Tampilkan postingan dengan label Hindu dan Buddha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hindu dan Buddha. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Agustus 2021

ULAMBANA (Zhong Yuan Jie)

 Zhong Yuan Jie awalnya berasal dari tradisi umat taoisme dimana dihari itu adalah hari kebesaran dari Di Guan (penguasa bumi, salah satu dari San Guan Da Di) yang bertugas memberi pengampunan dosa manusia. Sedangkan oleh sebagian besar masyarakat tionghua biasa disebut sebagai Gui Jie (Cioko/bulan hantu) yang menurut kepercayaan, pintu gerbang alam baka dibuka selama satu bulan agar semua leluhur dapat kembali kedunia manusia untuk menemui keturunannya. Zhong Yuan Jie juga bias disebut sebagai Qi Yue Ban (pertengahan bulan ketujuh) karena memang Zhong Yuan Jie jatuh dibulan 7 penganggalan imlek.

Umat buddhis juga memperingati Zhong Yuan Jie yang biasa disebut sebagai Ulambana dan biasanya dalam upacara ulambana juga terdapat upacara ChaoDu (penyeberangan arwah). Asal usul Ulambana tidak bisa dipisahkan dari kisah Maha Maudgalyayana yang menolong ibunya dari siksa neraka. Selain itu ada kisah2 buddhis yang berkaitan erat dengan bakti seorang anak yang menolong ibunya dari siksa neraka. Biasanya kisah2 anak berbakti itu menjadi dasar pembuatan sutra buddhis tentang penyeberangan arwah seperti kisah putri Brahmana dan kaisar Liang.


Maha Maudgalyayana(Moggalana) menolong Ibu
Pada zaman dulu, ada seorang Bikkhu yang bernama Maha Moggalana. Ia merupakan salah seorang dari 10 Murid Utama Sang Buddha Gautama. Maha Moggalana adalah murid Sang Buddha dengan kesaktian no. 1 (di bawah Sang Buddha).

Maha Moggalana pada suatu ketika, dengan mata bathinnya melihat ibunya yang telah meninggal dunia, berjalan bersama dengan sekelompok hantu kelaparan. Dengan maksud menolong ibunya, lalu ia mengisi nasi ke dalam sebuah mangkok, untuk memberi makan ibunya. Siapa sangka, begitu nasi akan disuapkan ke mulut ibunya, nasi tersebut berubah menjadi bara api yang panas membara. Maha Moggalana dengan menggunakan kesaktiannya mencoba berkali-kali, tapi setiap kali hendak masuk ke mulut ibunya, nasi tersebut berubah menjadi bara api.

Maha Moggalana terkejut luar biasa, lalu kembali dan melapor kepada Sang Buddha Sakyamuni. Sang Buddha berkata kepadanya : "Dosa ibu kamu terlalu berat, hanya dengan kekuatan kamu 1 orang, tidak bisa membebaskan penderitaan ibu kamu!".

Lalu Maha Moggalana berlutut di lantai, memohon kepada Sang Buddha sambil berlinang air mata : Mohon Buddha memberi petunjuk, bagaimana baru bisa menolong ibu saya agar terbebas dari lautan penderitaan, dan tidak bersama dengan para hantu kelaparan itu lagi.

Melihat usaha Maha Moggalana yang bersungguh hati ingin berbakti dan membalas budi orang tuanya, maka dengan penuh Maha Maitri Karuna (Welas Asih) dan Maha Prajna (Bijaksana), Buddha Sakyamuni memberikan petunjuk kepada siswanya agar ia memberikan dana paramita kepada Para Arya Sangha dan setelah itu memohon Arya Sangha mengadakan suatu upacara guna menolong meringankan penderitaan ibundanya.

Sang Buddha menjawab : Mengenai hal ini, membutuhkan kekuatan para Bikkhu di 10 penjuru, begitu sampai Hari Raya Tiong Gwan Cwe ini, mewakili orang tua dari 7 generasi, dan orang tua sekarang yang berada dalam bencana /malapetaka, mempersiapkan bermacam-macam sayur dan buah-buahan, untuk dipersembahkan kepada Yang Berkebajikan di 10 penjuru, setiap orang berbuat kebajikan, di saat ini barulah bisa membebaskan penderitaan semua hantu kelaparan.

Maha Moggalana merasa amat gembira dan dengan penuh rasa bakti segera melaksanakan petunjuk Gurunya. Ia mempersembahkan dana paramita dari hasil Pindapatta-nya kepada para Sangha, dan kemudian memohon para Arya Sangha mengadakan suatu upacara penyaluran jasa untuk menolong ibundanya.

Setelah menerima dana paramita dari Arahat Moggalana, para Arya Sangha kemudian mengadakan upacara dengan membaca mantra, dharani dan ayat-ayat kitab suci, yang mana semua jasa dan pahala dari upacara ini disalurkan kepada ibunda Arahat Moggalana dan juga kepada makhluk-makhluk lain di tiga alam sengsara.

Sewaktu upacara dilaksanakan, terjadilah berbagai keajaiban, api neraka menjadi padam, segala penderitaan berubah menjadi kegembiraan dan kedamaian, makhluk-makhluk di alam Neraka setelah menerima getaran suci hasil pembacaan dharani tersebut, terbebaslah mereka dari penderitaannya.

Ibunda Maha Moggalana segera tertolong dan tumimbal lahir di alam yang lebih baik, begitu pula makhluk-makhluk di tiga alam sengsara lainnya, ikut menikmati hasil jasa dan pahala dari diadakannya upacara ini, sehingga merekapun dapat tumimbal lahir ke alam lain sesuai dengan kondisi karmanya.


Ksitigarbha Bodhisattva Purva Pranidha Sutra Bab 1
...........
Lagi pada masa lampau beberapa Asankhyeya-Kalpa yang tak terhitungkan, ketika itu terdapat seorang Buddha yang bernama BUDDHA PADMASAMADHISVARARAJA Tathagata, usiaNya mencapai 4 juta koti Asankhyeya Kalpa. Pada masa Saddharma-pratirupaka terdapat seorang putri Brahmana, yang banyak menanam benih kebajikan pada masa kehidupan yang lampau, sehingga kini ia selalu mendapat pujian orang sekitarnya. Di manapun ia berada, apapun yang dilakukannya selalu mendapat perlindungan para dewa. Tapi ibunya menganut ajaran sesat, selalu memfitnah Triratna. Sementara itu putri suci itu dengan berbagai kemudahan-kemudahan menasehati ibunya, supaya mendapatkan pandangan yang benar. Akan tetapi ibunya belum lagi percaya sepenuhnya, sudah ditinggal mati. Arwahnya jatuh ke dalam neraka Avicci. Putri Brahmana itu mengetahui betul bahwa ibunya semasa hidupnya tidak percaya kepada hukum sebab akibat, diperkirakan ibunya akan mengikuti karmanya, niscaya terjatuh ke dalam alam sengasara. Demi menyelamatkan ibunya yang malang itu secepat mungkin, Putri Brahmana itu menjual rumah kediamannya. Kemudian dari hasilnya ia tukar dengan dupa dan bermacam-macam bunga segar serta berbagai alat pujaan lain. Lalu sajian-sajian itu dipersembahkan di vihara-vihara untuk mengadakan puja-bhakti secara khidmat kepada Buddha di masa lampau.”

“Ketika itu putri Brahmana di vihara itu melihat Buddharupang Buddhapadmasamadhisvararaja Tathagatha yang agung megah, hal itu membuatnya lebih menghormat dan mengagumiNya. Seraya berkata dalam hatinya, bahwa Buddha ini memiliki gelar yang “Maha Sadar”, memiliki Sarvajna (kebijakan luhur). Jika saja beliau masih berada di dunia ini aku akan memohon beliau untuk menunjukkan di alam mana ibuku berada setelah ia meninggal dunia, pastilah beliau mau memberitahuku.”

“Pada saat putri Brahmana sedang bersedih dan lama sekali berdiri di depan Buddha rupang tersebut, tiba-tiba terdengar suara dari langit: “Putri yang berbudi, janganlah terlalu bersedih hati. Sekaranga aku akan menunjukkan tempat ibumu berada. Mendengar suara tersebut segeralah putri Brahmana itu mengatupkan kedua telapak tangannya ke arah langit seraya berkata: “Dewa berbudi manakah menghibur hatiku yang duka lara. Sejak ditinggalkan ibu tersayang, siang dan malam aku selalu merindukannya. Entah kepada siapa aku harus bertanya, di alam mana ibuku berada. “Kemudian dtang lagi suara dari langit: “Aku adalah Buddhapadmasamadhisvararaja Tathagata, seorang Buddha masa lampau yang sedang engkau puja. Melihat engkau merindukan ibu melebihi kesedihan umat-umat lain, maka aku datang untuk memberi tahu.”

“Putri Brahmana sangat terharu mendengar sabda Buddha tersebut, lalu ia menyembah dengan sekuat tenaga, sekujur tubuhnya mendekap tanah sehingga anggota badannya terluka dan iapun pingsan. Setelah ditolong orang sekitar vihara itu lama kemudian baru siuman kembali. Lalu ia menengadah ke langit sambil berdoa dan berkata, “Kasihanilah aku Buddha yang termulia, katakanlah segera di alam mana ibuku berada. Sebab jiwa ragaku tak lama lagi akan mati.” “Buddhapadmasamadhisvararaja Tathagata memberi tahu putri Brahmana: “Putri yang berbudi, setelah puja-bhaktimu ini selesai, cepatlah kembali ke rumahmu. Kemudian duduklah bersila di dalam kamar yang bersih dan pusatkanlah pikiranmu, lalu renungkanlah namaku terus menerus, lalu engkau dapat mengetahui di alam mana ibumu berada!”

“Setelah mendengar sabda tersebut Putri Brahmana merasa amat gembira dan lega, bergegas ia memberi hormat kepada Tathagata tersebut lalu pergi. Setiba di rumahnya putri Brahmana duduk bersila dan dengan sepenuh hati merenungkan nama Buddhapadmasamadhisvararaja dengan cara meditasi selama satu hari satu malam.”

