Tampilkan postingan dengan label Garuda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Garuda. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2012

Garuda dalam agama Buddha







Dewa Garuda,dalam pelafalan mandarin adalah Jia-lou-luo Tian 「迦樓羅天」,sesungguhnya Beliau adalah Burung Agung Bersayap Emas 「大鵬金翅鳥/ Da peng jin chi niao」,yang sering kita bahas, disebut juga Burung Bersayap Agung「羽翅鳥/ Yu chi niao」. Sebab bulu sayap Nya sangat berharga, oleh karena itu juga disebut sebagai Burung Bersayap Emas 「金翅鳥 / Jin Chi Niao」, sebutan untuk Beliau ada banyak.

Vahana (tunggangan) dari Maha-brahma adalah Tujuh ekor angsa putih. Vahana dari Mahesvara adalah lembu putih. Bagaimana dengan Dewa Pemelihara, Visnu atau Dewa Subha-krtsna ? Vahana-Nya adalah Garuda. Garuda merupakan salah satu Dewata Agung dalam Agama Hindu. .. Mereka juga sangat menghormati lembu Dewa Mahesvara. Lambang negara Indonesia adalah Garuda.

Raja Garuda memiliki wujud burung, Dharmabhala Nya adalah yang nomor satu di antara amanusIa (makhluk bukan manusia) . Jadi yang hari ini hadir menerima abhiseka sungguh memiliki berkah, karena Anda sekalian pasti mampu menumbuhkan Dharmabhala dan Prajna (Kebijaksanaan Agung). Sayap Garuda sepanjang ribuan li, menurut ramalan cuaca hari ini bagian Utara, Selatan dan Timur Laut berawan, sedangkan bagian lainnya cerah . Namun hari ini, begitu saya lihat, ternyata sayap Garuda telah menutupi seluruh Taiwan. Jika kedua sayap Nya dibentangkan , maka mampu menjangkau ribuan li, asalkan Beliau mengepakkan sayap Nya maka akan tercipta angin topan.

Bahan makanan Beliau adalah naga, di dalam Sutra Buddha ada tercatat dengan jelas, wujud Nya, kedua cakar Nya mencengkeram naga, paruh Nya mengapit naga. Sehingga Delapan Raja Naga Utama semua memohon belas kasihan, menghadap pada Buddha Sakyamuni, “Kami bangsa Naga hampir punah.” Long (mandarin) disebut Naga.
Buddha Sakyamuni yang selalu berwelas asih pada para insan bertanya kepadanya, “Anda sekalian bangsa Naga , ada masalah apa sehingga memohon kepada Saya ?” , bangsa naga menjawab : “Bangsa kami akan segera punah.” , “Kenapa demikian ?”, “Karena Garuda memangsa kami sampai hampir punah.” . Ada pepatah “Naga yang berkekuatan besar.” , sehingga pada dasarnya naga sendiri memiliki Dharmabhala yang sangat besar, namun semua kalah dengan Garuda, Naga menjadi bahan makanan Garuda.
Buddha Sakyamuni sangat welas asih, saat itu Beliau melakukan compromised、 membuat negoisasi, menjadi pimpinan negoisasi, mengumpulkan bangsa naga dan Garuda untuk bermusyawarah.Buddha Sakyamuni bertanya : “Untuk selanjutnya, bisakah Anda tidak lagi memangsa naga ?”

Garuda menjawab : “No. Naga adalah yang paling enak ! Selain itu, naga memiliki tenaga yang sangat kuat, dengan memangsa naga, kekuatanku akan bertambah, sekali terbang mampu mengitari bumi 365 putaran.” Bumi berputar satu tahun ada 365 hari, ini melambangkan betapa besar kekuatannya. Asalkan sayap dikepakkan, maka Ia sanggup mengitari bumi banyak kali. Naga menangis dan menuturkan “Kami segera punah, dimangsa olehnya sampai tersisa sedikit saja.” Putera-puteri dan cucu naga semua memohon belas kasihan, “ Buddha, mohon tolonglah kami !”

Buddha Sakyamuni serba sulit, karena Garuda hanya bisa memangsa naga.

Tiba-tiba Raja Naga mendapatkan jawabannya, beliau berkata kepada Buddha Sakyamuni : “Buddha , saya telah menemukan jawabannya !” Buddha menjawab : “Apa ide Anda ?” , “Mohon tanya wahai Garuda, jika Anda memangsa kami sampai punah, ini juga tidak bermanfaat bagi Anda.” , Garuda merasa heran , “Mengapa memangsa kalian tidak bermanfaat ?” , “Jika Anda memangsa habis kami, apa yang bisa Anda makan nantinya ?”

