ini, sehingga merekapun dapat tumimbal lahir ke alam lain sesuai dengan kondisi karmanya.


Ksitigarbha Bodhisattva Purva Pranidha Sutra Bab 1
...........
Lagi pada masa lampau beberapa Asankhyeya-Kalpa yang tak terhitungkan, ketika itu terdapat seorang Buddha yang bernama BUDDHA PADMASAMADHISVARARAJA Tathagata, usiaNya mencapai 4 juta koti Asankhyeya Kalpa. Pada masa Saddharma-pratirupaka terdapat seorang putri Brahmana, yang banyak menanam benih kebajikan pada masa kehidupan yang lampau, sehingga kini ia selalu mendapat pujian orang sekitarnya. Di manapun ia berada, apapun yang dilakukannya selalu mendapat perlindungan para dewa. Tapi ibunya menganut ajaran sesat, selalu memfitnah Triratna. Sementara itu putri suci itu dengan berbagai kemudahan-kemudahan menasehati ibunya, supaya mendapatkan pandangan yang benar. Akan tetapi ibunya belum lagi percaya sepenuhnya, sudah ditinggal mati. Arwahnya jatuh ke dalam neraka Avicci. Putri Brahmana itu mengetahui betul bahwa ibunya semasa hidupnya tidak percaya kepada hukum sebab akibat, diperkirakan ibunya akan mengikuti karmanya, niscaya terjatuh ke dalam alam sengasara. Demi menyelamatkan ibunya yang malang itu secepat mungkin, Putri Brahmana itu menjual rumah kediamannya. Kemudian dari hasilnya ia tukar dengan dupa dan bermacam-macam bunga segar serta berbagai alat pujaan lain. Lalu sajian-sajian itu dipersembahkan di vihara-vihara untuk mengadakan puja-bhakti secara khidmat kepada Buddha di masa lampau.”

“Ketika itu putri Brahmana di vihara itu melihat Buddharupang Buddhapadmasamadhisvararaja Tathagatha yang agung megah, hal itu membuatnya lebih menghormat dan mengagumiNya. Seraya berkata dalam hatinya, bahwa Buddha ini memiliki gelar yang “Maha Sadar”, memiliki Sarvajna (kebijakan luhur). Jika saja beliau masih berada di dunia ini aku akan memohon beliau untuk menunjukkan di alam mana ibuku berada setelah ia meninggal dunia, pastilah beliau mau memberitahuku.”

“Pada saat putri Brahmana sedang bersedih dan lama sekali berdiri di depan Buddha rupang tersebut, tiba-tiba terdengar suara dari langit: “Putri yang berbudi, janganlah terlalu bersedih hati. Sekaranga aku akan menunjukkan tempat ibumu berada. Mendengar suara tersebut segeralah putri Brahmana itu mengatupkan kedua telapak tangannya ke arah langit seraya berkata: “Dewa berbudi manakah menghibur hatiku yang duka lara. Sejak ditinggalkan ibu tersayang, siang dan malam aku selalu merindukannya. Entah kepada siapa aku harus bertanya, di alam mana ibuku berada. “Kemudian dtang lagi suara dari langit: “Aku adalah Buddhapadmasamadhisvararaja Tathagata, seorang Buddha masa lampau yang sedang engkau puja. Melihat engkau merindukan ibu melebihi kesedihan umat-umat lain, maka aku datang untuk memberi tahu.”

“Putri Brahmana sangat terharu mendengar sabda Buddha tersebut, lalu ia menyembah dengan sekuat tenaga, sekujur tubuhnya mendekap tanah sehingga anggota badannya terluka dan iapun pingsan. Setelah ditolong orang sekitar vihara itu lama kemudian baru siuman kembali. Lalu ia menengadah ke langit sambil berdoa dan berkata, “Kasihanilah aku Buddha yang termulia, katakanlah segera di alam mana ibuku berada. Sebab jiwa ragaku tak lama lagi akan mati.” “Buddhapadmasamadhisvararaja Tathagata memberi tahu putri Brahmana: “Putri yang berbudi, setelah puja-bhaktimu ini selesai, cepatlah kembali ke rumahmu. Kemudian duduklah bersila di dalam kamar yang bersih dan pusatkanlah pikiranmu, lalu renungkanlah namaku terus menerus, lalu engkau dapat mengetahui di alam mana ibumu berada!”

“Setelah mendengar sabda tersebut Putri Brahmana merasa amat gembira dan lega, bergegas ia memberi hormat kepada Tathagata tersebut lalu pergi. Setiba di rumahnya putri Brahmana duduk bersila dan dengan sepenuh hati merenungkan nama Buddhapadmasamadhisvararaja dengan cara meditasi selama satu hari satu malam.”

“Dalam samadhinya, putri Brahmana itu merasa dirinya berada di pantai laut, air laut nampak bergelora. Banyak binatang buas yang berbadan baja berkejar-kejaran di tengah laut. Di sana juga terdapat ratusan ribu orang, laki-laki dan perempuan. Mereka timbul tenggelam di dalam air laut itu, sebagian dimangsa binatang buas yang ada di situ. Tak berapa lama, datanglah bermacam-macam setan Yaksa, ada yang bertangan banyak, yang bermata banyak, berkaki banyak, berkepala banyak, atau yang taringnya setajam pedang. Mereka berbondong-bondong mengusir orang hukuman itu menuju ke kelompok binatang buas di situ; sebagian setan Yaksa beramai-ramai menangkap orang tersebut, lalu menekuk kepala dan kaki, lalu menggulungnya menjadi gumpalan atau menarik tubuh orang tersebut hingga panjang sekali, atau mematahkan seluruh tulangnya atau menyobek-nyobek dagingnya hingga mati, kemudian mayatnya dibuang ke dalam laut. Tingkah laku mereka sangat kejam, sungguh sangat menakutkan sehingga tak ada seorang pun yang sanggup memandangnya lama-lama. Namun putri Brahmana itu tidak takut sedikitpun. Karena ia telah memuliakan nama Buddhapadmasamadhisvararaja Tathagata.”