“Dalam samadhinya, putri Brahmana itu merasa dirinya berada di pantai laut, air laut nampak bergelora. Banyak binatang buas yang berbadan baja berkejar-kejaran di tengah laut. Di sana juga terdapat ratusan ribu orang, laki-laki dan perempuan. Mereka timbul tenggelam di dalam air laut itu, sebagian dimangsa binatang buas yang ada di situ. Tak berapa lama, datanglah bermacam-macam setan Yaksa, ada yang bertangan banyak, yang bermata banyak, berkaki banyak, berkepala banyak, atau yang taringnya setajam pedang. Mereka berbondong-bondong mengusir orang hukuman itu menuju ke kelompok binatang buas di situ; sebagian setan Yaksa beramai-ramai menangkap orang tersebut, lalu menekuk kepala dan kaki, lalu menggulungnya menjadi gumpalan atau menarik tubuh orang tersebut hingga panjang sekali, atau mematahkan seluruh tulangnya atau menyobek-nyobek dagingnya hingga mati, kemudian mayatnya dibuang ke dalam laut. Tingkah laku mereka sangat kejam, sungguh sangat menakutkan sehingga tak ada seorang pun yang sanggup memandangnya lama-lama. Namun putri Brahmana itu tidak takut sedikitpun. Karena ia telah memuliakan nama Buddhapadmasamadhisvararaja Tathagata.”

“Saat itu datang seorang raja Setan yang bernama Amagadha menyambut putri Brahmana dengan penuh sujud seraya berkata, “Sadhu, Bodhisattva yang mulia! Ada apa gerangan datang ke alam ini ?”

Putri Brahmana bertanya kepada raja Setan: “Apakah nama alam ini? “Ini adalah Maha Cakravada, lapisan laut pertama di sebelah Barat.” Jawab raja Setan.

Putri Brahmana bertanya pula: “Benarkah di tengah-tengah Maha Cakravada terdapat alam Neraka?”

“Betul. Alam neraka persis ditengah-tengahny.” Jawab raja Setan.

“Raja Setan yang budiman!Katakanlah mengapa aku dapat mengunjungi alam neraka ini? Tanya putri Brahmana lagi.

Raja Setan Amagadha menjawab: “Engkau datang ke alam Neraka ini jika bukan karena kekuatan gaib, pastilah karena karma buruk.”

Tanpa salah satu sebab tersebut, sulit datang berkunjung ke alam neraka ini.

Putri Brahmana bertanya kembali: “Mengapa air laut itu mendidih dan di dalamnya banyak orang yang bersalah dan binatang buas?”

Raja Setan Amagadha menjawab: “Orang-orang tersebut datang dari dunia Jambudvipa, mereka mempunya karma berat dan baru meninggal dunia. Tapi selama 49 hari ini tiada seorangpun yang membuat jasa-jasa kebajikan untuk disalurkan kepada mereka, untuk menyelamatkan mereka. Sewaktu mereka berada di dunia, mereka enggan menanam benih kebaikan: Maka tanpa membawa suatu apapun kecuali karma beratnya, kini mereka harus menanggung hasil perbuatannya dan sesuai dengan hukum karma, mereka terjerumus ke alam kesedihan. Sebelumnya mereka harus menyeberangi lautan yang mendidih ini.”

“Disebelah Timur, kira-kira 100 Yojana dari lautan pertama ini terdapat satu lautan lagi dan keadaannya lebih menyedihkan dibandingkan dengan lautan pertama. Lagi di sebelah timur lautan kedua, terdapat satu lautan yang lebih menyedihkan lagi beberapa kali lipat dari lautan kedua!”

“Barangsiapa telah melanggar 3 macam karma (Trikarma), mereka langsung menyebrangi lautan ke alam neraka setelah kehidupan mreka berakhir. Ketiga lautan ini dinamakan Karmasagara.” Demikian Raja Setan menjelaskan.

Selanjutnya putri Brahmana bertanya lagi: “Di mana letaknya neraka itu?”

Jawab Amagdha “Di bawah ketiga lautan ini adalah neraka besar, jumlahnya ratusan ribu dan jenisnya macam-macam. Neraka yang besar berjumlah 18 buah. Yang sedang 500 buah, hukumannya berat sekali dan yang kecil ribuan banyaknya, juga berat hukumanNya.”

Putri Brahmana bertanya pula: “Ibuku juga baru meninggal dunia, entah di mana arwahnya berada.”

Raja Setan bertanya: “Ketika ibumu masih hidup di dunia apa pekerjaannya?”

Putri Brahmana menjawab: “Ibuku berpandangan sesat, suka memfitnah Triratna. Jika dinasehati ia hanya percaya sebentar, kemudian tidak menghormati Triratna lagi. Meskipun ibuku meninggal belum lama, entah di mana ia kini berada.”

“Siapa nama ibumu dan dari suku apa?” Tanya Raja Setan. “Orang tuaku adalah keturunan Brahmana. Ayahku bernama Silasudharsana dan ibuku bernama Vatri.” Jawab Putri Brahmana.

“Setelah Raja Setan Amagadha mendengar nama ibunya lalu beradara (anjali) dan berkata: “Pulanglah sekarang, Bodhisattva yang mulia! Tinggalkan alam yang menyedihkan ini, kembalilah ke tempat asalmu dan mulai sekarang tak usah cemas dan sedih lagi. Sebab tiga hari yang lalu, seorang terhukum di Neraca Avici bernama Vatri telah terlahirkan di alam Surga dan menurut kabar Vatri itu diberkahi oleh putrinya yang amat menyayanginya, yang pernah mengadakan puja-bhakti di vihara serta stupa Buddhapadmasamadhisvararaja. Maka kali ini bukan saja ibunya terbebaskan dari Neraka Avici, akan tetapi penghuni Neraka Avici yang lainnyapun mendapat kebebasan dan dilahirkan di Surga.”

“Setelah Raja Setan Amagadha selesai memberi penjelasan, iapun memberi hormat dengan adara lalu pergi.”

“Putri Brahmana merasa dirinya bagaikan orang yang baru sadar dari mimpi. Setelah mengakhiri samadhinya, ia merasa sangat riang gembira. Karena ia telah mengetahui asal usul dan sebab musabab itu. Kemudian ia kembali lagi ke vihara dan berikrar di depan Buddha rupang Buddhapadmasamadhisvararaja Tathagata: “Aku berjanji, bahwa selama berkalpa-kalpa yang akan datang aku bertekad akan memberikan kemudahan-kemudahan untuk menyelamatkan segala makhluk yang berdosa agar semua dapat membebaskan dirinya dari belenggu kesengsaraan!”

Sang Buddha Sakyamuni bersabda kepada Manjusri Bodhisattva: “Ketahuilah, bahwa yang disebut Raja Setan Amagadha itu kini beliau adalah Bodhisattva Dravyasri. Dan Putri Brahmana itu sekarang adalah Bodhisattva Ksitigarbha.”




Liang Hwang Pao Chan atau Sadhana pertobatan mulia Kaisar Liang adalah suatu sadhana yg legendaris yg disusun pd jaman Dinasti Liang. Kaisar Liang Wu Ti adalah Kaisar Dinasti Liang (di China) yang memerintah antara tahun 502-547. Pada usia 30 tahun Sang Permaisuri wafat. Meskipun telah meninggal beberapa bulan, Sang Kaisar masih bermuram-durja saja baik siang maupun malam. Pada suatu hari, saat sedang di kamar tidur, ia mendengar ada suara berisik di luar. Begitu melihat, ada seekor ular besar sedang bertengger di ruang utama. Sambil menyeringai, ular ini mengerdip-ngerdipkan mata kepada Sang Kaisar. Kaisar menjadi ketakutan, mau lari menyelamatkan diri, apa lacur tiada jalan keluar. Akhirnya ia memberanikan diri berseru kepada ular, "Istana Kaisar dijaga ketat bukan tempat tinggal bagi ular seperti Anda, Anda pasti siluman, apakah ingin mencelakai saya?" Si ular menjawab dengan suara manusia, "Saya adalah permaisuri Anda. Karena semasa hidup suka iri hati, bersifat kejam, bila marah, benda mati maupun hidup tidak luput dari amukan saya. Setelah meninggal, karena dosa-dosa ini terlahir sebagai ular. Tiada makan dan minum, tiada lubang tempat berteduh, hidup serba kekurangan, tidak berdaya. Ditambah lagi setiap sisik saya tumbuh banyak ulat, daging dan otot digigit dan digerogoti, sakit sekali bagai dicungkil pisau. Karena terlahir sebagai ular besar, bukan ular biasa, sehingga memiliki kemampuan khusus dapat menerobos penjagaan ketat istana. Mengetahui Kaisar amat menyayangiku, oleh karena itu menampakkan diri yang buru rupa ini di hadapan Kaisar, memohon bantuan untuk diselamatkan." Setelah itu ular besar ini pun menghilang.


Pada keesokan harinya, Kaisar mengumpulkan sejumlah bhiksu di istana, menceritakan kisah ini, kemudian menanyakan jalan keluar untuk membebaskan permaisuri dari penderitaan. Oleh Bhiksu Pao Ce dikatakan bahwa pengakuan dosa dengan bersujud kepada para Buddha dapat menyelamatkan permaisuri. Sang Kaisar lalu memerintahkan Bhiksu Pao Ce dan bhiksu lainnya membuat kitab pertobatan dosa berdasarkan berbagai kitab suci agama Buddha. Setelah itu menyelenggarakan upacara pertobatan dosa untuk Sang Permaisuri.


Tak lama setelah upacara dilangsungkan, pada suatu hari, istana diliputi wangi yang harum sekali. Secara kebetulan pada saat Sang Kaisar menengadah ke atas, tampak seorang dewa yang amat anggun. Sang Dewa berkata,"Saya adalah jelmaan ular besar. Berkat jasa-jasa Kaisar, saya telah terlahir di alam Trayastrimsa (Surga Tiga Puluh Tiga). Kini menampakkan diri untuk menunjukkan keampuhan pengakuan dosa. Terima kasih banyak." Sesudah berkata demikian, Sang Dewa pun segera menghilang.


Semenjak itu Sadhana Pertobatan ini mulai dikenal secara luas dan dijalankan oleh umat Buddhis Mahayana dalam menjalankan pertobatannya.


Seperti yg termaktub pada awal kitab ini, pembacaan Kitab Pertobatan Dosa Kaisar Liang mempunyai 12 harapan :

1. Semoga makhluk hidup di keenam alam memiliki pikiran luhur yang tiada batasnya.

2. Semoga kebajikan luhur yang tiada batasnya ini dapat membalas jasa semua welas asih yang telah diterima.

3. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup mematuhi sila (moralitas), tidak berpikiran untuk melanggarnya.

4. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup tidak acuh tak acuh terhadap yang patut dihormati.

5. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup, dimana saja mereka berada tidak timbul pikiran dendam atau marah.

6. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup tidak iri terhadap apa saja.

7. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup tidak pelit terhadap apa saja.

8. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup tidak egois terhadap rejeki yang telah diperoleh, tetapi membagikan juga kepada semuga yang tidak terlindungi.

9. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup menjalankan empat perbuatan Boddhisattva bukan hanya untuk diri sendiri saja.

10. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup bila melihat orang sakit-sedih-tiada sanak keluarga timbul pikiran untuk menolong agar mereka memperoleh kebahagiaan.

11. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini bila ada makhluk hidup harus ditundukkan (kebajikan), menjadi tertunduk; bila ada makhluk hidup yang harus diterima, menjadi diterima.

12. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup, dimana saja mereka berada selalu ingat untuk mengembangkan Bodhicitta, membuat Boddhicitta ada terus tiada putus-putusnya.

Kamis, 02 Januari 2014

Panchatantra


Pancatantra adalah sebuah karya sastra dunia yang berasal dari Kashmir, India dan ditulis pada abad-abad pertama Masehi.
Pañcatantra ini mengisahkan seorang brahmana bernama Wisnusarma yang mengajari tiga pangeran dungu putra prabu Amarasakti mengenai kebijaksanaan duniawi dan kehidupan, atau secara lebih spesifik disebut ilmu politik atau ilmu ketatanegaraan. Ilmu pelajarannya terdiri atas lima buku, itulah sebabnya disebut Pañcatantra yang secara harafiah berarti “lima ajaran”. Lima bagian ini merupakan lima aspek yang berbeda dari ajaran sang brahmana ini. Bagian-bagian tersebut di dalam buku bahasa Sanskerta yang berjudulkan Tantrakhyāyika dan dianggap sebagai redaksiPañcatantra yang tertua, adalah sebagai berikut:
  1. Mitrabheda (Perbedaan Teman-Teman)
  2. Mitraprāpti (Datangnya Teman-Teman)
  3. Kākolūkīya (Peperangan dan Perdamaian)
  4. Labdhanāśa (Kehilangan Keberuntungan)
  5. Aparīkṣitakāritwa (Tindakan yang Tergesa-Gesa )
Ciri khas Pañcatantra ini terutama ialah bahwa ceritanya dikisahkan dalam bentuk cerita bingkai dan banyak mengandung fabel-fabel. Cerita bingkai ini juga disebut dengan istilah kathāmukhadan cerita-ceritanya semua dianyam menjadi satu dengan yang lain. Setelah setiap cerita yang biasanya dalam bentuk prosa, moral cerita diringkas dalam bentuk seloka.
Cerita-cerita fabel Pañcatantra banyak yang berdasarkan cerita-cerita jataka.

Cerita Pañcatantra juga dibawa ke timur, menuju ke Asia Tenggara. Versi-versi yang diketahui ada dalam bahasa Thai, bahasa Laos dan beberapa bahasa di Indonesia. Selain bahasa Jawa dan Melayu, ada juga versi dalam bahasa Bali, bahasa Madura dan kemungkinan bahasa Sunda (Kuna) . Versi-versi dalam bahasa Jawa Kuna serta bahasa Thai dan bahasa Laos banyak memperlihatkan persamaan secara struktural dengan sebuah gubahan Pañcatantra dalam bahasa Sanskerta dari India bagian selatan yang disebut Tantropākhyāna. Bahkan seloka-seloka yang ada dalam versi prosa Jawa Kuna banyak yang menunjukkan persamaan dengan yang ada di Tantropākhyāna.
Tantropākhyāna yang masih ada sudah tidak lengkap lagi. Cerita bingkai atau kathāmuka sudah tidak ada dan dari empat buku yang semestinya ada, cuma tersisa tiga. Meskipun naskahTantropākhyāna yang ditemukan ini tidak lengkap lagi, tetapi setelah diperbandingkan dengan sebuah versi dalam bahasa Tamil dan versi-versi Asia Tenggara lainnya yang masih berkerabat bisa disimpulkan bahwa Tantropakhyāna ini strukturnya agak berbeda dengan Tantrakhyāyika yang disinggung di atas ini, cerita-ceritanya juga lain. Tantropakhyāna tidak terdiri atas lima buku tetapi terdiri atas hanya empat buku yang namanya juga lain pula:
  1. Nandakaprakaraṇa (cerita seekor lembu)
  2. Maṇḍūkaprakaraṇa (cerita si kodok)
  3. Pakṣiprakaraṇa (cerita para burung)
  4. Piśacaprakaraṇa (cerita para pisaca (semacam raksasa))
Lalu kathāmukha atau cerita bingkainya juga berbeda. Di mana dalam Tantrakhyāyika seperti disinggung di atas ini mengisahkan seorang brahmana yang ingin mengajarkan ilmu politik kepada tiga pangeran yang dungu, dalam versi-versi lain yang berkerabat dengan Tantropakhyāna, cerita bingkai ini mengisahkan seorang raja yang ingin menikah setiap malam, mirip dengan kisah cerita "1001 Malam". Di sini harus diberi catatan bahwa cerita bingkai ini dalam naskah tunggal Tantropakhyāna sudah tidak tersimpan lagi. Dalam Tantri Kāmandaka, begitulah sebutan teks ini dalam bahasa Jawa Kuna, kathāmukha ini disebut Wiwahasarga, atau arti harafiahnya ‘kisah pernikahan’.

Cerita-cerita dari Pancatantra juga banyak ditemukan dalam bentuk relief. Relief-relief ini banyak pula ditemukan di pulau Jawa. Candi-candi yang mengandung relief-relief Pancatantra antara lain adalah:
  • Candi Mendut
  • Candi Sojiwan
  • Candi Penataran
  • Candi Jago


Dari kisah Panchatantra yang pernah aku baca, yaitu Mitrabheda mengisahkan seekor lembu jantan yang bernama Sanjivaka yang berteman dengan seekor raja hutan yaitu singa yang bernama Pingalaka. Awalnya Pingalaka takut dengan Sanjivaka karena Sanjivaka terlihat besar, kuat dan bijaksana, kemudian mereka pun berteman. Patih Pingalaka yaitu dua serigala bersaudara yang bernama Karataka dan Damanaka kurang menyukai hubungan raja mereka dengan lembu asing, maka kedua serigala itu, khususnya Damanaka yang licik berusaha memisahkan kedua sahabat tersebut dengan cara menceritakan kisah-kisah fabel kepada Sanjivaka dan Pingalaka. Sanjivaka dan Pingalaka kemudian menjawab cerita dari para serigala dengan menceritakan kisah fabel lainnya.
Beberapa kisah fabel diantaranya
Sang Raja dan monyetnya yang bodoh
Seorang raja memiliki peliharaan seekor monyet. suatu hari sang raja berpesan kepada monyetnya agar menjaganya sewaktu tidur siang. Si monyet diberi sebuat pedang dan raja berpesan kepada monyet agar membunuh siapa saja yang mengganggu tidur sang Raja. Si monyet sangat bangga & berjalan kesana kemari mengawasi sekeliling ketika sang raja tertidur. Tiba tiba seekor lalat masuk keruangan & langsung nongkrong di leher raja. sang monyet teringat pesan raja & langsung mengayunkan pedangnya. Bisa dibayangkan akhirnya apa yang terjadi....


Kura kura dan Angsa
Disebuah kolam tinggalah seekor kura kura yang cerewet, hampir semua penghuni kolam menjauhinya karena terganggu oleh ocehannya yang tidak berarti. Suatu saat datanglah sepasang angsa tinggal dikolam itu & mereka bersahabat dengan si kura kura. Kura kura sangat sengat mendapatkan teman baru, apalagi kedua angsa tersebut dikenal sebagai pasangan yang sabar dan setia kawan. Ketika tiba saat kedua angsa itu pergi, kura kura merajuk agar diajak pergi oleh kedua angsa. Karena kasihan, kedua angsa mengijinkan kura kura ikut dengan mereka. Kedua angsa dan kura kura menggigit sebuah dahan dan terbang bersama. Sebelumnya kura kura diberi peringatan agar tidak berbicara dalam perjalanan yang dia menyanggupinya. Setelah sampai diatas, kura kura yang takjub melihat kolam tempat tinggalnya mengecil berteriak mengejek semua penghuni kolam yang memusuhinya, "Lihat, aku bisa terbang!!!!". Dan karena kura kura melepaskan gigitannya, maka seketika dia terjun bebas ke tanah.

Bangau dan Kepiting
Bangau sudah terlalu tua untuk menangkap ikan yang lebih gesit bergerak didalam air. Dia berpikir kalau begini terus dia akan mati kelaparan. Kemudian dengan idenya, dia mendatangi para ikan dan mengatakan bahwa sebentar lagi musim kemarau, dan bila kemarau datang, kolam tempat tinggal para ikan akan kering dan para ikan bisa mati. Para ikan mulai kawatir, kemudian bangau mengatakan kalau dibalik gunung ada sebuah kolam besar yang tidak akan kering. Maka dimulailah transmigrasi para ikan ke kolam yang baru. Kepiting yang curiga dengan sikap bangau berusaha mencegahnya, Kepiting kemudian meminta bangau melihat kolam baru tersebut. dengan enggan bangau mengantarkan kepiting. Ditengah jalan alangkah terkejutnya kepiting melihat tualng tulang ikan berserakan, teman temannya telah dijebak oleh bangau dan dimangsa ditengah jalan. Kepiting yang marah kemudian mencapit leher bangau hingga putus & kemudian dengan susah payah kembali menemui teman-temannya.

Minggu, 23 September 2012

Krishna di kisah Jataka


Dalam kisah Ghatapandita Jataka, Krishna adalah seorang pangeran penakluk yang sakti mandraguna. Dia disebut sebagai Vasudewa. Nama lainnya adalah Kanha dan Kesava sedangkan saudaranya adalah Balarama/Baladewa. Beserta 9 saudaranya yang kuat dan kakak perempuannya(Anjana) mereka merebut tanah Jambudwipa(india) dari paman mereka yang kejam, yaitu Kangsa. Setelah memenggal kepala Kangsa dengan cakra miliknya, Krishna dan saudara2 menjadi penguasa tanah Jambudwipa.

Rabu, 22 Agustus 2012

Tibetan Mamo


Dalam bahasa tibet, Mamo berati "bukan manusia". Mamo adalah ilmu yang dipelajari oleh para dukun aliran bon di Tibet untuk merubah diri menjadi suatu makhluk sakti. Mamo berupa seekor raksasa buruk rupa yang dapat terbang, menghilang dan menguasai ilmu sihir, hobinya makan manusia. Oleh sebab itu, dukun2 bon yang menguasai ilmu ini sangat ditakuti. Banyak orang memberi uang kepada dukun2 ini untuk membunuh orang yang tidak disukainya.