Garuda berpikir, “Benar juga, jika saya terus memangsanya, maka mereka akan punah, kelak saya makan apa ? saya akan kelaparan.”

Kemudian Buddha Sakyamuni mengatakan : “Saya menitahkan , kelak siswa Buddha tiap saat membuat pujana, melakukan pujana mega.” Apa itu pujana mega ? ,yaitu pujana yang dihaturkan banyak bagaikan awan awan di angkasa, ini disebut pujana mega. “Kelak yang pertama kali diundang adalah Anda, Garuda.” Garuda merasa gembira mendengar bahwa Ia diletakkan pada urutan nomor satu, Dia mengatakan : “Kelak bagaimana mengundang saya ?”“Aku menitahkan pada para siswa Buddha saat ini dan di masa yang akan datang , saat melakukan manifestasi dana makanan, maka nama Anda yang akan berada di urutan pertama : “ Wahai Garuda, dan para preta gentayangan, raksasa dan Hariti, amrta ini akan memuaskanmu. Om Mu-di Suoha. Om Mu-di Suoha. Om Mu-di Suoha” kemudian mentransformasikannya menjadi pujana yang banyak bagai awan.

Saat itu barulah Garuda menyanggupi, dan mengatakan : “Baiklah, Anda kelak menghaturkan dana makanan manifestasi untuk saya.” Sehingga Ia adalah yang paling awal menerima pujana mega, amrta yang banyak bagaikan awan di angkasa. Beliau mengatakan : “Ini adalah makanan yang paling murni, yang menumbuhkan Prajna dan Dharmabhala, selain itu juga merupakan yang paling lezat.” Semenjak Garuda memperoleh pujana mega amrta dari para siswa Buddha, Beliau melepaskan bangsa naga, sampai saat ini putera-puteri dan cucu naga masih bisa terus berketurunan lagi.

Mudra dari Adinata ini, merupakan mudra yang dibentuk menyerupai sayap burung, demikian (Mahaguru memperagakan mudra), kemudian di goyangkan tiga kali. Bagaimana dengan mantra Nya ?




Yaitu :
Om Ga-si-bo Suoha (mandarin)
Om Ksipa Svaha (Sanskrit)


http://www.youtube.com/watch?v=9W1CLQLv_78

Bagaimana dengan visualisasinya ? yaitu wujud Garuda yang seperti di altar dan thangka, dengan adanya ketiga hal ini, maka kita bisa menekuni Sadhana Garuda Yoga.

Garuda sendiri dengan sayap Nya mampu menangkal segala malapetaka, sayap Nya terbuat dari Sapta-ratna ( 7 macam mestika), sehingga Beliau mampu menangkal segala macam marabahaya, inilah Santika ( Tolak bala ). Cahaya sapta-ratna yang dipancarkan oleh Garuda juga mampu menganugerahkan Vasikarana (keharmonisan) , para insan yang berada di lokasi yang disinari oleh Nya juga akan memperoleh anugerah kesejahterahan, yaitu mampu mengadhistana (memberkati) para insan supaya memperoleh rejeki. Garuda mampu mesukseskan santika , paustika dan vasikarana. Bahkan, karena Dharmabhala Beliau sangat besar, kemampuan rddhi-pada (kemampuan untuk mengarungi berbagai alam sesuai kehendak) Beliau juga sangat kuat , dalam sekejap pikiran Beliau juga mampu mengitari bumi banyak kali. Juga, paruh dan cakar Nya mampu menaklukkan mara , mampu mencengkeram mara. Dengan Paruh Nya, Beliau juga mampu mematuk para mara. Sehingga juga mampu menitahkan supaya para pengganggu mundur, metode abhicaruka Nya (metode penaklukkan) sangat baik. Tadi Saya ada mengucapkan : “Dengan sayap Nya membawa para arwah yang didaftarkan supaya terlahir di Negeri Buddha nan murni.” Sayap Nya mampu terbang sampai ke Negeri Buddha nan murni, Beliau juga adalah vahana dari Dewata Subha-krtsna, yaitu merupakan vahana dari Dewa Vishnu.

Dharmabhala Garuda adalah yang nomor satu diantara para amanusya, kenapa disebut amanusya ? Karena Beliau bukan manusia, disebut juga sebagai amanusya, juga bukan tampil dengan wujud Buddha, Bodhisattva, Arahat, ataupun wujud Dewa. Diantara para amanusya, yang memiliki Dharmabhala paling besar adalah Garuda.