“Saat itu datang seorang raja Setan yang bernama Amagadha menyambut putri Brahmana dengan penuh sujud seraya berkata, “Sadhu, Bodhisattva yang mulia! Ada apa gerangan datang ke alam ini ?”

Putri Brahmana bertanya kepada raja Setan: “Apakah nama alam ini? “Ini adalah Maha Cakravada, lapisan laut pertama di sebelah Barat.” Jawab raja Setan.

Putri Brahmana bertanya pula: “Benarkah di tengah-tengah Maha Cakravada terdapat alam Neraka?”

“Betul. Alam neraka persis ditengah-tengahny.” Jawab raja Setan.

“Raja Setan yang budiman!Katakanlah mengapa aku dapat mengunjungi alam neraka ini? Tanya putri Brahmana lagi.

Raja Setan Amagadha menjawab: “Engkau datang ke alam Neraka ini jika bukan karena kekuatan gaib, pastilah karena karma buruk.”

Tanpa salah satu sebab tersebut, sulit datang berkunjung ke alam neraka ini.

Putri Brahmana bertanya kembali: “Mengapa air laut itu mendidih dan di dalamnya banyak orang yang bersalah dan binatang buas?”

Raja Setan Amagadha menjawab: “Orang-orang tersebut datang dari dunia Jambudvipa, mereka mempunya karma berat dan baru meninggal dunia. Tapi selama 49 hari ini tiada seorangpun yang membuat jasa-jasa kebajikan untuk disalurkan kepada mereka, untuk menyelamatkan mereka. Sewaktu mereka berada di dunia, mereka enggan menanam benih kebaikan: Maka tanpa membawa suatu apapun kecuali karma beratnya, kini mereka harus menanggung hasil perbuatannya dan sesuai dengan hukum karma, mereka terjerumus ke alam kesedihan. Sebelumnya mereka harus menyeberangi lautan yang mendidih ini.”

“Disebelah Timur, kira-kira 100 Yojana dari lautan pertama ini terdapat satu lautan lagi dan keadaannya lebih menyedihkan dibandingkan dengan lautan pertama. Lagi di sebelah timur lautan kedua, terdapat satu lautan yang lebih menyedihkan lagi beberapa kali lipat dari lautan kedua!”

“Barangsiapa telah melanggar 3 macam karma (Trikarma), mereka langsung menyebrangi lautan ke alam neraka setelah kehidupan mreka berakhir. Ketiga lautan ini dinamakan Karmasagara.” Demikian Raja Setan menjelaskan.

Selanjutnya putri Brahmana bertanya lagi: “Di mana letaknya neraka itu?”

Jawab Amagdha “Di bawah ketiga lautan ini adalah neraka besar, jumlahnya ratusan ribu dan jenisnya macam-macam. Neraka yang besar berjumlah 18 buah. Yang sedang 500 buah, hukumannya berat sekali dan yang kecil ribuan banyaknya, juga berat hukumanNya.”

Putri Brahmana bertanya pula: “Ibuku juga baru meninggal dunia, entah di mana arwahnya berada.”

Raja Setan bertanya: “Ketika ibumu masih hidup di dunia apa pekerjaannya?”

Putri Brahmana menjawab: “Ibuku berpandangan sesat, suka memfitnah Triratna. Jika dinasehati ia hanya percaya sebentar, kemudian tidak menghormati Triratna lagi. Meskipun ibuku meninggal belum lama, entah di mana ia kini berada.”

“Siapa nama ibumu dan dari suku apa?” Tanya Raja Setan. “Orang tuaku adalah keturunan Brahmana. Ayahku bernama Silasudharsana dan ibuku bernama Vatri.” Jawab Putri Brahmana.

“Setelah Raja Setan Amagadha mendengar nama ibunya lalu beradara (anjali) dan berkata: “Pulanglah sekarang, Bodhisattva yang mulia! Tinggalkan alam yang menyedihkan ini, kembalilah ke tempat asalmu dan mulai sekarang tak usah cemas dan sedih lagi. Sebab tiga hari yang lalu, seorang terhukum di Neraca Avici bernama Vatri telah terlahirkan di alam Surga dan menurut kabar Vatri itu diberkahi oleh putrinya yang amat menyayanginya, yang pernah mengadakan puja-bhakti di vihara serta stupa Buddhapadmasamadhisvararaja. Maka kali ini bukan saja ibunya terbebaskan dari Neraka Avici, akan tetapi penghuni Neraka Avici yang lainnyapun mendapat kebebasan dan dilahirkan di Surga.”

“Setelah Raja Setan Amagadha selesai memberi penjelasan, iapun memberi hormat dengan adara lalu pergi.”

“Putri Brahmana merasa dirinya bagaikan orang yang baru sadar dari mimpi. Setelah mengakhiri samadhinya, ia merasa sangat riang gembira. Karena ia telah mengetahui asal usul dan sebab musabab itu. Kemudian ia kembali lagi ke vihara dan berikrar di depan Buddha rupang Buddhapadmasamadhisvararaja Tathagata: “Aku berjanji, bahwa selama berkalpa-kalpa yang akan datang aku bertekad akan memberikan kemudahan-kemudahan untuk menyelamatkan segala makhluk yang berdosa agar semua dapat membebaskan dirinya dari belenggu kesengsaraan!”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Manjusri Bodhisattva: “Ketahuilah, bahwa yang disebut Raja Setan Amagadha itu kini beliau adalah Bodhisattva Dravyasri. Dan Putri Brahmana itu sekarang adalah Bodhisattva Ksitigarbha.”