Asal usul Naga Long/Liong 龙


Adalah makhluk mitologi china kuno yang sangat dihormati oleh orang China dan dianggap sebagai manisfestasi leluhur, hingga ada sebuah istilah "Long De Chuan Ren" yang berarti garis keturunan sang naga.

Selasa, 07 Agustus 2012

SUDHANA JATAKA

Sudhana dan manohara


Sudhana, pangeran dari kerajaan selatan, bagian dari negeri Pancala menolong Manohara putri dari raja kinnara dari utara. Sudhana kemudian menikahi Manohara dan membawanya ke kerajaan Selatan. Tak lama terjadi berbagai kekacauan di kerajaan selatan, Sudhana dengan bantuan para yaksha diperintahkan untuk menumpas pemberontakan yang terjadi.

Kamis, 28 Juni 2012

Pemutaran Mandaragiri/Sagara manthan


Dikisahkan pada zaman Satyayuga, para Dewa dan asura (rakshasa) bersidang di puncak gunung Mahameru untuk mencari cara mendapatkan tirta amerta, yaitu air suci yang dapat membuat hidup menjadi abadi. Sang Hyang Nārāyana (Wisnu) bersabda, "Kalau kalian menghendaki tirta amerta tersebut, aduklah lautan Ksera (Kserasagara), sebab dalam lautan tersebut terdapat tirta amerta. Maka dari itu, kerjakanlah!"

Trivikrama


Seorang raja yang bernama Bali mengundang semua orang untuk datang keistananya. Dia akan memberikan hadiah2 kepada semua orang yang datang. Oleh para brahmana, dia dinasehati agar tidak membeikan hadiah apapun kepada seorang brahmana yang bertubuh cebol.

Senin, 25 Juni 2012

Xuan Zhang玄奘, Sang Bhiksu Pengelana



Pendeta Tong (602~664 M) yang kita kenal dalam cerita "Xi You Ji" "Perjalanan ke Barat" adalah tokoh sejarah Dinasti Tang dalam peranannya sebagai pendeta Buddhis. Ia terkenal bukan hanya sebagai seorang agamawan, namun juga pengelana dan penerjemah termashyur di masanya. Ia lahir di Luo Jhou, sekarang di propinsi Henan dengan nama Chen Hui, anak keempat dari seorang terpelajar yang menjabat sebagai pejabat bupati Kabupaten Jiang Lin. Untuk selanjutnya, namanya terkenal dengan nama Buddhis-nya Xuan Zhang玄奘, Tang Xuan Zhang 唐玄奘, Tang San-zang 唐三藏/Tong Sam-cong(San Zang berati Tripitaka dalam bahasa mandarin). Perlu diketahui Xi You Ji adalah novel yang ditulis oleh Wu Cheng-en dari Dinasti Ming. Jadi, novel tadi sebenarnya cuma berlatar belakang sejarah, namun bukanlah sejarah kehidupan pendeta Tong itu sendiri.

Senin, 21 Mei 2012

Avatar Wisnu

Avatara/Avatar अवतार (dibaca awatara/awatar) dalam agama Hindu adalah inkarnasi dari Tuhan Yang Maha Esa maupun manifestasinya. Tuhan Yang Maha Esa ataupun manifestasinya turun ke dunia, mengambil suatu bentuk dalam dunia material, guna menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kejahatan, menegakkan dharma dan menyelamatkan orang-orang yang melaksanakan Dharma/Kebenaran.


Dalam Bhagawadgita, salah satu kitab suci agama Hindu selain Weda, Kresna sebagai perantara Tuhan Yang Maha Esa bersabda:

"Yadā yadā hi dharmasya glānir bhavati bhārata abhyutthānam adharmasya tadātmanam srjāmy aham paritrānāya sādhūnām vināśāya ca duskrtām dharma samsthāpanarthāya sambavāmi yuge yuge"
(Bhagavad Gītā, 4.7-8)


Terjemahan:

"Manakala kebenaran merosot dan kejahatan merajalela, pada saat itulah Aku akan turun menjelma ke dunia, wahai keturunan Bharata (Arjuna). Untuk menyelamatkan orang-orang saleh dan membinasakan orang jahat dan menegakkan kembali kebenaran, Aku sendiri menjelma dari zaman ke zaman."

Bhagavad-gītā


Bhagavad-gītā भगवद् गीता adalah sebuah bagian dari Mahabharata yang termasyhur, dalam bentuk dialog yang dituangkan dalam bentuk syair. Dalam dialog ini, Kresna, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa adalah pembicara utama yang menguraikan ajaran-ajaran filsafat vedanta, sedangkan Arjuna, murid langsung Sri Kresna yang menjadi pendengarnya. Secara harfiah, arti Bhagavad-gita adalah "Nyanyian Sri Bhagawan (Bhaga = kehebatan sempurna, van = memiliki, Bhagavan = Yang memiliki kehebatan sempurna, ketampanan sempurna, kekayaan yang tak terbatas, kemasyuran yang abadi, kekuatan yang tak terbatas, kecerdasan yang tak terbatas, dan ketidakterikatan yang sempurna, yang dimiliki sekaligus secara bersamaan).

Minggu, 08 April 2012

Vimana-Kendaraan Terbang Kuno dari Tanah India



Wilmana (Dewanagari: विमान; IAST: vimāna) atau Walimana, dalam susastra Hindu, adalah nama sejenis wahana yang dapat terbang di angkasa. Keberadaan wahana terbang itu disebut dalam kitab Ramayana dan Mahabharata, dua susastra Hindu yang terkenal. Selain itu, disebutkan pula dalam susastra Jaina.


Ukiran di gua Ellora, menampilkan wilmana sebagai wahana seperti paviliun bersayap.

Dalam bahasa Indonesia, "wilmana" atau "walimana" berarti kendaraan dewa yang berupa burung besar. Dalam bahasa Bali, "wilmana" merujuk kepada singasana berupa raksasa bersayap. Maka dari itu, di Indonesia, wilmana atau walimana digambarkan sebagai sosok makhluk bersayap, entah burung atau raksasa. Susastra India Kuno mendeskripsikan wilmana sebagai wahana (kapal) terbang, berbentuk bundar atau silinder, dibuat dari besi, raksa, tembaga, dan timbal. Legenda India mengatakan bahwa wilmana mampu mengeluarkan misil dan petir yang dahsyat.


Wayang wilmana bergaya Surakarta. Dalam pewayangan, wilmana digambarkan sebagai raksasa bersayap.

Dalam kitab-kitab Purana Hindu disebutkan bahwa para dewa memiliki wahana masing-masing, biasanya merupakan hewan atau kereta yang ditarik oleh hewan. Kuwera sang dewa kekayaan, memiliki wilmana, yaitu wahana terbang yang berbeda dengan wahana para dewa pada umumnya, dan benda itu diperolehnya dari dewa Brahma. Wimana tersebut diberi nama Puspaka. Dalam Ramayana disebutkan:
"Kereta Puspaka yang menyerupai sang surya dan dimiliki oleh saudaraku dibawa oleh Rahwana yang perkasa; kereta udara yang bagus tersebut mampu pergi kemana pun sesuka hati .... kereta itu bagaikan awan gemilang di langit ... dan sang raja (Rama) memasukinya, dan kereta mulia tersebut berada di bawah kendali sang Raghira, naik menuju lapisan langit yang lebih tinggi".

Menurut kitab Ramayana dan Purana, wilmana Puspaka yang dimiliki Kuwera direbut oleh Rahwana, setelah kekuasaan Kuwera direbut oleh Rahwana. Kemudian Rahwana menjadi Raja Alengka. Karena Rahwana menculik Sita, kerajaan Alengka yang dipimpin Rahwana diserbu oleh Rama dan Laksmana dari Ayodhya dengan bantuan para wanara (manusia kera). Setelah Rahwana dikalahkan oleh Rama, wilmana dipakai sebagai kendaraan untuk mengangkut Rama, Sita, Laksmana, dan para wanara (tentara kera) dari Alengka ke Ayodhya.

Dalam agama Jaina (Jainisme), Vimāna-vāsin ('penghuni dalam vimāna') adalah golongan para dewa yang melayani tīrthaṃkara Mahā-vīra. Para dewa Vaimānika ini tinggal di surga Ūrdhva Loka. Menurut Kalpa Sūtra dari Bhadra-bāhu, tīrthaṃkara ke-24, yaitu Mahā-vīra sendiri muncul dari vimāna Puṣpa-uttara ; sedangkan tīrthaṃkara ke-22, Ariṣṭa-nemi muncul dari vimāna Aparijita. Tīrthaṃkara Abhinandana (ke-4) dan Sumati-nātha (ke-5) sama-sama mengarungi langit dengan "Jayanta-vimāna", yakni vimāna Sarva-artha-siddhi, yang dimiliki oleh para dewa Jayanta; sedangkan tīrthaṃkara Dharma-nātha (ke-15) mengarungi langit dengan "Vijaya-vimāna". Sebuah vimāna mungkin dapat terlihat dalam mimpi, misalnya nalinī-gulma.

David Hatcher Childress, penulis The Anti-Gravity Handbook, meneliti legenda tentang suatu wahana terbang pada masa India Kuno, yang disebut wilmana. Ia mendapat kesimpulan setelah meneliti legenda Kerajaan Rama. Dalam bukunya, ia menulis sebagai berikut:
Yang disebut 'Kemaharajaan Rama' di India Utara dan Pakistan berkembang sekitar 15.000 tahun yang lalu di Anakbenua India dan merupakan sebuah negara dengan banyak kota besar, dan canggih, banyak di antaranya bisa ditemukan di gurun-gurun di Pakistan, sebelah utara, dan India Barat. Keberadaan Rama, ternyata, berhubungan dengan peradaban Atlantis di tengah Samudra Atlantik, dan dipimpin oleh 'Pendeta-Raja yang Tercerahkan' yang menguasai kota-kota. Tujuh ibukota terbesar Rama dikenal dalam susastra Hindu sebagai 'Tujuh Kota Resi'. Menurut sastra India Kuno, rakyatnya memiliki mesin terbang yang disebut 'wilmana'. Wiracarita India Kuno mendeskripsikan wilmana memiliki dua geladak, berbentuk bundar dengan tingkapan dan kubah, seperti bayangan kita akan piring terbang. Benda itu terbang dengan "kecepatan angin" dan menghasilkan 'suara yang merdu'. Kurang lebih ada empat macam wilmana; beberapa berbentuk seperti piring, yang lain seperti silinder panjang ('kapal berbentuk cerutu').