Menekuni sadhana adinata Garuda sangat mudah memperoleh yukta. Tadi saat melakukan simabandhana diri, ada Vajrapani Bodhisattva dan di depan Nya ada Garuda, sehingga kita melakukan simabandhana diri sama saja dengan menghadirkan dua adinata yaitu Vajrapani dan Arya Garuda, Garuda juga menyatu dalam tubuh saya. Sehingga Adinata ini diantara para amanusya memiliki Dharmabhala yang number one !

Jika Anda mampu beryukta dengan Garuda, Negeri Buddha yang manakah yang tidak dapat Anda kunjungi ? Asalkan Beliau hadir untuk membawa Anda, sayap dikepakkan tiga kali, langsung mencapai Sukhavatiloka. Ini sungguh penting !

(ket penterjemah : Dalam Buddhisme, makhluk yang masih terperdaya oleh samsara tidak akan bisa sampai di Sukhavati-loka. Sebab Sukhavati-loka sesungguhnya bukan nama tempat dalam artian harafiah, melainkan adalah Negeri Buddha yang merupakan manifestasi batin murni yang tak tercemar oleh samsara.)

Apa maksudnya dengan amanusya ? Yaitu bukan manusia, Garuda merupakan makhluk yang memiliki Dharmabhala besar , memang sudah ada saat jaman Sang Buddha, di India sendiri sebenarnya sudah ada, Beliau adalah vahana dari Dewa Vishnu. Namun Anda tidak boleh mengatakan bahwa Beliau adalah hewan, kita harus sopan dengan mengatakan bahwa Beliau bukan golongan manusia, Namun Beliau juga termasuk golongan Dewata ! Garuda kita adalah Dewa, memiliki Dharmabhala yang agung. Sehingga Anda tidak boleh mengatakan bahwa Garuda adalah hewan, karena Beliau adalah Hyang Arya, maka kita sebut Beliau sebagai Arya Garuda, Beliau melindungi Dharma, Beliau mampu menaklukkan semua kejahatan, baik itu orang jahat maupun mara jahat.

diambil dari :
Source : Dharma-raja Liansheng Dharmatalk 26 / 11 / 2011
Translated by Lianhua Ĵυή Shi An
http://www.wihara.com/forum/deities/11484-garuda-bersayap-mas.html