Liang Hwang Pao Chan atau Sadhana pertobatan mulia Kaisar Liang adalah suatu sadhana yg legendaris yg disusun pd jaman Dinasti Liang. Kaisar Liang Wu Ti adalah Kaisar Dinasti Liang (di China) yang memerintah antara tahun 502-547. Pada usia 30 tahun Sang Permaisuri wafat. Meskipun telah meninggal beberapa bulan, Sang Kaisar masih bermuram-durja saja baik siang maupun malam. Pada suatu hari, saat sedang di kamar tidur, ia mendengar ada suara berisik di luar. Begitu melihat, ada seekor ular besar sedang bertengger di ruang utama. Sambil menyeringai, ular ini mengerdip-ngerdipkan mata kepada Sang Kaisar. Kaisar menjadi ketakutan, mau lari menyelamatkan diri, apa lacur tiada jalan keluar. Akhirnya ia memberanikan diri berseru kepada ular, "Istana Kaisar dijaga ketat bukan tempat tinggal bagi ular seperti Anda, Anda pasti siluman, apakah ingin mencelakai saya?" Si ular menjawab dengan suara manusia, "Saya adalah permaisuri Anda. Karena semasa hidup suka iri hati, bersifat kejam, bila marah, benda mati maupun hidup tidak luput dari amukan saya. Setelah meninggal, karena dosa-dosa ini terlahir sebagai ular. Tiada makan dan minum, tiada lubang tempat berteduh, hidup serba kekurangan, tidak berdaya. Ditambah lagi setiap sisik saya tumbuh banyak ulat, daging dan otot digigit dan digerogoti, sakit sekali bagai dicungkil pisau. Karena terlahir sebagai ular besar, bukan ular biasa, sehingga memiliki kemampuan khusus dapat menerobos penjagaan ketat istana. Mengetahui Kaisar amat menyayangiku, oleh karena itu menampakkan diri yang buru rupa ini di hadapan Kaisar, memohon bantuan untuk diselamatkan." Setelah itu ular besar ini pun menghilang.


Pada keesokan harinya, Kaisar mengumpulkan sejumlah bhiksu di istana, menceritakan kisah ini, kemudian menanyakan jalan keluar untuk membebaskan permaisuri dari penderitaan. Oleh Bhiksu Pao Ce dikatakan bahwa pengakuan dosa dengan bersujud kepada para Buddha dapat menyelamatkan permaisuri. Sang Kaisar lalu memerintahkan Bhiksu Pao Ce dan bhiksu lainnya membuat kitab pertobatan dosa berdasarkan berbagai kitab suci agama Buddha. Setelah itu menyelenggarakan upacara pertobatan dosa untuk Sang Permaisuri.


Tak lama setelah upacara dilangsungkan, pada suatu hari, istana diliputi wangi yang harum sekali. Secara kebetulan pada saat Sang Kaisar menengadah ke atas, tampak seorang dewa yang amat anggun. Sang Dewa berkata,"Saya adalah jelmaan ular besar. Berkat jasa-jasa Kaisar, saya telah terlahir di alam Trayastrimsa (Surga Tiga Puluh Tiga). Kini menampakkan diri untuk menunjukkan keampuhan pengakuan dosa. Terima kasih banyak." Sesudah berkata demikian, Sang Dewa pun segera menghilang.


Semenjak itu Sadhana Pertobatan ini mulai dikenal secara luas dan dijalankan oleh umat Buddhis Mahayana dalam menjalankan pertobatannya.


Seperti yg termaktub pada awal kitab ini, pembacaan Kitab Pertobatan Dosa Kaisar Liang mempunyai 12 harapan :

1. Semoga makhluk hidup di keenam alam memiliki pikiran luhur yang tiada batasnya.

2. Semoga kebajikan luhur yang tiada batasnya ini dapat membalas jasa semua welas asih yang telah diterima.

3. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup mematuhi sila (moralitas), tidak berpikiran untuk melanggarnya.

4. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup tidak acuh tak acuh terhadap yang patut dihormati.

5. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup, dimana saja mereka berada tidak timbul pikiran dendam atau marah.

6. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup tidak iri terhadap apa saja.

7. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup tidak pelit terhadap apa saja.

8. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup tidak egois terhadap rejeki yang telah diperoleh, tetapi membagikan juga kepada semuga yang tidak terlindungi.

9. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup menjalankan empat perbuatan Boddhisattva bukan hanya untuk diri sendiri saja.

10. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup bila melihat orang sakit-sedih-tiada sanak keluarga timbul pikiran untuk menolong agar mereka memperoleh kebahagiaan.

11. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini bila ada makhluk hidup harus ditundukkan (kebajikan), menjadi tertunduk; bila ada makhluk hidup yang harus diterima, menjadi diterima.

12. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup, dimana saja mereka berada selalu ingat untuk mengembangkan Bodhicitta, membuat Boddhicitta ada terus tiada putus-putusnya.

Rabu, 16 Maret 2016

Chengbeng, Hari membersihkan makam

Cheng Beng (Jernih dan Terang) adalah salah satu festival yang dikenal oleh masyarakat china kuno, konon tradisi ini sudah berumur lebih dari 4000 tahun, beberapa nama yang berkaitan dengan festival Chengbeng seperti hari menyapu kuburan, hari ziarah kubur, hari peringatan musim semi dan hari raya makanan dingin.Di hari ini biasanya orang orang akan bertamasya dan mengunjungi makam leluhurnya, berkeliling kota, mengunjungi danau, bermain layang layang, makan telur & minum arak. sebuah lukisan yang berjudul Qing Ming Shang He Tu (Along the River During the Qingming Festival) oleh Zhang Zeduan dari masa dinasti Song menggambarkan bagaimana keramaian ibukota Kaifeng diwaktu Chengbeng, dimana orang2 keluar rumah menikmati suasana sejuknya musim semi, disepanjang jembatan pedagang menjajakan jajanan khas musim semi.


Cheng Beng sendiri adalah salah satu penamaan posisi matahari dari kalender tionghua. Cheng beng jatuh pada hari ke 104 setelah titik balik matahari dimusim dingin atau hari pertama dari 5 terminologi matahari. Biasanya Chengbeng jatuh pada tanggal 5 april atau 4 april ditahun kabisat 

Festival Chengbeng konon di hubungkan dengan festival makanan dingin (Han Shi Jie), festival ini sudah ada sejak periode musim semi musim gugur dinasti Zhou (771-476 SM). Raja Wen dari Jin yang pertama kali memerintahkan rakyatnya makan makanan dingin pada hari tu. 