Dalam bukunya, Childress menyatakan bahwa beberapa tahun yang lalu orang Cina menemukan dokumen kuno di Lhasa, Tibet dan mengirimnya ke Universitas Chandrigarh untuk diterjemahkan. Dr. Ruth Reyna dari Universitas tersebut mengatakan bahwa dokumen tersebut memuat cara-cara merakit pesawat ruang angkasa. Dia mengatakan, metode untuk menggerakkannya adalah metode "anti-gravitasi" yang disamakan dengan "laghima". Menurut para yogi (praktisi yoga) Hindu, "laghima" itu membuat seseorang bisa melayang.

Pertemuan bertajuk "Sains dan Teknologi pada zaman India Kuno" diselenggarakan bulan Desember 1990 di B.M. Birla Science Center di Hyderabad, A.P., India. Banyak topik tentang ilmu penerbangan India Kuno yang didiskusikan. Vaimanika Prakaranam dalam Vimana Vignana menguraikan instrumen seperti Guha Garbha Darsha Yantra mampu mengetahui lokasi objek yang tersembunyi di bawah tanah. Sebuah semikonduktor berbahan ferit yang bernama Chumbaka meradiasikan sinyal gelombang mikro dan mendeteksi objek tersembunyi.

Seorang ufolog Italia, Roberto Pinotti mempresentasikan makalah berjudul 'Aeronautics in ancient India' dalam World Space Conference yang diselenggarakan di Bangalore. Ia berkata kepada para hadirin dalam konferensi itu bahwa wahana terbang tersebut (Wimana) mirip dengan pesawat terbang bertenaga jet. Ia yakin bahwa benda tersebut menunjukkan adanya desain yang sangat kompleks dan dibuat oleh orang yang sangat ahli. Sedangkan Dileep Kumar Kanjilal dalam Vimana in Ancient India : Aeroplanes Or Flying Machines in Ancient India (1985) mengatakan adanya dorongan pendorong ion.

Dalam budaya populer

Wimana muncul dalam buku, film, internet dan permainan, antara lain:

-Vimanarama karya Grant Morrison menampilkan Wimana.
-Vimana adalah arcade game dari Toaplan dimana kapal pemain mendapat nama tersebut.
-Sistem dorongan antarbintang yang disebut "Kemudi Wimana" digunakan dalam permainan eksplorasi luar angkasa berjudul Noctis.
-Etnica merilis 'Vimana' tahun 1997 dengan contoh yang diambil dari film Roswell, mengacu kepada UFO dan kehidupan mahluk asing.
-Dalam Fate/zero, Archer memiliki Wimana bertenaga nuklir dalam arsenalnya.
-Dalam The Objective, pasukan khusus AS, ODA mencari Wimana di Afghanistan.
-Dalam permainan Deep Labyrinth, labirin disebut Wimana oleh penjaganya.

Diambil dari :
wikipedia

Minggu, 25 Maret 2012

Sai no Kawara 賽の河原 (Riverbed of the Netherworld / Japanese Limbo for Children)




Sai no Kawara adalah suatu tempat dialam kematian yang menampung anak2 yang meninggal lebih dulu sebelum kedua orang tuanya, karena dianggap belum memiliki banyak pahala dan dianggap mendahului kedua orangtuanya, maka anak2 tersebut membangun pagoda dari tumpukan-tumpukan batu. Pagoda batu tingkat bawah untuk ayah, pagoda batu tingkat2 untuk ibu, pagoda batu tingkat 3 berdoa untuk kakak dan adik maupun semua keluarga dirumah. Setelah selesai mereka akan berdoa didepan pagoda itu dan mereka bisa pergi kedunia selanjutnya. Namun pembangunan pagoda itu tak akan pernah berakhir karena di Sai no Kawara tinggal setan-setan yang menggangu pekerjaan anak-anak tersebut...dengan gada besi, setan-setan menghancurkan setiap pagoda-pagoda batu yang hampir selesai.hingga akhirnya roh anak-anak itu tetap akan tinggal selamanya di Sai No Kawara karena pekerjaan mereka tidak pernah selesai.
Kemudian Jizo Bosatsu (Ksitigarbha Bodhisatva) akan menolong anak-anak tersebut, melindungi mereka dari setan-setan pengganggu...dijepang, tempat berdoa untuk arwah-arwah yang berada di alam neraka salah satunya adalah Osorezan. Tempat itu menjadi tempat berdoa untuk mendoakan arwah anak-anak tersebut agar Jizo menolong mereka.

Reteller by: Wang'ZW

Kamis, 01 Maret 2012

Kuji-in (九字印 / nine Syllable Mantra) Ninja Mudra

Sewaktu SD, pernah diberitahu oleh teman tentang gerakan-gerakan tangan yang dilakukan oleh para ninja. Kemudian baru tahu setelah membaca buku-buku Buddha aliran Tantrayana (Satya Buddha School) kalau gerakan-gerakan tersebut dinamakan Mudra. Apakah mudra itu? menurut wikipedia : Mudrā [muːˈdrɑː](Dewanagari: मुद्रा, dalam bahasa Sanskerta artinya: "lambang" atau "segel") adalah gestur atau sikap tubuh yang bersifat simbolis atau ritual dalam Hinduisme dan Buddhisme. Ada beberapa mudrā yang melibatkan seluruh anggota tubuh, akan tetapi kebanyakan hanya dilakukan dengan tangan dan jari. Mudrā adalah gestur spiritual dan penanda energi dan keaslian dalam ikonografi dan praktik spiritual dalam tradisi agama Dharma serta Taoisme.

Kuji-in (九字印 / nine Syllable Mantra) adalah sebuah bentuk meditasi spesial dalam agama Buddha. Tehnik ini biasanya digunakan oleh beberapa sekte Buddhis Shingom di Jepang, dan biasa dilatih oleh seorang Taoist,beberapa praktisi Shinto, Zen, Shugenja (pendeta gunung Jepang)dan Ninja. Kalau oleh anak – anak sekolah, tehnik ini biasa disebut Nine Finger Cuts. Tehnik meditasi ini membutuhkan pola pernapasan tertentu dan membutuhkan proses yang berbeda untuk setiap mantranya.

Kuji-in memiliki beberapa posisi tangan yang berbeda yang disebut sebagai Mudra dan mantranya. Setiap posisi memiliki mantra yang berbeda, yang terdiri dari 5 horisontal cut dan 4 vertical cut.

Berikut mudra-mudra dari Kuji-in dan mantranya (dalam bahasa jepang) :


1. 臨 (Rin)
Mudra dokko-in/kongoshin-in, "seal of the thunderbolt."
On baishiramantaya sowaka. [All hail the Vajra (diamond thunderbolt) of glory and sacrifice. Om!]



2. 兵 (Pyō)
Mudra daikongorin-in, "seal of the great thunderbolt."
On ishanaya intaraya sowaka. (All hail the instrument of divine righteousness Om)



3. 闘 (Tō)
Mudra gejishi-in "seal of the outer lion."
On jiterashi itara jibaratanō sowaka. [All hail the exultant and glorious celestial jewel om]



4. 者 (Sha)
Mudra naijishi-in "seal of the inner lion."
On haya baishiramantaya sowaka. (All hail the swift thunderbolt of exalted strength, virtue, and glory Om!)



5. 皆 (Kai)
Mudra gebaku-in "seal of the outer bonds."
On nōmaku sanmanda basaradan kan. [Om homage to all-pervading diamond thunderbolts. Utterly crush and devour!]



6. 陣 (Jin)
naibaku-in "seal of the inner bonds."
On aga naya in maya sowaka. [All hail the glory of Agni (God of the Sacred Fire). Om!]



7. 列 (Retsu)
Chiken-in "seal of the wisdom fist," also known as "seal of the interpenetration of the two realms."
On irotahi chanoga jiba tai sowaka. [All hail the radiant divine all-illuminating light bursting and streaming forth in all directions Om]



8. 在 (Zai)
Mudra "seal of the ring of the sun."
On chirichi iba rotaya sowaka.



9. 前 (Zen)
hobyo-in/ongyo-in "seal of the hidden form, mudra which conceals its form"
On a ra ba sha nō sowaka [Om a ra pa ca na. All hail!]



Setiap mantra Kuji-in mempunyai arti yang berbeda-beda disetiap sekte

Prinsip Yin dan Yang :

Yang/Yô syllables [horizontal, absolute]

臨/Rin : come
闘/Tô : fight
皆/Kai : ready
列/Retsu: line-up
前/Zen : in front

Yin/In syllables [vertical, relative]

兵/Pyô: warriors
者/Shā: one
陣/Jin: formation
在/Sai: take position

Dalam Shinto :

Rin : To face.
Pyō : The soldier.
Tō : To fight.
Sha : The man (or the people); a foe
Kai : The all, or the whole effect, or whole effort.
Jin : In Formation, or position in camp or to prepare.
Retsu : To move in column or a row, in a line; or marching, or to focus.
Zai : To appear, or to exist to make yourself known
Zen : To be in front. or show up in front.


Dalam Buddhism :

Rin : to confront
Pyō : to soldier on
Tō : to Battle with
Sha : Against One/Person
Kai : With everyone/entire/group
Jin : The formation
Retsu : In a row
Zai : To Presence
Zen : To move Forward

Dalam Ninjutsu

Rin : Strength
Pyō : Channel
Tō : Harmony
Sha : Healing
Kai : Sense of Danger
Jin : Reading of thoughts.
Retsu : Control space and time.
Zai : sky or elements control.
Zen : enlightenment.

Taoist :

"May all those who preside over warriors be my vanguard"

Jepang :

"Come warriors, fight as one, ready in formation, line up and take position in front. Destroy/victory!"