Kamis, 22 September 2011

Garuda_Garudamukha



Merah putih sebagai bendera nasional secara resmi telah berkibar pada saat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 50 tahun yang silam dan pastilah bendera nasional ini akan selalu dan selamanya berkibar di atas bumi persada tercinta, Nusantara.
Di samping bendera merah putih, tidak dapat dipisahkan adalah lambang negara Garuda Pancasila. Bagaimanakah burung gagah perkasa ini bisa ditetapkan sebagai lambang negara? Kiranya dalam suasana menyambut dan memeriahkan tahun emas kemerdekaan Republik Indonesia, kita telusuri kembali makna Garuda yang dikenal pula sebagai burung merah putih baik dalam alam pikiran prasejarah, peninggalan purbakala, dalam karya sastra maupun pandangan hidup bangsa Indonesia di masa yang silam.
Bila kita telusuri peninggalan prasejarah di Indonesia, lukisan burung garuda atau bulu burung garuda dapat ditemukan pada nekara perunggu tipe Pejeng dan cetakan batu dari desa Manuaba. Kecuali burung garuda, pada masa itu telah dikenal pula beberapa jenis burung tertentu seperti enggang dan merak yang dianggap mengandung arti magis-simbolis. Di antara berbagai lukisan burung itu, hiasan burung garuda sangat digemari.
Burung garuda adalah burung matahari atau burung rajawali yang dianggap sebagai lambang dunia atas (Sutaba, 1976,14, Van der Hoop, 1949:178). Lukisan atau relief burung garuda dikenal pula pada masa prasejarah Hindia, yakni ditemukannya lukisan di Harappa (lembah sungai Sindhu) berupa gambar seekor burung garuda yang sedang membabarkan sayapnya dan kepalanya berpaling ke arah kiri. Di atas masing-masing sayapnya terdapat beberapa ekor ular. Burung elang atau garuda yang dilukiskan bersama-sama ular merupakan dasar bentuk binatang garuda yang merupakan wahana dewa Visnu di India, dilukiskan melayang-layang mencucuk seekor ular di paruhnya (Wiryosuparto, 1956: 21). Selanjutnya di dalam Rigveda yang merupakan sumber ajaran agama Hindu dilukiskan berbagai aspek keagungan Tuhan Yang Mahaesa dengan berbagai nama atau wujud seperti Agni, Yama, Varuna, Mitra dan Garutma atau garuda. Kemahakuasaan-Nya bagaikan garuda keemasan yang menurunkan hujan menganugrahkan kemakmuran (Ågveda I.164.46,47,52).
Dalam perkembangan sejarah kebudayaan Nusantara, burung garuda yang terkenal dalam wiracarita Hindu ternyata mempengaruhi kesenian Indonesia (Stutterheim,1926:333), misalnya arca garuda wahana Visnu yang digambarkan sebagai manusia biasa hanya kepalanya diberi bentuk kepala burung(Wiyosuparto,1957: 54). Arca garuda sebagai wahana Visnu yang lain dapat kita ketahui dari gambar sayap burung garuda pada kaki arca Visnu dari candi Banon dan arca garuda mendukung dewa Visnu dari candi Belahan (Kempers,1959: 37,71). Dalam bentuk pahatan relief dapat kita ketahui dari relief garuda menyembah Visnu yang didukung oleh naga Ananta, salah satu episode dari ceritra Ràmàyana pada relief candi Úiva, Prambanan, relief garuda pada candi Kidal, Kedaton dan Sukuh(Ibid,74,97,102). Pada umumnya relief-relief garuda pada candi-candi tersebut mempunyai pertalian yang erat sekali dengan ceritra Amåta (air kehidupan abadi) seperti dilukisakan secara gamblang di candi Kidal yang mengandung magis-simbolis yakni sebagai lambang kalepasan atau kebebasan jiwa dari seseorang yang telah meninggal dunia (Sutaba,1976:4).
Relief garuda pada candi Kedaton, ceritranya hampir sama dengan garuda pada candi Kidal. Pada candi ini kita melihat relief ibudari Garuda yang bernama dewi Vinata, Garuda sedang menikmati makanan yang diperintahkan oleh ibunya, ia dilarang memakan Brahmana yang masuk kemulutnya (Kempers, 1959:97).Dalam pelinggalan epigrafis, cap atau stempel Garudamukha pertama kali dipakai oleh Úri Mahàràja Balitung (808-910) yang memerintah di Jawa Tengah. Sejak pertengahan abad X sampai permulaan abad XIII burung garuda dijadikan lencana kepala negara terutama yang sangat terkenal adalah cap Garudamukha yang dipakai oleh Prabhu Airlangga (1016-1042). Cap Garudamukha dipakai tidak saja pada piagam negara melainkan terutama menguatkan surat-surat atau tulisan di atas batu yang dipakai sebagai tanda pemberian tanah kepada Talan oleh Airlangga dalam tahun 1039 dengan dibubuhi cap Garudhamukha itu, anugrah ini dikuatkan lagi oleh raja Jayabhaya yang memerintah Kadiri dalam abad XII. Rupanya terus-menerus sejak Airlangga sampai kepada Kertajaya, raja Kadiri yang paling akhir (1222), Garudamukha dipakai sebagai cap kepala negara. Di antaranya juga oleh raja Jayabhaya yang sampai kini menjadi terkenal namanya sebagai pemegang lambang dan nujum ke arah masa depan (Yamin, 1954:130,134).



