Tampilkan postingan dengan label Yunani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yunani. Tampilkan semua postingan
Selasa, 29 Mei 2012
Tahapan Zaman di mitologi Yunani
Dalam mitologi Yunani, perjalanan hidup manusia di bumi mengalami beberapa tahap. Kehidupan manusia diawali dengan Zaman Emas yang penuh kebahagiaan dan kemudian terus mengalami penurunan kualitas kehidupan pada zaman-zaman berikutnya sampai zaman terakhir, yaitu Zaman Besi.
Zaman Emas
Zaman Emas adalah periode pertama yang dialami oleh manusia, masa ini terjadi di bawah kekuasaan Kronos. Pada zaman ini semua manusia merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Di dunia tidak ada penyakit, perang, kesedihan, atau penderitaan. Manusia hidup bersama para dewa dan tidak perlu bekerja keras karena makanan selalu tersedia belimpah. Hanya ada satu musim, yaitu musim semi. Manusia hidup dalam waktu yang lama tapi penampilan mereka selalu muda dan manusia mati dengan damai. Manusia yang mati akan berubah menjadi roh yang tetap tinggal di bumi dan ikut menjaga umat manusia. Pada masa ini Semua manusia baik dan tidak ada yang jahat. Pada zaman ini manusia menyaksikan kejayaan para titan hingga Titanmokhia (peperangan Titan melawan para dewa). Ketika Zeus menggulingkan kekuasaan para Titan dan selimut langit runtuh, zaman emaspun berakhir
Senin, 28 Mei 2012
Asal-usul Zodiac Yunani
Apa zodiac milikmu? pernahkah kamu berpikir darimana ya asal mula adanya zodiac ini? Rasi bintang 12 zodiac berasal dari kisah2 mitologi Yunani. Langit dapat bercerita, 12 rasi bintangnya yang kini menjadi 12 zodiac juga memiliki kisah sendiri.
AQUARIUS
diasosiasikan dengan GANIMEDE, pemuda tampan yang menarik hati Zeus yang kemudian menculiknya dalam bentuk burung elang. Di Olimpus Ganimede yang diberi keabadian oleh Zeus bertugas sebagai pembawa minuman untuk disajikan kepada Zeus. Letak rasi bintang aquarius dekat dengan rasi bintang AQUILA (perwujudan Zeus). Maka jangan salah, simbol aquarius seharusnya digambarkan sebagai seorang pemuda yang menuangkan air dari guci, bukan seorang wanita / putri duyung.
AQUARIUS
diasosiasikan dengan GANIMEDE, pemuda tampan yang menarik hati Zeus yang kemudian menculiknya dalam bentuk burung elang. Di Olimpus Ganimede yang diberi keabadian oleh Zeus bertugas sebagai pembawa minuman untuk disajikan kepada Zeus. Letak rasi bintang aquarius dekat dengan rasi bintang AQUILA (perwujudan Zeus). Maka jangan salah, simbol aquarius seharusnya digambarkan sebagai seorang pemuda yang menuangkan air dari guci, bukan seorang wanita / putri duyung.
Mesir pra pendudukan bangsa Arab
Bagaimana kalian memanggil orang yang tinggal ditanah mesir? orang mesirkah? atau orang arab, karena mereka memakai bahasa arab bukannya bahasa mesir.
Minggu, 27 Mei 2012
Kisah seruling ganda (Aulos)
Athena sang dewi perang, seni dan kebijaksanaan ternyata menikmati seni musik, Dia menciptakan Aulos, seruling ganda. Dia suka memainkannya sendirian, tapi wajahnya akan merah padam ketika Hera dan Aprhodite memergokinya sedang memainkan aulos. Sewaktu memainkan alulos, pipi Athena akan menggelembung dan itu membuat Hera dan Aprhodite tertawa cekikikan melihatnya. Athena, bersama sama dengan Hera dan Aprhodite merupakan 3 dewi tercantik di Olimpus. Merasa diejek terus-menerus oleh Hera dan Aprhodite, Athena jengkel dan membuang aulos kebumi sambilmengutuknya. Kemudian dia melanjutkan hobi lamanya, membaca dan menenun.
Selasa, 17 April 2012
Herakles