Mudra Kuji-in ini biasa digunakan untuk meditasi, melatih konsentrasi, bahkan untuk pengusiran hawa negatif (roh).
Selain itu, mudra Kuji-in juga kadang ditampilkan di Manga maupun anime :
1. Sailor Moon
Hino Rei (Sailor Mars) menggunakan Kuji-In untuk meditasi didepan api homa dan mengusir roh-roh jahat
2. Flame of Recca
Kage Hoshi mengirim Recca dari masa lalu dengan mantra dan mudra Kuji-in
3. Ghost Hunt
Mai, Ayako pendeta Shinto maupun Hoshou Bhiksu Buddha menggunakan Kuji-in untuk mengalahkan roh-roh jahat

Kamis, 09 Februari 2012

Pangeran Ketiga Li Ne Zha

Pangeran Ketiga – Nazha Sesungguhnya adalah Dharmapala Buddhist



Nazha (哪吒),Dalam bahasa sansekerta lengkap adalah Nalakuvara. Merupakan Dharmapala (Pelindung Buddha Dharma), pelindung negara dan merupakan dewa kebajikan pelindung raja. Sebutan lainnya dalam Sutra Buddha adalah Nazha Deva-raja. Dari nama “Nazha” saja kita bisa mengetahui bahwa nama ini bukanlah nama Tionghoa, melainkan sebuah lafal mandarin untuk pengucapan bahasa sansekerta. Seperti halnya Li Qing (Salah satu dari empat Raja Deva) yang ada dalam Novel Penganugerahan Dewata (Feng shen bang) disebut juga sebagai Bisamen Tian, ini juga bukan bahasa mandarin, melainkan pengucapan sansekerta untuk “Vaisravana”. Dalam novel Feng shen bang banyak sekali tokoh tokoh Buddhist dari India yang dimasukkan, sehingga menjadi sangat chinesse. Namun novel hanyalah novel , hendaknya kita memahami Para Dewata melalui teks Buddhist. Nazha sendiri sesungguhnya ada dalam Tripitaka , dalam Sutra Tata Cara Sadhana Jendral Pengawal Vairavana Devaraja dari Utara. Siapakah Dewa Jendral Pengawal ini ? Beliau adalah Nazha ! Teks ini ada dalam Tripitaka Vol 21 No 1247, yang diterjemahkan oleh Mahabhiksu Amoghavajra dari bahasa sansekerta ke dalam bahasa mandarin.

Dari sini kita dapat mengetahui bahwa Pangeran Ketiga Jendral Pelindung Altar Tengah (Zhong tan yuan suai san tai zi) yang dipuja luas oleh kalangan masyarakat Tionghoa sesungguhnya merupakan Dewata Pelindung Buddha Dharma, Beliau juga merupakan cucu dari Vaisravana Devaraja (dalam feng shen bang diceritakan bahwa Nazha adalah putera dari Li Qing).

Di kalangan kepercayaan masyarakat, Jendral Pangeran ini disebut juga sebagai Datuk Pangeran (Taizi ye), sedangkan kalangan Tao menyebut Nya sebagai Zhong-tan-yuansuai. Dipandang sebagai salah satu dari 5 Dewa Senapati (Jenderal) yang bertugas di depan istana Kaisar Kumala (Yu-huang-da-di) (Kaisar Kumala dalam Buddhist merupakan Sakradevanam Indra, dan memang kedudukan Sakradevanam Indra ada di atas Catur Maharajika , dimana salah satu dari Catur Maharajika adalah Maharaja Vaisravana yang merupakan kakek dari Nazha). Dalam legenda Tiongkok diceritakan bahwa untuk mengendalikan kekuatan sesat yang hendak mengacau dunia, Kaisar Kumala (Yuhuangdadi) menitahkan supaya Nazha menitis ke dunia menjadi putera ketiga dari Liqing, setelah kelahiran Nya Beliau dinamai Li Nazha. Tubuhnya setinggi enam zhang, seringkali bermanifestasi menjadi berwajah tiga, bermata sembilan dan berlengan enam. Kepala mengenakan gelang emas, dari mulut mengeluarkan awan biru, kaki menginjak roda api yang membawa tubuhnya terbang, mempunyai kekuatan agung tak tertandingi, mampu terbang dengan cepat, mampu menurunan hujan dan memerintahkan angin, mampu menaklukan iblis, rakyat mengelu elukan sebagai pemilik daya sakti tanpa batas, sangat dipuja oleh rakyat di dunia.

Saat ini, pemujaan Nazha paling luas adalah di kalangan rakyat Taiwan, pemujaannya sangat meriah. Dalam kisah Bhiksu Agung dari Tiongkok sendiri juga ada kesaksian pertolongan Nazha , Riwayat Bhiksu Agung Dinasti Song : “Bhiksu Daoxuan yang sangat taat pada sila, pada malam hari berjalan dan terperosok, tiba tiba ada sesosok yang menopang kakinya, ternyata bukan orang sembarangan, Beliaulah Pangeran Ketiga dari Dewa Raja Vaisravana, ternyata Beliau telah lama menjadi Dharmapala Pelindung Bhiksu tersebut.”

〈北方毘沙門天王隨軍護法儀軌〉
三藏沙門大廣智不空奉 詔譯
Tata Cara Puja Pada Dharmapala Senapati Pengikut Vaisravana Devaraja
Diterjemahkan dari bahasa sansekerta ke bahasa mandarin oleh Mahabhiksu Amoghavajra
Kutipan tata cara diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Lianhua Jun Shi An

爾時那吒太子。手捧戟。以惡眼見四方白佛言。我是北方天王吠室羅摩那羅闍第三王子其第二之孫。我祖父天王。 及我那吒同共每日三度。白佛言。我護持佛法。欲攝縛惡人或起不善之心。我晝夜守護國王大臣及百官僚。相與殺 害打陵。如是之輩者。我等那吒以金剛杖刺其眼及其心。若為比丘比丘尼優婆塞優婆夷起不善心及殺害心者。亦以 金剛棒打其頭。
Pada suatu ketika, Pangeran Nazha, dengan tangan menggenggam tombak berujung panjang, dengan mata penuh angkara mengamati empat penjuru, kemudian berkata kepada Sang Buddha :
“Saya adalah Pangeran sekaligus cucu kedua dari Devaraja Utara yaitu Vaisravana-raja. Sang Devaraja, Kakek-Ku bersama Saya sendiri setiap hari tiga kali berpatroli di seluruh dunia.”
Kemudian Nazha berkata , “ Saya melindungi Buddha Dharma, Saya akan mengikat dan menaklukkan orang jahat maupun siapa yang berniat jahat , siang malam Saya melindungi Raja, menteri dan rakyatnya (yang mendukung Buddha Dharma) , barangsiapa yang ingin mencelakainya, Saya Nazha dan bala tentara akan menusuk mata dan jantungnya dengan menggunakan tongkat Vajra. Jika ada yang berniat jahat pada bhiksu-bhiksuni, upasaka dan upasika, dengan menggunakan tongkat Vajra Aku akan memukul kepalanya !”

爾時毘沙門孫那吒。白佛言世尊。我為未來諸不善眾生。降伏攝縛皆悉滅散故。亦護持國界故。說自心暴惡真言。 唯願世尊聽許我說。佛言:善哉!善哉!那吒天王。汝為降伏一切國王大臣百寮殺淩者。亦法佛相違者。為降伏故 ,恣汝意說真言曰:
唵。地舍那。吠室羅摩拏野。摩賀羅惹野。藥迦灑。地婆哆
那謨。婆誐嚩帝。摩多羅。跋馱儞。娑嚩賀
Kemudian Nazha cucu Sang Vaisravana Devaraja, berkata kepada Sang Buddha :
“Saya, demi para insan yang tidak bajik di masa yang akan datang, akan menjadi penakluk mereka, melumpuhkannya dan membinasakan mereka semua. Demi melindungi ketenteraman negara , akan Saya babarkan mantra hati Ku untuk penghancur kejahatan . Mohon Baghavan berkenan mendengarkan pembabaran Ku.”

Buddha berkata : “Sadhu ! Sadhu ! Wahai Dewa Raja Nazha, demi menaklukan para insan yang berniat keji pada raja, menteri maupun rakyatnya, menaklukan yang bertolak belakang dengan Buddha Dharma, demi menaklukan mereka semua , maka Aku persilahkan untuk membabarkan mantra tersebut.”
(Pinyin)
“Om. Di-she-na. Fei-she-la-mo-na-ye. Ma-ha-la-re-ye. Yao-jia-sa. Di-po-duo. Namo. Po-ge-mo-di. Mo-duo-luo. Ba-tuo-ni. Suo-wa-he.”

(Kemudian dibabarkan berbagai tata cara rumit untuk ritual dan homa, dalam hal homa juga ada penggunaan berbagai kayu khusus untuk berbagai keperluan)

Namun untuk kita pribadi yang memuja Nazha, sesungguhnya cukup dengan menghaturkan pujana, rajin bersadhana dan melafalkan nama agung, Namo Zhongtanyuansuai Nazha Santaizi. Atau lebih singkat Namo Shou Hu Fofa Nazha Tianwang. (Namo Deva Raja Nazha Pelindung Buddha Dharma). Lebih pendek lagi dan sekaligus merupakan sebutan dari Buddha untuk Nazha adalah, Namo Nazha Tianwang (Namo Nazha Devaraja).

diambil dari :
Translated by Lianhua Jun Shi An
http://www.wihara.com/forum/deities/11109-nazha-dharmapala-buddhist.html

Garuda dalam agama Buddha







Dewa Garuda,dalam pelafalan mandarin adalah Jia-lou-luo Tian 「迦樓羅天」,sesungguhnya Beliau adalah Burung Agung Bersayap Emas 「大鵬金翅鳥/ Da peng jin chi niao」,yang sering kita bahas, disebut juga Burung Bersayap Agung「羽翅鳥/ Yu chi niao」. Sebab bulu sayap Nya sangat berharga, oleh karena itu juga disebut sebagai Burung Bersayap Emas 「金翅鳥 / Jin Chi Niao」, sebutan untuk Beliau ada banyak.

Vahana (tunggangan) dari Maha-brahma adalah Tujuh ekor angsa putih. Vahana dari Mahesvara adalah lembu putih. Bagaimana dengan Dewa Pemelihara, Visnu atau Dewa Subha-krtsna ? Vahana-Nya adalah Garuda. Garuda merupakan salah satu Dewata Agung dalam Agama Hindu. .. Mereka juga sangat menghormati lembu Dewa Mahesvara. Lambang negara Indonesia adalah Garuda.

Raja Garuda memiliki wujud burung, Dharmabhala Nya adalah yang nomor satu di antara amanusIa (makhluk bukan manusia) . Jadi yang hari ini hadir menerima abhiseka sungguh memiliki berkah, karena Anda sekalian pasti mampu menumbuhkan Dharmabhala dan Prajna (Kebijaksanaan Agung). Sayap Garuda sepanjang ribuan li, menurut ramalan cuaca hari ini bagian Utara, Selatan dan Timur Laut berawan, sedangkan bagian lainnya cerah . Namun hari ini, begitu saya lihat, ternyata sayap Garuda telah menutupi seluruh Taiwan. Jika kedua sayap Nya dibentangkan , maka mampu menjangkau ribuan li, asalkan Beliau mengepakkan sayap Nya maka akan tercipta angin topan.