Ceritra dan peranan sang Garuda rupanya sangat populer di dalam kesusastraan Jawa Kuno. Hal ini dapat kita ketahui dalam kakawin Ràmàyana, yakni episode Garuda yang gagah perkasa dengan kekuatannya yang dahsyat mampu membebaskan Sri Ràma dan seluruh pengikutnya dari belenggu ikatan naga tali yang dilemparkan oleh putra Ravana bernama Indrajit (Ràm,XXI,149-155).
Di dalam Àdiparva kita jumpai episode kelahiran sang Garuda serta missi yang diembannya untuk membebaskan ibu kandungnya dari perbudakan atau penjajahan yang dilakukan oleh sang Kadru (Àdiparva, VI) sedang di dalam kakawin Bhomàntaka dijelaskan peranan sang Garuda membantu Úri Kåûóa yang bertempur menghadapi raja raksasa yang bernama Bhoma. Garuda dengan kibasan sayapnya menyebabkan terpental dan lepasnya mahkota milik sang Bhoma yang berisi permata ajimat bernama Vijayamàlà. Vijayamàlà ini segera diambil oleh sang Garuda yang menerbangkannya jauh tinggi dan kemudian Úri Kåûóa berhasil memenggal leher sang Boma, kepalanya dengan wajahnya yang menyeringai jatuh kepangkuan ibu pertiwi (Bhomàntaka,CVIII.1-4).
Rupanya episode ini mengilhami para arsitek tradisional Bali (undagi/sangging) untuk menempatkan ukiran Bhoma di atas pintu (ambang) Kori Agung, pintu masuk sebuah pura.
Lebih jauh di dalam kakawin Bhàratayuddha disebutkan bahwa kereta Úri Kåûóa dihiasi bendera (dvaja) berwujud raja burung, yakni Garuda yang seakan-akan berteriak di angkasa diikuti oleh gemuruhnya suara gamelan (IX.10). Pada episode berikutnya dijelaskan gelar perang (formasi menyerang dan bertahan) yang disebut Garudavyùha. Drupada sebagai kepala, paruhnya adalah Arjuna, punggungnya para raja yang dipimpin oleh Yudhistira. Dåûþadyumna dan bala tentaranya sebagai sayap kanan, Bhima mengambil formasi sebagai sayap kiri. Satyaki sebagai ekor burung garuda. Formasi tempur Garudavyùha ini ditiru pula oleh pihak lawan, yakni Kaurava yang dipimpin oleh Suyodhana (XII.6-8).Di samping dalam karya sastra berbahasa Jawa Kuno tersebut di atas, dalam puja atau stuti dan stava para pandita Hindu di Bali dapat dijumpai sebuah mantra atau stava yang disebut Gàrudeyamantra. Mantra ini pertama kali ditemukan di puri Cakranegara, Lombok dan telah diedit oleh Juynboll (1927) yang dikutip pula oleh Mr.Muhammad Yamin dalam bukunya 6000 Tahun Sang Merah Putih (1954:130).
Mantra ini diucapkan oleh para pandita sesaat sebelum menikmati hidangan untuk mencegah racun yang mungkin terdapat dalam makanan tersebut. Berikut dikutipkan terjemahan mantra, tersebut :
“Garuda adalah burung yang sangat berkesan dan menakutkan, giginya tajam, matanya merah. Paruhnya besar dan lehernya panjang, memiliki kecepatan bergerak bagaikan angin ″.
“Kedua lututnya berwarna emas, perutnya berbentuk gunung, lehernya bercahaya bagaikan sinar matahari dan kepalanya nampak seperti cahaya berpijar ″.
“Warna bulunya kuning mengesankan. dari kakinya sampai ke lutut. Warna tubuhnya putih mengesankan dari pahanya sampai ke pusarnya ″.
“Warna merah mengesankan dari hati sampai ke bawah paruh. Warna hitam mengesankan dari paruh sampai bagian atas kepalanya ″

(Hooykaas, 1971:269).
Burung garuda yang dilihat dari penampilannya sesuai terjemahan mantra di atas disebut sebagai burung merah putih yang di dalam bahasa Sanskerta disebut “Sveta-rakta- khagaá”, sebagai juga dipopulerkan oleh Prof.Mr.Muhammad Yamin salah seorang dari founding fathers bangsa kita.
Ternyata garuda tidak hanya disebut-sebut dalam karya sastra tetapi menyatu dengan pandangan hidup masyarakat, terutama masyarakat Bali yang beragama Hindu. Dalam arsitektur tradisional Bali, burung garuda juga di tempatkan di belakang bangunan suci Padmàsana, Gedong Bata, Bade (menara pengusung jenasah dalam upacara Ngaben), pada “tugeh” (tiang penyangga atap puncak) pada Bale Dangin (balai tempat menyelenggarakan upacara kematian) dan lain-lain, bahkan di dalam sesajenpun, khususnya “banten pasucian” dalam tingkatan upacara yang besar terdapat juga sesajen bernama “Banten Garuda”. Juga banten pangesoring Sùrya dan Ulam Babangkitpun menurut lontar Kunadåûþaprakåtti menggunakan sate berbentuk garuda”.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, garuda dalam alam pikiran bangsa Indonesia di masa yang lalu maupun masyarakat Bali kini tetap berpegang kepada nilai filosofis atau makna garuda sebagai salah satu aspek kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Esa, sebagai burung merah putih (sveta-rakta-khagah) yang mempunyai missi untuk membebaskan umat manusia dari belenggu perbudakan atau penjajahan, baik penjajahan jasmani maupun belenggu dunia material yang menyesatkan.
Sungguh sangat tepat pilihan para pendiri negara, menjadikan Garuda yang kakinya mencengkram sasanti Bhineka Tunggal Ika dan di dadanya tergantung perisai sebagai simbolis Pancasila, lengkap dengan Candrasangkalanya, 17-8-45, sebagai lambang negara yang kita cintai. Semoga misi garuda Pancasila membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan dalam wujud kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan segera tuntas dan entas oleh kibasan sayapnya yang perkasa.

diambil dari :
sasananuswantara.wordpress.com

Selasa, 22 Juni 2010

Tian Long Ba Bu


Tian Long Ba Bu / 天龍八部
Para pelindung Buddha Dharma


Mereka sudah ada sebelum ada agama Hindu dan Buddha. Setelah Sidharta menjadi sang Buddha, mereka bersama-sama menjadi pelindung sang Buddha.