Sebelum Raja Wen dari negeri Jin bertahta, dia dikenal sebagai pangeran Chong Er. Karena konflik internal di istana dia terusir dalam pengasingan, dengan beberapa pengikutnya, pangeran Chong Er meninggalkan negeri Jin sebagai pelarian.



Dalam pelariannya, para bangsawan miskin itu kelaparan, sampai meminta makan kepada para petani. Pengikut pangeran Chong Er yang bernama Jie Zhitui menyayat daging pahanya, memasaknya dan menyajikannya kepada pangeran Chong Er. 

 Ketika konflik di istana berakhir, pangeran Chong Er kembali kenegeri Jin dan diangkat menjadi raja Wen. Semua pengikut raja Wen yang setia menemani dalam pelariannya diberi hadiah dan kedudukan kecuali Jie Zhitui, karena Jie Zhitui kembali ke kampung halamannya dan merawat ibunya yang sudah tua. Jie Zhitui memutuskan melayani ibunya daripada hidup di istana. Raja Wen kelihatannya juga melupakan Jie Zhitui.

Seorang menteri menyindir raja Wen dengan mengirimkan puisi yang menceritakan tentang seekor naga yang terluka, naga itu ditolong oleh sekelompok ular. Setelah sembuh, naga itu terbang kelangit, para ular ikut kelangit, tapi satu ekor ular tertinggal dibumi. Setelah membaca puisi itu raja Wen menyadari kesalahannya karena melupakan jasa Jie Zhitui. 

 Raja Wen kemudian mendatangi Jie Zhitui dan memintanya untuk kembali ke istana. Tetapi Jie Zhitui menolak secara halus karena dia ingin merawat ibunya yang sudah tua, kemudian Jie Zhitui menggendong ibunya pergi ke gunung dan tinggal diatas gunung.

 Dengan segala cara Raja Wen meminta Jie Zhitui agar keluar dari hutan. Panglima Raja Wen menyarankan agar membakar hutan agar memaksa Jie Zhitui keluar dari hutan dan dengan paksa membawa  Jie Zhitui dan ibunya menuju istana. Kemudian Raja Wen memerintahkan semua prajuritnya untuk membakar hutan tempat Jie Zhitui bersembunyi.




Api semakin besar, membakar apapun yang ada Raja Wen dan para prajuritnya kebingungan karena api mulai sulit dikendalikan, mereka semua berlari melarikan diri ketika api mulai menyerbu perkemahan mereka.  Setelah api padam, para prajurit menemukan jenasah Jie Zhitui  yang telah hangus memeluk ibunya. Raja Wen sangat menyesal karena ulahnya, dengan tak sengaja dia telah membunuh seorang yang sangat berbakti. Untuk mengenang Jie Zhitui, Raja Wen memerintahkan agar setiap tahun, dihari kematian Jie Zhitui semua rakyatnya dilarang untuk menyalakan api, sehingga mereka hanya dapat makan masakan dingin.




 Ada sebuah tradisi dalam upacara ziarah makam pada saat festival Cheng Beng, yaitu menyebarkan kertas2 lima warna (dibeberapa daerah di Indonesia memakai kertas merang, kertas yang terbuat dari sekam padi berwarna kekuningan) diatas makam yang menandakan bahwa makam leluhur sudah selesai dibersihkan dan disembahyangi.

Ada kisah menarik dibelakang itu, tradisi menyebarkan kertas lima warna dipopulerkan selama masa dinasti Han (206 SM - 220 M). Liu Bang (247 SM - 195 SM) kaisar pertama dinasti Han sejak muda telah meninggalkan kampung halamannya meninggalkan kedua orang tuanya untuk pergi berperang melawan kekaisaran Qin. Setelah menumbangkan dinasti Qin dan mengalahkan rival terberatnya, Xiang Yu, Liu Bang diangkat sebagai kaisar pertama yang berasal dari kalangan rakyat jelata.

Setelah menjadi seorang kaisar, Liu Bang kembali ke kampung halamannya untuk menemui orang tuanya, namun sayang kedua orang tuanya telah lama meninggal dan makam kedua orang tuanya tidak diketahui karena mereka sangat miskin sehingga nisanpun hanya terbuat dari kayu lapuk. Selain itu Liu Bang tidak memiliki sanank saudara di kampung halamannya sehingga tidak ada keluarga yang merawat makam orang tua Liu Bang



Ada 2 versi yang aku ketahui tentang bagaimana Liu Bang menemukan makam kedua orang tuanya:

  1. Liu Bang memerintahkan semua orang, pada saat Cheng Beng selain untuk mengunjungi dan membersihkan makam leluhurnya, setiap makam wajib diberikan kertas berwarna warni untuk menandakan bahwa makam itu sudah disembahyangi dan dibersihkan. Makam yang tidak terawat yang tidak dipasangi kertas warna warni adalah makam kedua orang tua Liu Bang.
  2. Versi dramatisasi dari versi ini adalah Liu Bang menangis dan berkata, "Langit, aku anak yang tidak berbakti. Aku telah menjadi penguasa seluruh daratan tetapi makam kedua orang tuaku pun aku tidak tahu ada dimana..." kemudian dia mengeluarkan kertas warna warni dan melemparkannya ke udara sambil berkata "Tunjukanlah dimana makam kedua orang tuaku agar aku bisa menjadi anak yang berbakti". Ajaib, kertas warna warni itu jatuh di dua buah makam yang tidak terawat, itulah makam kedua orang tua Liu Bang
Kemudian tradisi menyebarkan kertas warna warni menjadi tradisi di ziarah makam Cheng Beng.

Ilustrated & Reteller by: Wang'ZW (Do not copy without my permission)



Sabtu, 02 November 2013

Hong Gil Dong, Robin Hood dari Korea




Hong Gil Dong 洪吉童/홍길동 adalah tokoh legenda masyarakat korea. Kisahnya berasal dari buku Hong Gil dong Jeon 洪吉童傳/홍길동전 (Kisah Hong Gil Dong).