Herakles adalah pahlawan besar asli Yunani, dari seorang wanita bernama Alkmene dan ayahnya adalah Zeus, raja para dewa. Alkmene adalah satu-satunya putri Elektryon, raja Mykena, dari sembilan bersaudara. Tubuhnya tinggi tegap dengan wajah elok rupawan, rambutnya tebal dan halus, bulu matanya panjang-lentik dan memiliki sepasang mata yang besar dan indah. Zeus walaupun sudah beristrikan Hera, dewi langit, juga mencintai Alkemene yang menikah dengan manusia biasa Amphytrion, raja Troezen. Saat Amphytrion pergi untuk memimpin pasukannya berperang melawan bangsa Teleboa, Zeus mendatangi Alkmene dengan perwujudan Amphytrion.
"Menang! Kita telah menghancurkan bangsa Teleboa", seru Zeus yang menyamar kepada Alkmene. Tanpa curiga Alkmene memeluk Zeus dan kemudian melewatkan malam bersamanya. Dan inilah malam yang tidak seperti malam-malam biasanya karena terdiri dari tiga malam sekaligus. Supaya bisa terlaksana, Zeus memanggil Hermes, penyampai pesan para dewa, untuk menemui dewa matahari, Helios dengan pesan : sang dewa harus berada di istananya yang cemerlang sepanjang hari, tidak pergi melintasi langit seperti yang biasa dilakukannya setiap hari. Lalu Hermes menemui sang Waktu agar tidak mengeluarkan kuda-kuda bersayap milik Helios dan keretanya yang gemerlap. Walaupun kesal, sang dewa tetap tunduk atas perintah Zeus dan absen menyambangi Bumi.

Tidak cukup sampai di situ, Hermes juga menemui Selene, sang Bulan untuk berada lebih lama di langit malam hari itu. Terakhir, Hermes menemui Hypnos, dewa Kantuk, dengan perintah membuat semua manusia tidur lebih pulas malam itu. Dan tak satupun makhluk di bumi menyadari bahwa tidur semalam itu sebenarnya berlangsung selama tiga hari. Setelah fajar menyingsing di hari keempat, Zeus meninggalkan Alkmene. Alkmene kemudian mengandung dua anak sekaligus : satu dari Amphytrion yang diberi nama Iphikles dan yang lahir lebih awal dari Iphikles, benih dari Zeus sendiri, diberi nama HERAKLES.
Sembilan bulan telah berlalu semenjak Zeus mengunjungi Alkmene. Dan saat ini, saat semua dewa berkumpul di Olympus sambil minum-minum, Zeus mengumumkan kepada semua dewa yang hadir bahwa malam ini yang akan lahir pertama kali dari garis keturunan Perseus adalah anak laki-lakinya, yang akan menjadi pahlawan besar dan seluruh Yunani akan tunduk pada kemauannya. Hera yang turut hadir, terbakar oleh api cemburu karena sekali lagi Zeus memiliki anak dari rahim wanita lain. Dia berbisik kepada Ate, dewi cerdik yang duduk di sampingnya. Lalu Ate bangkit dari duduknya dan menyeru Zeus untuk bersumpah agung bahwa perkataannya ini akan menjadi takdir yang tidak dapat diubah lagi.