Deva/Tian 天

Para Dewa terbagi dari tingkat tertinggi hingga tingkat terendah, didalamnya termasuk Brahma, Shiva, Vhisnu, Indra, Bayu, Varuna, Yama Deva, Catur Maha Raja, Bodhidruma, Hariti, dll.


Naga/Long龍

Naga versi Buddha agak sedikit berbeda dengan naga versi China. Mereka termasuk golongan ular-ular besar yang menguasai langit dan lautan. Terkadang Long disamarkan dengan Naga versi Buddha yang berasal dari India yaitu ular kobra raksasa yang berkepala banyak dan mereka menjadi musuh alami para Garuda.


Ashura/A Xiu Luo 阿修羅

Ashura / Asura / Asyura असुर(阿修羅 A xiu luo) adalah adalah makhluk mitologi yang berasal dari India (kemudian diadopsi oleh umat Hindu dan Buddha). Di kisah2 Hindu Ashura digolongkan kedalam bangsa Detya yaitu bangsa para iblis (Yaksha, Raksasa, Ashura, dll) yang menjadi musuh para Dewa (Adetya). Kisahnya diceritakan dalam kitab Adiparwa (bab pertama Mahabarata), bermula ketika para Detya dan Adetya bahu membahu mengambil tirta amerta didasar samudra. Kemudian tirta amerta diambil oleh para dewa, para detya yang merasa mempunyai hak meminum tirta amerta pun meminta bagian mereka, tetapi oleh para dewa tirta amerta dibawa kekhayangan. Sejak itu bangsa Detya yang dipimpin oleh Ashura selalu menyerang surga Indra untuk merebut Tirta Amerta kembali.
Dalam kisah Buddhis, Ashura merupakan makhluk yang berada 6 jalur kehidupan reinkarnasi (Dewa / surga, manusia, Ashura {terkadang diletakan diatas manusia hingga Ashura dikenal sebagai 1/2 dewa}, Hewan, Neraka, setan kelaparan). Dalam jalur reinkarnasi ini, Ashura adalah semua makhluk termasuk manusia maupun dewa yang jatuh kedalam angkara murka, setelah meninggal, mereka bereinkarnasi kealam Ashura dimana para Ashura suka sekali berperang, sehingga dialam Ashura selalu ada perang. Seperti halnya manusia, Ashura ada yang baik ada pula yang jahat, beberapa Ashura yang baik bersama2 menjadi pelindung sang Buddha.
Di dalam beberapa aliran Esoterik Buddha seperti Shingon (mantrayana) dijepang menganggap Ashura sebagai salah satu pelindung Buddha, sehingga Ashura disejajarkan dengan dewa, naga, garuda, Yaksha, Kinnara, Mahoraga dan Ghandarva (selanjutnya mereka ber8 disebut Tian Lung Ba Bu / Hachi Bushu). Disini Ashura digambarkan sebagai seorang raksasa bertangan 3 pasang dan berkepala 3(muka2nya digambarkan marah dan sedih), kadang disetiap tangannya terdapat bermacam2 senjata tajam (tangan depannya beranjali, tangan2 lainnya kadang memegang panah, busur, cermin, matahari dan bulan), dia digambarkan pemarah tapi kadang murah hati tetapi suka berperang.
Dalam bahasa pali Asyura berarti seseorang yang tidak tersentuh oleh cahaya, tetapi juga bisa diterjemahkan orang yang tidak minum surah (alkhohol). Tampaknya kisah ini diambil dari salah satu kisah Ashura yang sebenarnya penguasa surga Trayastrimsha, tetapi dia diusir oleh dewa Sakra / Indra ketika mereka sedang mabuk. Ashura yang kehilangan tempat tinggalnya sejak itu selalu meyerang surga Trayastrimsha yang kini dikuasai oleh dewa Indra. Sejak itu pula Ashura bersumpah tidak akan pernah minum minuman keras lagi.