Tao Hua Nii & Zhou Gong 桃花女 与 周公


Ciu Kong/Zhou Gong(adipati Zhou) adalah adik dari Ji Chang (Wen Wang) dan paman dari Ji Fa (Wu Wang) kaisar dinasti Zhou...setelah tua dia pensiun dari jabatannya karena eneg melihat kelakuan kaisar barunya. Di kampung halamannya dia membuka usaha meramal. Walaupun ongkos ramalannya terbilang cukup mahal, ramalannya sangat jitu. Apabila ramalannya meleset, dia akan mengganti 10 kali lipat dari biaya meramal. Suatu hari dia meramal ibu2 yang anaknya (lupa namanya) bakal mati kesamber gledek. Tidak bisa mencari jalan keluar ibu tadi tersesat hingga kesebuah rumah besar. Dia bertemu dengan Tao Hua Nii/Tho Hua Li. Tho Hua Li yang baik hati menolong si ibu agar putranya selamat dari mati kesamber gledek. Ternyata Ciu Kong punya buku yang bisa mengetahui masa depan seseorang, sedangkan Tho Hua Li punya buku kunci jawabannya. jadi bila Ciu Kong meramal ada orang bakal mati kesamber gledek, hanya Tho Hua Li yang bisa membantu orang itu menghindari mati kesamber gledek...

Senin, 28 Oktober 2013

Gilgamesh dan Enkidu


Gilgamesh, Raja setengah dewa dari Mesopotamia awalnya dikenal sebagai raja yang jahat. Dia memaksa rakyatnya membangun tembok istana Uruk yang kokoh untuknya. Para dewa membuat Enkidu, manusia liar dari tanah liat untuk mengalahkan Gilgamesh. Setelah dirayu dan dijinakkan oleh Shamhat sang perawan kuil, Enkidu berangkat untuk menaklukan Gilgamesh.

Selasa, 16 Oktober 2012

Mandarin Square


Mandarin Square / Bu Zi补子
Adalah hiasan pada jubah yang dipakai oleh para pejabat pada masa dinasti Ming dan Qing. Bu Zi berbentuk kotak dan terletak didepan dada, dibordir dan memiliki bermacam2 gambar hewan sebagai lambang pangkat untuk para pejabat.

Rabu, 26 September 2012

Kisah Meng Jiang Nii 孟姜女 meruntuhkan tembok besar


Pada masa dinasti QIn, kaisar Qin Shi Huang Di berambisi membangun sebuah tembok raksasa untuk mencegah bangsa2 barbar dari utara masuk kedaratan. Dia memerintahkan ribuan rakyatnya sebagai pekerja bangunan. Suami Meng Jiang Nii dipaksa menjadi pekerja yang membangun tembok besar ketika malam pertama mereka menikah. Selama bertahun2 Meng Jiang Nii melakukan pencarian suaminya ditembok besar, menanyai satu persatu para pekerja apakah mereka melihat suaminya. Suatu saat dia mendengar kabar bahwa suaminya telah meninggal karena dijadikan pilar manusia, yaitu tumbal agar bangunan menjadi kokoh dan dilindungi dari roh jahat.

Rabu, 22 Agustus 2012

TaoTie 饕餮


TaoTie 饕餮 dianggap sebagai anak naga dari 9 anak naga. Tao Tie digambarkan sebagai naga yang rakus dan memakan segalanya. Konon dia hanya memiliki 3 kaki, mulutnya sangat besar yang sanggup menelan apa saja.

Asal usul Naga Long/Liong 龙


Adalah makhluk mitologi china kuno yang sangat dihormati oleh orang China dan dianggap sebagai manisfestasi leluhur, hingga ada sebuah istilah "Long De Chuan Ren" yang berarti garis keturunan sang naga.

Kamis, 28 Juni 2012

San Huang Wu Di


San Huang Wu Di三皇五帝/Three Sovereigns and Five Emperors (3 penguasa dan lima kaisar)
Sebelum ditemukannya tulisan dan pencatatan sejarah oleh ahli sejarah pada dinasti Xia-Shang, terdapat suatu masa dongeng yang diyakini dipimpin oleh para raja2 dan kaisar2 kuno yang mendapat titah langsung dari langit untuk membimbing orang Hua Xia (China kuno).

Senin, 25 Juni 2012

Xuan Zhang玄奘, Sang Bhiksu Pengelana



Pendeta Tong (602~664 M) yang kita kenal dalam cerita "Xi You Ji" "Perjalanan ke Barat" adalah tokoh sejarah Dinasti Tang dalam peranannya sebagai pendeta Buddhis. Ia terkenal bukan hanya sebagai seorang agamawan, namun juga pengelana dan penerjemah termashyur di masanya. Ia lahir di Luo Jhou, sekarang di propinsi Henan dengan nama Chen Hui, anak keempat dari seorang terpelajar yang menjabat sebagai pejabat bupati Kabupaten Jiang Lin. Untuk selanjutnya, namanya terkenal dengan nama Buddhis-nya Xuan Zhang玄奘, Tang Xuan Zhang 唐玄奘, Tang San-zang 唐三藏/Tong Sam-cong(San Zang berati Tripitaka dalam bahasa mandarin). Perlu diketahui Xi You Ji adalah novel yang ditulis oleh Wu Cheng-en dari Dinasti Ming. Jadi, novel tadi sebenarnya cuma berlatar belakang sejarah, namun bukanlah sejarah kehidupan pendeta Tong itu sendiri.

Rabu, 13 Juni 2012

Shield Maiden



Shield Maiden (harafiah: Gadis/perawan yang memakai perisai) adalah para pejuang wanita dalam kisah rakyat maupun dalam mitologi Skandinavia. Konon para Valkyrie didasarkan dari para shield maiden. Bangsa nordik terkenal dengan keberaniannya dalam bertarung, demikian pula para wanitanya, tak jarang mereka ikut para pria untuk berperang. Kisah2 kepahlawanan para shield maiden sering diceritakan dalam saga seperti Hervarar Saga danGesta Danorum.