Bahan makanan Beliau adalah naga, di dalam Sutra Buddha ada tercatat dengan jelas, wujud Nya, kedua cakar Nya mencengkeram naga, paruh Nya mengapit naga. Sehingga Delapan Raja Naga Utama semua memohon belas kasihan, menghadap pada Buddha Sakyamuni, “Kami bangsa Naga hampir punah.” Long (mandarin) disebut Naga.
Buddha Sakyamuni yang selalu berwelas asih pada para insan bertanya kepadanya, “Anda sekalian bangsa Naga , ada masalah apa sehingga memohon kepada Saya ?” , bangsa naga menjawab : “Bangsa kami akan segera punah.” , “Kenapa demikian ?”, “Karena Garuda memangsa kami sampai hampir punah.” . Ada pepatah “Naga yang berkekuatan besar.” , sehingga pada dasarnya naga sendiri memiliki Dharmabhala yang sangat besar, namun semua kalah dengan Garuda, Naga menjadi bahan makanan Garuda.
Buddha Sakyamuni sangat welas asih, saat itu Beliau melakukan compromised、 membuat negoisasi, menjadi pimpinan negoisasi, mengumpulkan bangsa naga dan Garuda untuk bermusyawarah.Buddha Sakyamuni bertanya : “Untuk selanjutnya, bisakah Anda tidak lagi memangsa naga ?”

Garuda menjawab : “No. Naga adalah yang paling enak ! Selain itu, naga memiliki tenaga yang sangat kuat, dengan memangsa naga, kekuatanku akan bertambah, sekali terbang mampu mengitari bumi 365 putaran.” Bumi berputar satu tahun ada 365 hari, ini melambangkan betapa besar kekuatannya. Asalkan sayap dikepakkan, maka Ia sanggup mengitari bumi banyak kali. Naga menangis dan menuturkan “Kami segera punah, dimangsa olehnya sampai tersisa sedikit saja.” Putera-puteri dan cucu naga semua memohon belas kasihan, “ Buddha, mohon tolonglah kami !”

Buddha Sakyamuni serba sulit, karena Garuda hanya bisa memangsa naga.

Tiba-tiba Raja Naga mendapatkan jawabannya, beliau berkata kepada Buddha Sakyamuni : “Buddha , saya telah menemukan jawabannya !” Buddha menjawab : “Apa ide Anda ?” , “Mohon tanya wahai Garuda, jika Anda memangsa kami sampai punah, ini juga tidak bermanfaat bagi Anda.” , Garuda merasa heran , “Mengapa memangsa kalian tidak bermanfaat ?” , “Jika Anda memangsa habis kami, apa yang bisa Anda makan nantinya ?”

Garuda berpikir, “Benar juga, jika saya terus memangsanya, maka mereka akan punah, kelak saya makan apa ? saya akan kelaparan.”

Kemudian Buddha Sakyamuni mengatakan : “Saya menitahkan , kelak siswa Buddha tiap saat membuat pujana, melakukan pujana mega.” Apa itu pujana mega ? ,yaitu pujana yang dihaturkan banyak bagaikan awan awan di angkasa, ini disebut pujana mega. “Kelak yang pertama kali diundang adalah Anda, Garuda.” Garuda merasa gembira mendengar bahwa Ia diletakkan pada urutan nomor satu, Dia mengatakan : “Kelak bagaimana mengundang saya ?”“Aku menitahkan pada para siswa Buddha saat ini dan di masa yang akan datang , saat melakukan manifestasi dana makanan, maka nama Anda yang akan berada di urutan pertama : “ Wahai Garuda, dan para preta gentayangan, raksasa dan Hariti, amrta ini akan memuaskanmu. Om Mu-di Suoha. Om Mu-di Suoha. Om Mu-di Suoha” kemudian mentransformasikannya menjadi pujana yang banyak bagai awan.

Saat itu barulah Garuda menyanggupi, dan mengatakan : “Baiklah, Anda kelak menghaturkan dana makanan manifestasi untuk saya.” Sehingga Ia adalah yang paling awal menerima pujana mega, amrta yang banyak bagaikan awan di angkasa. Beliau mengatakan : “Ini adalah makanan yang paling murni, yang menumbuhkan Prajna dan Dharmabhala, selain itu juga merupakan yang paling lezat.” Semenjak Garuda memperoleh pujana mega amrta dari para siswa Buddha, Beliau melepaskan bangsa naga, sampai saat ini putera-puteri dan cucu naga masih bisa terus berketurunan lagi.

Mudra dari Adinata ini, merupakan mudra yang dibentuk menyerupai sayap burung, demikian (Mahaguru memperagakan mudra), kemudian di goyangkan tiga kali. Bagaimana dengan mantra Nya ?




Yaitu :
Om Ga-si-bo Suoha (mandarin)
Om Ksipa Svaha (Sanskrit)


http://www.youtube.com/watch?v=9W1CLQLv_78

Bagaimana dengan visualisasinya ? yaitu wujud Garuda yang seperti di altar dan thangka, dengan adanya ketiga hal ini, maka kita bisa menekuni Sadhana Garuda Yoga.

Garuda sendiri dengan sayap Nya mampu menangkal segala malapetaka, sayap Nya terbuat dari Sapta-ratna ( 7 macam mestika), sehingga Beliau mampu menangkal segala macam marabahaya, inilah Santika ( Tolak bala ). Cahaya sapta-ratna yang dipancarkan oleh Garuda juga mampu menganugerahkan Vasikarana (keharmonisan) , para insan yang berada di lokasi yang disinari oleh Nya juga akan memperoleh anugerah kesejahterahan, yaitu mampu mengadhistana (memberkati) para insan supaya memperoleh rejeki. Garuda mampu mesukseskan santika , paustika dan vasikarana. Bahkan, karena Dharmabhala Beliau sangat besar, kemampuan rddhi-pada (kemampuan untuk mengarungi berbagai alam sesuai kehendak) Beliau juga sangat kuat , dalam sekejap pikiran Beliau juga mampu mengitari bumi banyak kali. Juga, paruh dan cakar Nya mampu menaklukkan mara , mampu mencengkeram mara. Dengan Paruh Nya, Beliau juga mampu mematuk para mara. Sehingga juga mampu menitahkan supaya para pengganggu mundur, metode abhicaruka Nya (metode penaklukkan) sangat baik. Tadi Saya ada mengucapkan : “Dengan sayap Nya membawa para arwah yang didaftarkan supaya terlahir di Negeri Buddha nan murni.” Sayap Nya mampu terbang sampai ke Negeri Buddha nan murni, Beliau juga adalah vahana dari Dewata Subha-krtsna, yaitu merupakan vahana dari Dewa Vishnu.

Dharmabhala Garuda adalah yang nomor satu diantara para amanusya, kenapa disebut amanusya ? Karena Beliau bukan manusia, disebut juga sebagai amanusya, juga bukan tampil dengan wujud Buddha, Bodhisattva, Arahat, ataupun wujud Dewa. Diantara para amanusya, yang memiliki Dharmabhala paling besar adalah Garuda.

Menekuni sadhana adinata Garuda sangat mudah memperoleh yukta. Tadi saat melakukan simabandhana diri, ada Vajrapani Bodhisattva dan di depan Nya ada Garuda, sehingga kita melakukan simabandhana diri sama saja dengan menghadirkan dua adinata yaitu Vajrapani dan Arya Garuda, Garuda juga menyatu dalam tubuh saya. Sehingga Adinata ini diantara para amanusya memiliki Dharmabhala yang number one !

Jika Anda mampu beryukta dengan Garuda, Negeri Buddha yang manakah yang tidak dapat Anda kunjungi ? Asalkan Beliau hadir untuk membawa Anda, sayap dikepakkan tiga kali, langsung mencapai Sukhavatiloka. Ini sungguh penting !

(ket penterjemah : Dalam Buddhisme, makhluk yang masih terperdaya oleh samsara tidak akan bisa sampai di Sukhavati-loka. Sebab Sukhavati-loka sesungguhnya bukan nama tempat dalam artian harafiah, melainkan adalah Negeri Buddha yang merupakan manifestasi batin murni yang tak tercemar oleh samsara.)

Apa maksudnya dengan amanusya ? Yaitu bukan manusia, Garuda merupakan makhluk yang memiliki Dharmabhala besar , memang sudah ada saat jaman Sang Buddha, di India sendiri sebenarnya sudah ada, Beliau adalah vahana dari Dewa Vishnu. Namun Anda tidak boleh mengatakan bahwa Beliau adalah hewan, kita harus sopan dengan mengatakan bahwa Beliau bukan golongan manusia, Namun Beliau juga termasuk golongan Dewata ! Garuda kita adalah Dewa, memiliki Dharmabhala yang agung. Sehingga Anda tidak boleh mengatakan bahwa Garuda adalah hewan, karena Beliau adalah Hyang Arya, maka kita sebut Beliau sebagai Arya Garuda, Beliau melindungi Dharma, Beliau mampu menaklukkan semua kejahatan, baik itu orang jahat maupun mara jahat.

diambil dari :
Source : Dharma-raja Liansheng Dharmatalk 26 / 11 / 2011
Translated by Lianhua Ĵυή Shi An
http://www.wihara.com/forum/deities/11484-garuda-bersayap-mas.html