"Aku bersumpah demi air suci Styx yang mengalir di Bawah Tanah, bahwa akan terjadi seperti yang kukatakan. Anak yang pertama lahir dari garis Perseus malam ini akan memerintah Yunani dan seluruh Yunani tunduk pada kemauannya" seru Zeus. Hera tersenyum, Zeus terjebak ucapannya sendiri. Karena saat itu di Mykena, Nikipe, istri Stenelus sedang hamil tujuh bulan. Stenelus adalah saudara Elektryon (ayah Alkmene) dan keduanya putra Perseus. Agar rencananya berhasil, Hera menyuruh Eletia, dewi kelahiran bayi, agar mempercepat proses kelahiran Nikipe dan memperpanjang rasa sakit Alkmene.
Akhirnya anak pertama yang lahir dari garis Perseus malam itu adalah putra Stenelus yang bernama Eurystheus, bayi lemah dan penyakitan tetapi mewarisi takhta Mykena, kerajaan yang paling berkuasa di Yunani saat itu. Satu jam kemudian baru lahir Herakles, disusul oleh Iphikles, putra Amphytrion. Zeus pada akhirnya mengetahui taktik licik Hera, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena sudah terlanjur bersumpah. Dengan murka, Zeus melemparkan Ate dari Olympus dan dihukum tinggal di antara manusia. Kata Yunani untuk pengaruh burukpun memiliki arti 'yang berasal dari Ate'. Zeus menyusun rencana untuk membalas perbuatan Hera. Dan inilah rencananya :
Pada suatu malam, Zeus membuat hati Alkmene khawatir kalau-kalau Hera akan mencelakakan Herakles kecil. Untuk melindunginya, Alkmene membawa Herakles keluar dari istana dan meninggalkannya di tempat sepi di bawah dinding kota Thebes, sambil berdoa kepada Athena, dewi kebijaksanaan, agar melindungi anaknya. Sesuai dengan perintah Zeus, Athena mengajak Hera berjalan-jalan di sekitar Thebes dan seolah-olah tanpa sengaja membawanya ke tempat dimana Herakles ditinggalkan.
"Seorang bayi sendirian! Dan begitu rupawan! Aku belum pernah melihat bayi yang begitu tampan dan sesehat ini!", seru Hera begitu melihat Herakles. Athena melirik Hera sambil tersenyum, "Sudah berapa lama ia ditinggalkan disini? Kelihatannya ia sangat haus. Kau punya air susu, bukan? Susuilah ia barang sebentar saja."
Dengan senang hati Hera menyusuinya, tetapi Herakles menyusu dengan begitu hebat sehingga Hera kesakitan. Dengan sentakan keras Hera melepaskan diri dari Herakles dan air susu Hera memancar ke langit malam, membentuk gugus Bima Sakti (milky way-english). Alih-alih Hera membunuhnya, sang Dewi malah membuat Herakles menjadi bertambah kuat dan tidak terkalahkan. Saat itu pula, derap langkah menghampiri mereka. Athena buru-buru menggamit lengan Hera untuk bersembunyi. Ternyata Alkmene lah yang datang untuk mengambil kembali Herakles. Di bawah cahaya bulan, wajah Alkmene yang jelita terlihat makin rupawan melebihi kecantikan seorang dewi dan membuat Hera semakin cemburu...
Herakles pertama kali menikah (tepatnya dinikahkan) dengan Megara, putri Kreon, Raja Thebes sebagai ucapan terima kasih karena telah membebaskan kota Thebes dari serangan negeri tetangga, Orkhomenus. Tak hanya itu, Raja Kreon juga memberikan separuh kerajaan Thebes untuk Herakles. Sedangkan Iphikles dinikahkan dengan adik Megara. Semua dewa Olympus hadir dalam pesta pernikahan Herakles dan Megara yang berlangsung meriah, kecuali, tentu saja, Hera. Megara melahirkan tiga orang anak dan mereka hidup bahagia. Selamanya? Tidak, karena Hera yang dengki merencanakan untuk mencelakakannya.

Suatu hari, ketika Herakles sedang melihat anak-anaknya yang sedang bermain, Ate, dewi tipu muslihat, diam-diam merangkak di belakangnya. Ia melemparkan kerudung yang tak terlihat ke mata Herakles. Tiba-tiba pandangan Herakles menjadi gelap dan ketiga anaknya tampak seperti tiga ekor naga mengerikan yang siap menyerang. Herakles bagai kesetanan melemparkan meja, kursi, apa saja yang bisa diraihnya dan menyerang membabi buta. Dalam kegilaaan sesaat itu, ia membunuh anak-anaknya sendiri dan menghancurkan istana Kreon. Ketika istana Kreon tinggal puing-puing, Ate membuka kerudung yang menutupi mata Herakles. Herakles baru tersadar melihat anak-anaknya yang sudah terbaring kaku. Kreon yang murka mengusir Herakles dari Thebes dan Megara tidak mau menemuinya lagi (Dalam beberapa mitos dikisahkan Herakles juga membunuh Megara).

Dalam kesedihan yang mendalam, Herakles mengasingkan diri dan mengembara sampai negeri Tespia yang diperintah oleh Raja Tespius. Berhari-hari kemudian datanglah utusan dari Mykena membawa berita bahwa Raja Stenelus telah mangkat dan digantikan oleh putranya, Eurystheus. Sekaligus membawa pesan untuk Herakles : sang pahlawan diharuskan mengabdi dan menunaikan 12 tugas berat yang akan mengagungkan nama Eurystheus dan kerajaan Mykena. Demikian titah Eurystheus, putra Stenelus, keturunan Zeus dari garis Perseus. Dalam kebingungan, Herakles pergi bertanya kepada orakel (tempat menanyakan ramalan) di Delphi. Jawaban orakel adalah : ia harus pergi ke Mykena dan mengabdi kepada Eurystheus yang akan memberinya 12 tugas besar, dan setelah semua tugas selesai, dewa-dewa akan mengampuni perbuatan keji Herakles terhadap anak-anaknya. Herakles akhirnya membulatkan diri dan pergi ke Mykena untuk melakukan 12 tugas besar tersebut.