Pellet Bow / Pebble Bow



Pellet Bow / Pebble Bow 弹弓[彈弓] dàngōng (Ketapel/slingshot) adalah salah satu panah tradisional China. alih-alih memakai anak panah, pellet bow memakai bola tanah liat/kerikil atau bahkan logam sebagai anak panahnya membuatnya mirip seperti ketapel ketimbang panah.

Rahasia kekuatan pasukan Mongol



Menurut kisah2 yang diceritakan, pasukan mongol dibawah kekuasaan Temujin (Jengis Khan) merupakan pasukan yang sangat kuat dan sulit untuk dikalahkan. Legenda mengatakan bahwa pasukan Mongol seperti setan yang kebal terhadap panah. Ketika terpanah, para prajurit mongol masih dapat bertarung. Diatas kuda mereka, pasukan mongol tak terkalahkan.

Apa yang menjadi rahasia mereka?

Minggu, 10 Juni 2012

Elixir keabadian dari Alkemi China



Namanya Chang Sheng Bu Lao You (Harafiah : Obat panjang umur yang tidak menambah tua), lebih dikenal dengan sebutan Jin Dan (Pil Emas) karena berwarna emas, konon menurut sejarah dibuat dengan campuran merkuri, arsenik, dan bahan2 kimia lain. Campuran yang dihasilkan menjadi berwarna emas.

Senin, 28 Mei 2012

Mesir pra pendudukan bangsa Arab


Bagaimana kalian memanggil orang yang tinggal ditanah mesir? orang mesirkah? atau orang arab, karena mereka memakai bahasa arab bukannya bahasa mesir.

Minggu, 22 April 2012

Marga Wang | Ong | Wong



Wang 王 adalah salah satu marga terbesar di Tiongkok. Wang, Wong dan Ong yang dimaksud adalah dari karakter yang sama yaitu menunjuk kepada karakter "Raja". Wang adalah bahasa Mandarin, Wong adalah dialek Kanton dan Ong adalah dialek Hokkian.

Menurut People Daily , catatan sejarah menunjukkan Ji Jin , anak dari Raja Ling di masa Zhou Timur (770-221 SM) diturunkan statusnya menjadi orang biasa karena nasihat jujurnya dan kemudian meninggal dalam depresi. Anaknya , Zongjing membawa keluarganya untuk menetap di Taiyuan. Pada masa itu , rakyat menganggap mereka sebagai keluarga raja dan pada akhirnya keluarga itu mengambil Wang sebagai marga mereka. Di masa Dinasti Qin dan Dinasti Han , seluruh keturunan dari Ji Jin ter-integrasi kedalam marga Wang. Terlepas dari keluarga Wang di Taiyuan , keturunan Raja Wen dan Raja Wu dari Dinasti Zhou juga mengambil marga Wang sebagai marga berkaitan dengan pergantian dinasti. Dalam perjalanan sejarah berikutnya grup etnis lain juga ada yang mengadopsi marga Wang

Siasat Zhu Ge Liang untuk menyingkirkan Guan Yu



Di Tiongkok sering ada seminar2 besar maupun kecil oleh sejarahwan yang membahas kembali sejarah faktual Samkok. Analisis2 baru yang muncul sering kontroversial seperti Zhuge Liang tidaklah sesempurna dan sebijak yang dibayangkan kita seperti yang dilukiskan dalam roman Samkok oleh Luo Guan-zhong, melainkan seorang yang licik dan dengki.

Minggu, 25 Maret 2012

Egyptian Book of the Dead_Buku Kematian orang Mesir



Book of the Dead, Kitab Kematian, adalah nama umum bagi teks tentang penguburan Mesir kuno yang dikenal sebagai The Book of Coming or Going Forth By Day. Nama “Book of the Dead diberikan oleh seorang Egyptologist Jerman, Karl Richard Lepsius, yang menerbitkan teks pilihan dari beberapa teks itu pada tahun 1842.
Teks itu awalnya diukir pada bagian luar sarkofagus, tetapi kemudian ditulis di papirus dan dikuburkan dalam sarkofagus bersama-sama si mati. Teks-teks lain sering menyertai teks utama, termasuk hypocephalus (berarti ‘di bawah kepala’) yang merupakan versi primer dari keseluruhan teks.