Kamis, 22 September 2011

Garuda_Garudamukha



Merah putih sebagai bendera nasional secara resmi telah berkibar pada saat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 50 tahun yang silam dan pastilah bendera nasional ini akan selalu dan selamanya berkibar di atas bumi persada tercinta, Nusantara.
Di samping bendera merah putih, tidak dapat dipisahkan adalah lambang negara Garuda Pancasila. Bagaimanakah burung gagah perkasa ini bisa ditetapkan sebagai lambang negara? Kiranya dalam suasana menyambut dan memeriahkan tahun emas kemerdekaan Republik Indonesia, kita telusuri kembali makna Garuda yang dikenal pula sebagai burung merah putih baik dalam alam pikiran prasejarah, peninggalan purbakala, dalam karya sastra maupun pandangan hidup bangsa Indonesia di masa yang silam.
Bila kita telusuri peninggalan prasejarah di Indonesia, lukisan burung garuda atau bulu burung garuda dapat ditemukan pada nekara perunggu tipe Pejeng dan cetakan batu dari desa Manuaba. Kecuali burung garuda, pada masa itu telah dikenal pula beberapa jenis burung tertentu seperti enggang dan merak yang dianggap mengandung arti magis-simbolis. Di antara berbagai lukisan burung itu, hiasan burung garuda sangat digemari.
Burung garuda adalah burung matahari atau burung rajawali yang dianggap sebagai lambang dunia atas (Sutaba, 1976,14, Van der Hoop, 1949:178). Lukisan atau relief burung garuda dikenal pula pada masa prasejarah Hindia, yakni ditemukannya lukisan di Harappa (lembah sungai Sindhu) berupa gambar seekor burung garuda yang sedang membabarkan sayapnya dan kepalanya berpaling ke arah kiri. Di atas masing-masing sayapnya terdapat beberapa ekor ular. Burung elang atau garuda yang dilukiskan bersama-sama ular merupakan dasar bentuk binatang garuda yang merupakan wahana dewa Visnu di India, dilukiskan melayang-layang mencucuk seekor ular di paruhnya (Wiryosuparto, 1956: 21). Selanjutnya di dalam Rigveda yang merupakan sumber ajaran agama Hindu dilukiskan berbagai aspek keagungan Tuhan Yang Mahaesa dengan berbagai nama atau wujud seperti Agni, Yama, Varuna, Mitra dan Garutma atau garuda. Kemahakuasaan-Nya bagaikan garuda keemasan yang menurunkan hujan menganugrahkan kemakmuran (Ågveda I.164.46,47,52).
Dalam perkembangan sejarah kebudayaan Nusantara, burung garuda yang terkenal dalam wiracarita Hindu ternyata mempengaruhi kesenian Indonesia (Stutterheim,1926:333), misalnya arca garuda wahana Visnu yang digambarkan sebagai manusia biasa hanya kepalanya diberi bentuk kepala burung(Wiyosuparto,1957: 54). Arca garuda sebagai wahana Visnu yang lain dapat kita ketahui dari gambar sayap burung garuda pada kaki arca Visnu dari candi Banon dan arca garuda mendukung dewa Visnu dari candi Belahan (Kempers,1959: 37,71). Dalam bentuk pahatan relief dapat kita ketahui dari relief garuda menyembah Visnu yang didukung oleh naga Ananta, salah satu episode dari ceritra Ràmàyana pada relief candi Úiva, Prambanan, relief garuda pada candi Kidal, Kedaton dan Sukuh(Ibid,74,97,102). Pada umumnya relief-relief garuda pada candi-candi tersebut mempunyai pertalian yang erat sekali dengan ceritra Amåta (air kehidupan abadi) seperti dilukisakan secara gamblang di candi Kidal yang mengandung magis-simbolis yakni sebagai lambang kalepasan atau kebebasan jiwa dari seseorang yang telah meninggal dunia (Sutaba,1976:4).
Relief garuda pada candi Kedaton, ceritranya hampir sama dengan garuda pada candi Kidal. Pada candi ini kita melihat relief ibudari Garuda yang bernama dewi Vinata, Garuda sedang menikmati makanan yang diperintahkan oleh ibunya, ia dilarang memakan Brahmana yang masuk kemulutnya (Kempers, 1959:97).Dalam pelinggalan epigrafis, cap atau stempel Garudamukha pertama kali dipakai oleh Úri Mahàràja Balitung (808-910) yang memerintah di Jawa Tengah. Sejak pertengahan abad X sampai permulaan abad XIII burung garuda dijadikan lencana kepala negara terutama yang sangat terkenal adalah cap Garudamukha yang dipakai oleh Prabhu Airlangga (1016-1042). Cap Garudamukha dipakai tidak saja pada piagam negara melainkan terutama menguatkan surat-surat atau tulisan di atas batu yang dipakai sebagai tanda pemberian tanah kepada Talan oleh Airlangga dalam tahun 1039 dengan dibubuhi cap Garudhamukha itu, anugrah ini dikuatkan lagi oleh raja Jayabhaya yang memerintah Kadiri dalam abad XII. Rupanya terus-menerus sejak Airlangga sampai kepada Kertajaya, raja Kadiri yang paling akhir (1222), Garudamukha dipakai sebagai cap kepala negara. Di antaranya juga oleh raja Jayabhaya yang sampai kini menjadi terkenal namanya sebagai pemegang lambang dan nujum ke arah masa depan (Yamin, 1954:130,134).



Ceritra dan peranan sang Garuda rupanya sangat populer di dalam kesusastraan Jawa Kuno. Hal ini dapat kita ketahui dalam kakawin Ràmàyana, yakni episode Garuda yang gagah perkasa dengan kekuatannya yang dahsyat mampu membebaskan Sri Ràma dan seluruh pengikutnya dari belenggu ikatan naga tali yang dilemparkan oleh putra Ravana bernama Indrajit (Ràm,XXI,149-155).
Di dalam Àdiparva kita jumpai episode kelahiran sang Garuda serta missi yang diembannya untuk membebaskan ibu kandungnya dari perbudakan atau penjajahan yang dilakukan oleh sang Kadru (Àdiparva, VI) sedang di dalam kakawin Bhomàntaka dijelaskan peranan sang Garuda membantu Úri Kåûóa yang bertempur menghadapi raja raksasa yang bernama Bhoma. Garuda dengan kibasan sayapnya menyebabkan terpental dan lepasnya mahkota milik sang Bhoma yang berisi permata ajimat bernama Vijayamàlà. Vijayamàlà ini segera diambil oleh sang Garuda yang menerbangkannya jauh tinggi dan kemudian Úri Kåûóa berhasil memenggal leher sang Boma, kepalanya dengan wajahnya yang menyeringai jatuh kepangkuan ibu pertiwi (Bhomàntaka,CVIII.1-4).
Rupanya episode ini mengilhami para arsitek tradisional Bali (undagi/sangging) untuk menempatkan ukiran Bhoma di atas pintu (ambang) Kori Agung, pintu masuk sebuah pura.
Lebih jauh di dalam kakawin Bhàratayuddha disebutkan bahwa kereta Úri Kåûóa dihiasi bendera (dvaja) berwujud raja burung, yakni Garuda yang seakan-akan berteriak di angkasa diikuti oleh gemuruhnya suara gamelan (IX.10). Pada episode berikutnya dijelaskan gelar perang (formasi menyerang dan bertahan) yang disebut Garudavyùha. Drupada sebagai kepala, paruhnya adalah Arjuna, punggungnya para raja yang dipimpin oleh Yudhistira. Dåûþadyumna dan bala tentaranya sebagai sayap kanan, Bhima mengambil formasi sebagai sayap kiri. Satyaki sebagai ekor burung garuda. Formasi tempur Garudavyùha ini ditiru pula oleh pihak lawan, yakni Kaurava yang dipimpin oleh Suyodhana (XII.6-8).Di samping dalam karya sastra berbahasa Jawa Kuno tersebut di atas, dalam puja atau stuti dan stava para pandita Hindu di Bali dapat dijumpai sebuah mantra atau stava yang disebut Gàrudeyamantra. Mantra ini pertama kali ditemukan di puri Cakranegara, Lombok dan telah diedit oleh Juynboll (1927) yang dikutip pula oleh Mr.Muhammad Yamin dalam bukunya 6000 Tahun Sang Merah Putih (1954:130).
Mantra ini diucapkan oleh para pandita sesaat sebelum menikmati hidangan untuk mencegah racun yang mungkin terdapat dalam makanan tersebut. Berikut dikutipkan terjemahan mantra, tersebut :
“Garuda adalah burung yang sangat berkesan dan menakutkan, giginya tajam, matanya merah. Paruhnya besar dan lehernya panjang, memiliki kecepatan bergerak bagaikan angin ″.
“Kedua lututnya berwarna emas, perutnya berbentuk gunung, lehernya bercahaya bagaikan sinar matahari dan kepalanya nampak seperti cahaya berpijar ″.
“Warna bulunya kuning mengesankan. dari kakinya sampai ke lutut. Warna tubuhnya putih mengesankan dari pahanya sampai ke pusarnya ″.
“Warna merah mengesankan dari hati sampai ke bawah paruh. Warna hitam mengesankan dari paruh sampai bagian atas kepalanya ″

(Hooykaas, 1971:269).
Burung garuda yang dilihat dari penampilannya sesuai terjemahan mantra di atas disebut sebagai burung merah putih yang di dalam bahasa Sanskerta disebut “Sveta-rakta- khagaá”, sebagai juga dipopulerkan oleh Prof.Mr.Muhammad Yamin salah seorang dari founding fathers bangsa kita.
Ternyata garuda tidak hanya disebut-sebut dalam karya sastra tetapi menyatu dengan pandangan hidup masyarakat, terutama masyarakat Bali yang beragama Hindu. Dalam arsitektur tradisional Bali, burung garuda juga di tempatkan di belakang bangunan suci Padmàsana, Gedong Bata, Bade (menara pengusung jenasah dalam upacara Ngaben), pada “tugeh” (tiang penyangga atap puncak) pada Bale Dangin (balai tempat menyelenggarakan upacara kematian) dan lain-lain, bahkan di dalam sesajenpun, khususnya “banten pasucian” dalam tingkatan upacara yang besar terdapat juga sesajen bernama “Banten Garuda”. Juga banten pangesoring Sùrya dan Ulam Babangkitpun menurut lontar Kunadåûþaprakåtti menggunakan sate berbentuk garuda”.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, garuda dalam alam pikiran bangsa Indonesia di masa yang lalu maupun masyarakat Bali kini tetap berpegang kepada nilai filosofis atau makna garuda sebagai salah satu aspek kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Esa, sebagai burung merah putih (sveta-rakta-khagah) yang mempunyai missi untuk membebaskan umat manusia dari belenggu perbudakan atau penjajahan, baik penjajahan jasmani maupun belenggu dunia material yang menyesatkan.
Sungguh sangat tepat pilihan para pendiri negara, menjadikan Garuda yang kakinya mencengkram sasanti Bhineka Tunggal Ika dan di dadanya tergantung perisai sebagai simbolis Pancasila, lengkap dengan Candrasangkalanya, 17-8-45, sebagai lambang negara yang kita cintai. Semoga misi garuda Pancasila membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan dalam wujud kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan segera tuntas dan entas oleh kibasan sayapnya yang perkasa.

diambil dari :
sasananuswantara.wordpress.com