Yaksha/Ye Cha 夜叉


Yaksha 夜叉(China : Ye Cha - jepang Yasha)adalah makhluk mitologi yang berasal dari India (kemudian diadopsi oleh umat Hindu dan Buddha). Dalam kisah Hindu maupun Buddha Yaksha diceritakan sebagai makhluk halus seperti peri / bidadari yang tinggal didalam hutan dan gunung, tetapi terkadang diceritakan sebagai bangsa yang liar, kasar dan brutal sehingga Yaksha terkadang disamakan dengan para Raksasa. Yaksha laki2 biasa digambarkan dengan tubuh tinggi besar dengan sosok menakutkan, sedang Yaksha wanita atau biasa disebut Yakshi digambarkan sangat cantik, lemah gemulai dengan bagian tubuh dada dan pinggul yang besar.
Contoh Yaksha yang menjadi pelindung Buddha yaitu The 12 Jenderal langit 十二神将 yang menjadi pengawal Bhaisajyaguru Budha (Budha pengobatan / Yàoshī Rúlái).


Garuda/Jia Lou Luo 迦樓羅


Garuda 迦樓羅 (China : Jia Lou Luo - Jepang : Karura) adalah makhluk mitologi yang berasal dari India (kemudian diadopsi oleh umat Hindu dan Buddha). Garuda berwujud raksasa berkepala dan bersayap burung, bagian atas tubuhnya berwarna merah, bagian bawah tubuhnya berwarna putih, seluruh tubuhnya diliputi sinar keemasan. Apabila terbang, sayapnya menutupi langit, kepakan sayapnya menimbulkan angin besar. Ketika Garuda lahir, teriakan dan kepakan sayapnya memporak porandakan khayangan, hingga Dewa Indra turun menenangkannya. Dia memiliki banyak julukan, salah satunya yaitu Gaganesvara (penguasa langit).
Menurut kisah Adhiparwa (bab pertama Mahabaratha) dikisahkan kelahiran Garuda (disini dia dinamakan Garudeya{mungkin generasi pertama dari bangsa Garuda}), bagaimana dia diperbudak oleh kakak2nya para naga hingga melepaskan diri dari perbudakan kakak2nya dengan mencuri tirta amerta dari surga Indra hingga harus bertarung dengan dewa Indra. Dewa Indra yang kalah meminta bantuan kepada dewa Whisnu. Kemudian dewa Whisnu membebaskan Garudeya dan Ibunya dari perbudakan para naga setelah mengalahkan Garudeya (skemudian Garudeya menjadi wahana dewa Whisnu). Sejak itu para garuda yang masih mendendam kepada para naga kemudian memburu dan memakan para naga.
Setelah Sidharta menjadi Buddha, para naga datang memohon kepada sang Buddha untuk menolongnya dari ancaman para garuda. Awalnya garuda menolak utk tidak memakan para naga, kemudian sang Buddha berjanji bahwa apabila murid2 sang Buddha berdoa berkah makanan, maka Garuda juga akan mendapat berkah makanan dari murid2 sang Buddha.
Kisah ini juga erat hubungannya dengan peninggalan mantra kuno berbahasa jawa kuno yang ditemukan disebuah pura Cakranegara di lombok, mantra itu dinamakan garudeyamantra, dilafalkan pada waktu mau makan untuk menangkal racun yang mungkin ada dalam makanan atau minuman,
mantra itu berbunyi :

Putih warna ning pupu nira makahingan ing nabhi, Mirah warna ning dada nira makahingan ing gulu
(Putih adalah warna pahanya sampai ke perut, Merah adalah warna dadanya sampai ke leher)




Gandharva/Gan Ta Po 乾闥婆

Para bidadara dan bidadari (malaikat).
Keterangan lanjut lihat Kinnara


Kinnara/Jin Na Luo 緊那羅


Kinnara 緊那羅 (China :Jin Na Luo - Jepang : Kimnara), Gandharva (laki-laki) 乾闥婆 (China : Gan Ta Po - Jepang : Kendatsuba), Apsara (perempuan) 天人 Tian Ren-Tennin / 飛天 Fei Tian-Hitten / 天女 Tian Nii-Tennyo / Kalavinka 迦陵頻伽, adalah makhluk2 surgawi dari mitologi India (kemudian diadopsi oleh umat Hindu dan Buddha). Mereka semua dikatakan pandai bernyanyi, bermain musik dan menari, mereka juga disejajarkan dengan malaikat dari dunia barat, sehingga mereka dikenal sebagai malaikat (bidadara-bidadari) dari timur. Kinnara digambarkan sebagai manusia dengan bagian bawah tubuhnya berupa burung angsa (beberapa kisah di India mengatakan berbadan kuda - centaur?). Wujud Kinnara bisa kita lihat di relief di candi Agung Borobudur. Konon Kinnara pernah turun kebiara Shaolin sebagai juru masak kuil, Kinnara kemudian menciptakan masakan vegetarian yang kita kenal sekarang yaitu Luo Han Cai (Sayur vegetaris Lohan). Gandharva dan Apsara terkadang disamakan, bahkan kadang dianngap pasangan, bila Gandharva menyanyi satau bermain alat musik, maka Apsara akan menyanyi dan menari mengiringinya. Gandharva dan Apsara digambarkan seprti sosok manusia pada umumnya, hanya saja mereka sering digambarkan sedang terbang dengan selendang yang melambai2 terkadang bersayap dan berada diatas awan. Karena kesamaan ciri ciri tersebut ketiga makhluk ini juga sering disebut Kalavinka (manusia bersayap / malaikat).