Book of the Dead merupakan kumpulan mantra, tenung, sandi, nomor dan formula ajaib untuk digunakan si mati almarhum di akhirat. Hal ini menggambarkan prinsip dasar dari mitologi Mesir.
Teks-teks itu dimaksudkan sebagai pemandu bagi orang mati dalam melalui berbagai cobaan sebelum mencapai akhirat. Pengetahuan tentang mantra yang tepat dianggap penting untuk mencapai kebahagiaan setelah kematian. Mantra atau tenung dalam teks-teks itu berbeda, tergantung pada keunggulan dan faktor kelas sosial.
Book of the Dead biasanya digambarkan dengan gambar-gambar yang menunjukkan cobaan yang akan dihadapi almarhum. Anubis, konon, akan menimbang hati orang yang meninggal. Dan, dalam penimbangan tersebut, bulu dewi Ma’at atau dewi kebenaran menjadi pembandingnya. Jika lebih ringan dari bulu itu, berarti hati si mati tidak dibebani dosa sehingga diperbolehkan untuk melanjutkan perjalanan. Dewa Thoth kemudian akan mencatat hasilnya sementara raksasa Ammit akan menunggu di dekatnya untuk memakan hati si mati guna membuktikan layak tidaknya si mati untuk meneruskan perjalanan.
Versi teks paling awal yang diketahui berasal tanggal dari abad ke-16 SM atau saat pemerintahan Dinasti ke-18 (1580 SM-1350 SM). Sebagian dimasukkan ke dalam dua koleksi literatur keagamaan Mesir sebelumnya, yaitu Teks Coffin (2000 SM) dan Teks Piramida (2600 SM-2300 SM). Keduanya pun akhirnya digantikan oleh Book of the Dead.
Catatan: Perlu diketahui, bahwa Book of the Dead yang memuat tentang Ani, Papirus Ani, pada awalnya setebal 78 ft. Lalu, dipisahkan menjadi 37 lembar serta disesuaikan dengan baba dan topiknya.
Berikut ini merupakan versi warna indah dari Papirus Ani, salah satu Book of the Dead yang sering dikuburkan bersama orang mati. Tampak dalam gambar, Ani (pria dengan istrinya membungkuk kepada para dewa). Sementara itu, Anubis menimbang hatinya, dewa Thot mencatat acara dan Ammit menunggu dengan sabar.
Ada beberapa buku EW Budge yang berisi tentang papirus tersebut. Tapi, versi Faulkner lebih baik dan lebih indah.
Arkeolog menemukan papirus tersebut di pemakaman Nany (NAH-nee), seorang wanita berusia tujuhpuluhan. Ia seorang chantress (penyanyi ritual) dewa Amun-Re dan disebut sebagai “Putri Raja” [mungkin berarti ia putri dari pendeta tinggi Amun dan raja tituler, Pinodjem I].
Seperti kebiasaan yang berlangsung selama Periode Menengah Ketiga, peti mati dan kotak shawabtis (simbol akhirat) wanita itu disertai oleh seorang figur Osiris yang terbuat dari kayu berongga. Figur Osiris itu berisi gulungan papirus yang bertuliskan kumpulan teks Book of the Dead. Panjangnya, lebih dari tujuh belas kaki ketika digulung. Sementara itu, inskripsi hieroglif ditulis oleh seorang juru tulis dan ilustrasi dilukis oleh seniman.
Gambar adegan menunjukkan klimaks dari perjalanan ke alam baka. Nany berada di aula pengadilan akhirat. Sambil memegang mulut dan matanya, ia berdiri di sebelah kiri neraca besar. Hatinya sedang ditimbang dan dibandingkan dengan bulu yang terikat di kepala dewi Ma’at [direpresentasikan dengan sosok mungil memakai bulu di kepalanya]. Di sebelah kanan, dengan mahkota tinggi dan jenggot melengkung, Osiris, dewa akhirat dan reinkarnasi tengah duduk memimpin acara penimbangan. Di depannya mengonggok daging sapi.
Anubis mengatur neraca ketika dewa Thot, dewa kebijaksanaan yang dilambangkan dengan babon, duduk di atas balok keseimbangan dan bersiap untuk menuliskan hasil penimbangan. Di belakang Nany berdiri dewi Isis, saudara perempuan Osiris. Ia diidentifikasi oleh hieroglif di atas kepalanya.
Pengadilan yang terdiri dari empatpuluh dua dewa menanyai Nany tentang perilakunya semasa hidup. Ia menjawab negatif atas setiap pertanyaan yang diajukan―sering disebut pengakuan negatif.
Dalam adegan ini Nany dinyatakan benar sehingga layak masuk akhirat. Hatinya tidak lebih berat dari gambar dewi Ma’at. Anubis berkata kepada Osiris, “Hatinya adalah saksi yang akurat,” dan Osiris menjawab, “Berikan kepadanya mata dan mulutnya, karena hatinya adalah saksi yang akurat.”
Pada gambar horisontal di bagian atas menceritakan kemunculan Nany muncul dalam tiga babak: menyembah palet ilahi, memuji patung Horus dan berdiri di samping makam sendiri.

diambil dari:
mamanunung.wordpress.com

Cara Membuat Mumi



Pengeluaran Otak
Mula-mula, orang Mesir mengeluarkan otak mayat terlebih dahulu. Saat itu, orang Mesir belum mengetahui betapa pentingnya fungsi otak. Cara pengeluarannya bermacam-macam. Salah satu caranya adalah membuka lempengan tengkorak mayat, mengeluarkan otaknya, lalu menutupnya kembali. Cara ini agak berbahaya karena mereka harus memasang lempengan tengkorak sesuai tempatnya sebelumnya
Cara lain yg lazim dipakai adalah memakai semacam kawat dengan ujung mirip kail yg bengkok di ujungnya. Kawat itu dimasukkan ke dalam hidung & masuk ke otak menembus langit-langit hidung & syaraf penciuman. Bila sudah sampai ke otak, mereka akan menarik ulur kawat itu maju mundur, seperti orang yg mengaduk adonan. Karena otak itu hancur akibat gerakan kawat, maka otak itupun akan mengalir ke luar tubuh melaluilubang hidung. Untuk memudahkan proses pengaliran keluar cairan otak, mereka membaringkan mayat iu dalam posisi tengkurap. Untuk mengambil caian yg masih tersisa di hidung, mereka menggunakan semacam sendok untuk mengambil cairan otak
Proses pengeluaran otak biasanya memakan waktu sampai 2 hari. Jika sudah, maka para embalmers (pembuat mumi) memasukkan kain linen ke dalam rongga otak mayat melalui lubang yg sudah ada. Mereka juga memasukkan semacam resin/getah (biasanya damar) ke dalam rongga otak untuk mencegah rusaknya linen di dalam

Pengeluaran Organ Tubuh
Para embalmers akan membuat sayatan di tubuh calon mumi, biasanya di daerah perut sebelah kiri. Mereka kemudian mengeluarkan organ-organ dalam tubuh seperti usus, hati, paru-paru, & lambung. Sebabnya adalah karena organ-organ tersebut merupakan organ-organ yg mudah membusuk. Akan tetapi, mereka tidak mengeluarkan jantung jenazah. Hal ini karena orang Mesir percaya jantung merupakan sumber nyawa bagi manusia & jiwa seseorang masih tinggal di badannya walaupun ia sudah mati. Karena itu mereka berpikir jantung penting bagi orang Mesir untuk kehidupan sesudah kematian
Organ-organ dalam tadi kemudian dimasukan kedalam 4 buah guci. Guci-guci tersebut melambangkan 4 anak Dewa Horus, mereka adalah :
Imsety berwujud manusia lelaki, melindungi hati dan dilindungi juga oleh Isis
Hapi berwujud baboon, melindungi paru-paru dan dilindungi juga oleh Nephthys
Duamutef berwujud anjing jackal, melindungi usus dan dilindungi juga oleh Neith
Qebehsenuef berwujud elang, melindungi lambung dan dilindungi juga oleh Serket.
Guci-guci itu nantinya juga disertakan dikuburan mumi.



Pengawetan
Fase selanjutnya setelah mengeluarkan organ-organ tubuh - kecuali jantung - dari tubuh jenazah adalah mengawetkan bagian dalam tubuh. Untuk melakukannya, mereka akan mencuci/membasuh isi tubuh sang jenazah dengan cairan natron & anggur. Natron adalah nama semacam senyawa campuran garam & soda yg biasa ditemukan di oasis Natrun, dekat Kairo. Jika sudah dibasuh, maka tubuh yg sudah dibersihkan dengan natron ini akan diberi natron padat. Tujuannya adalah agar tubuh jenazah mengering & siap untuk diawetkan lebih lanjut. Untuk mengawetkan bagian luar tubuh jenazah, mereka akan menaburinya dengan bubuk natron. Jika tidak ada natron, maka embalmers akan menggantinya dengan garam
Usai pengawetan tahap pertama, embalmers akan mendiamkan jenazah selama 40 hari di atas semacam meja batu. Tujuannya adalah agar seluruh cairan dalam tubuh jenazah mengering akibat pengaruh natron. Terkadang, selama proses ini ada bagian tubuh dari jenazah, semisal jari tangan, yg terlepas akibat proses pembusukan yg sudah lama sejak sebelum pengawetan. Bila bagian tubuh tersebut tidak bisa lagi "dipertahankan", embalmers akan menggantinya dengan benda-benda lain semisal kain linen, kayu, atau emas sebagai pengganti bagian tubuh yg hilang. Yg terpenting, tubuh jenazah yg akan diawetkan harus memiliki anggota tubuh lengkap

Pemumian/Pembalutan
Setelah melalui fase pengeringan, tubuh jenazah tidak langsung dibalut. Tubuh jenazah akan dibersihkan lagi & melalui lubang sayatan tadi, tubuh jenazah akan diisi dengan lebih banyak natron, kain linen, rempah-rempah, dsb. Jika sudah, perut jenazah kemudian akan dijahit kembali agar tertutup. Tubuh mumi selanjutnya akan dibaluri dengan getah damar & minyak wangi. Setelah itu, barulah tubuh mumi dibalut dengan kain linen yg amat panjang. Jimat-jimat pelindung juga disisipi ke dalam balutan-balutan tersebut seperti Egyptian Book of The Dead. Embalmers juga membuatkan semacam mahkota & topeng yg mirip dengan wajah jenazah semasa masih hidup untuk mumi. Topeng ini dibuat dari semacam bahan yg disebut papier marche, namun ada juga yg terbuat dari lempengan emas murni, seperti topeng Firaun Tutankhamon

Pemetian & Penguburan
Mumi yg sudah jadi akan dimasukkan ke dalam peti mati. Terkadang, peti yg dipakai bisa sampai beberapa buah dengan ukuran berbeda-beda untuk satu mumi, sehingga mumi seolah-olah seperti masuk dalam peti yg berlapis-lapis. Peti ini biasa terbuat dari batu. Mumi yg sudah dimasukkan ke dalam peti kemudian dimasukkan ke dalam sarkofagus, semacam peti mati khusus yg dihiasi ukiran-ukiran & seingkali terbuat dari emas murni. Proses pembuatan mumi seperti ini hanya bisa dilakukan oleh raja-raja, bangsawan, atau orang kaya. Untuk orang biasa, proses pembuatan mumi sama seperti di atas, namun mereka tidak mengeluarkan isi perut mereka & tanpa memakai rempah-rempah atau minyak wangi yg mahal. Mumi orang biasa juga tidak dimasukkan ke dalam sarkofagus atau peti yg banyak, namun hanya dengan peti kayu sederhana
Pada raja-raja, sarkofagus ini selanjutnya akan dikuburkan ke dalam piramid. Dalam ruangan tempat menyimpan sarkofagus juga dilengkapi dengan perhiasan atau benda-benda berharga yg amat mahal semisal emas, karena mereka percaya jiwa orang mati tetap berada di dalam mumi & mereka akan senang bila ada benda-benda kesenangan mereka di dekatnya. Karena itulah, ada banyak pemburu harta karun yg mengincar harta mumi ini (rata-rata para pemburu harta ini justru adalah orang yg ikut terlibat dalam pembuatan mumi & piramid karena piramid itu dilengkapi labirin yg ruwet & tidak sembarangan orang bisa masuk & keluar dengan selamat tanpa terjebak)
Pada orang biasa, peti berisi mumi hanya dikuburkan begitu saja seperti prosesi penguburan biasa & pada orang-orang kaya/bangsawan, peti berisi mumi itu akan dikuburkan secara biasa, namun di atas kuburannya diberi semacam kubah besar. Sebelum pembuatan mumi dikenal,orang Mesir hanya menguburkan jenazah begitu saja ke dalam lubang di gurun. Kondisi gurun di Mesir yg amat panas & kering menyebabkan terjadinya proses pengawetan secara alamiah
Sedikit tambahan, para ahli percaya bahwa bentuk geometris piramid berupaa limas yg mengerucut di atasnya memiliki kemampuan untuk mengumpulkan semacam gelombang-gelombang elektromagnetik yg membantu proses pengawetan benda-benda organik di alamnya & menjaga kestabilan metabolisme makhluk hidup. Seorang ahli konon pernah mencoba menaruh daging ke dalam miniatur piramid & setelah beberapa hari, daging tersebut tidak membusuk. Hal lain seputar piramid yg masih menjadi misteri adalah pada Piramida Giza, piramida terbesar di dunia, setiap sudut di pondasi piramid menghadap ke 4 penjuru mata angin yg berbeda secara tepat alias tanpa melenceng. Belum ada yg tahu pasti kenapa
Menurut para ahli, total waktu pembuatan mumi pada raja-raja atau orang-orang elit memakan waktu 70 hari, yaitu 40 hari untuk pengeringan tubuh mumi dan 30 hari untuk membungkusnya