Mahoraga/Ma Ho Luo Jia 摩睺羅迦

Ular yang sangat besar, berjalan dengan perutnya. Sayangnya tidak ada info jelas mengenai makhluk ini, bahkan untuk image gambarnya tidak ada. Dijepang ada arca Tian Long Ba Bu (Hachi Busshu) ini, hanya saja info mengenai Mahoraga sangat kurang sekali.

Ilustrated by: Wang'ZW (Do not copy without my permission)
Reteller by: Wang'ZW

Selasa, 01 Juni 2010

Garudheya

Mitos Garudheya hidup di kalangan masyarakat Jawa kuno, khususnya yang mendapat pengaruh Hinduisme. Mitos ini mengisahkan perjuangan seorang anak untuk membebaskan ibunya dari penderitaan. Alkisah di sebuah pertapaan, tinggal seorang resi bernama Resi Kasyapa dengan dua orang istrinya, Dewi Winata dan Dewi Kadru. Walaupun kedua istri sang resi tersebut bersaudara kandung, namun di antara keduanya terjadi persaingan keras untuk mendapatkan perhatian yang lebih dari suaminya. Oleh karena itu, keduanya merasa gelisah ketika mereka tak juga dikaruniai putra.

Pada suatu hari, Dewi Winata kedatangan seorang dewa yang menghadiahkan sebuah telur kepadanya. Dewa itu berpesan agar Dewi Winata menjaga telur itu baik-baik hingga saatnya menetas nanti dan merawat makhluk yang keluar dari dalam telur tersebut. Sang Dewi lalu menyimpan telur di tempat tersembunyi. Pada saat yang bersamaan ternyata Dewi Kadru juga mengalami hal yang sama. Setelah tiba waktunya, telur yang diberikan kepada Dewi Winata menetas dan dari dalam telur tersebut keluar seekor anak burung. Sementara itu, telur milik Dewi Kadru juga menetas dan dari dalamnya keluar beberapa ekor ular. Kedua wanita itu merawat anak-anak angkat mereka dengan baik. Anak angkat Dewi Winata tumbuh menjadi seekor garuda yang diberi nama Garudheya, sementara anak-anak Dewi Kadru tumbuh menjadi naga.

Walaupun masing-masing telah mempunyai anak angkat, persaingan di antara kedua wanita tersebut tidak mereda. Pada suatu hari, Dewi Kadru menipu kakaknya dalam sebuah taruhan, sehingga ia memenangkan taruhan tersebut. Dewi Winata yang kalah harus menjadi budak Dewi Kadru dan anak-anaknya. Garudheya sangat sedih melihat penderitaan ibunya. Setelah dewasa, Garudheya berusaha mencari cara untuk membebaskan ibunya dari perbudakan. Akhirnya Garudheya berhasil mendapatkan keterangan bahwa ibunya akan bebas dari ikatan perjanjian dengan tebusan tirta amerta (air kehidupan) yang tersimpan di kahyangan dan dijaga oleh Dewa Wisnu. Setelah melalui berbagai perjuangan, Garudheya berhasil mendapatkan izin dari Dewa Wisnu untuk mengambil tirta amerta yang diperlukan untuk meruwat (membebaskan dari penderitaan) ibunya dengan syarat ia harus menjadi tunggangan Dewa Wisnu.

Selasa, 27 April 2010

Garudeyamantra

Putih warna ning pupu nira makahingan ing nabhi, Mirah warna ning dada nira makahingan ing gulu

(Putih adalah warna pahanya sampai ke perut, Merah adalah warna dadanya sampai ke leher)

Garudeyamantra
Mantra Kuno berbahasa Jawa Kuno untuk menghormati Garuda. Ditemukan di pulau Lombok di Puri Cakranegara dilafalkan pada waktu mau makan untuk menangkal racun yang mungkin ada dalam makanan atau minuman