Setelah melewati 12 tahun masa-masa sulit pengabdian kepada Raja Eurystheus, Herakles dibebaskan lalu pergi menuju Kalydon di Aetolia untuk melamar putri Raja Oineus, Deianira yang cantik jelita. Karena begitu banyaknya pemuda yang ingin melamar Deianira, Oeneus mengadakan pertandingan gulat dan pemenangnya akan menikah dengan Deianira. Salah satu pelamar yang datang adalah Ankhelous, dewa sungai, lawan mengerikan yang tak terkalahkan. Saat bertarung, ia bisa mengubah dirinya menjadi ular, lalu menjadi lembu jantan, kemudian menjadi manusia kembali. Tapi biasanya, ia muncul dalam wujud gabungan dari ketiganya, bertubuh ular besar, berlengan dan berkepala manusia dan memiliki tanduk. Dari janggutnya mengalir buih-buih air sebagai tanda ia adalah dewa sungai. Deianira pun lebih baik mati daripada harus menikah dengannya.

Semua pelamar mundur karena tahu takkan mungkin bisa menang melawan makhluk semacam itu, kecuali satu orang. Ya, dialah Herakles, sang pahlawan, yang memutuskan bertanding dengannya. Ankhelous bertarung dengan ganas, ia mengubah dirinya menjadi ular lalu lembu jantan. Tapi Herakles juga tak mudah dikalahkan. Ia membanting sang dewa sungai ke tanah dan mematahkan sebelah tanduknya. Ankhelous menjerit kesakitan dan mengaku kalah.
Herakles akhirnya menikahi Deianira dan hendak membawa istrinya tinggal di Trakhis. Disana memerintah Raja Keix, sahabat Herakles. Istrinya, Alkyone bisa menemani Deianira saat Herakles bepergian. Dalam perjalanan ke Trakhis, mereka harus menyeberangi sungai Evenus. Tiba-tiba muncul kentaurus (makhluk bertubuh setengah manusia-setengah kuda) bernama Nessus yang mau membantu menyeberangkan demi sejumlah uang. Herakles menaikkan Deianira ke punggung Nessus dan ia sendiri berenang menuju tepian.

Sampai di seberang, ternyata Nessus yang licik tidak menurunkan Deianira, malah berusaha melarikan istri Herakles yang sangat cantik itu. Herakles dengan cepat membidikkan anak panahnya yang beracun dan tepat mengenai tubuh si kentaur. Sebelum mati, Nessus yang ingin membalas dendam pada Herakles, berpesan pada Deianira : 'Apabila suatu saat nanti kamu khawatir Herakles akan meninggalkanmu demi wanita lain, saat malam purnama datang, percikkanlah darahku ke baju yang akan dipakai Herakles. Darah kentaurus sangat berkhasiat dan Herakles pasti akan kembali padamu.' Tanpa bertanya, Deianira mengambil botol untuk menampung darah Nessus dan menyimpannya tanpa sepengetahuan Herakles. Herakles dan Deianira akhirnya sampai di Trakhis dan mereka dikaruniai empat orang anak. Salah satunya, yang tertua, bernama Hilus.
Anak-anak Bunda Bumi, para raksasa telah menantang dewa-dewa Olympus. Raksasa ini makhluk yang sangat mengerikan, berambut gimbal, kusut-masai dan kaki mereka berbentuk ular besar. Kekuatannya melebihi para dewa dan jumlahnya 10 kali lipat lebih banyak. Apalagi konon mereka kebal terhadap senjata para dewa. Mereka ingin menyingkirkan dewa-dewa dari Olympus dan menggantikan posisinya sebagai penguasa dunia. Saat itulah, dewi Athena, dewi perang dan kebijaksanaan, yang telah banyak membantu Herakles, meminta bantuan pada sang pahlawan. Athena yakin, hanya Herakles satu-satunya yang bisa menyelamatkan para dewa karena walaupun para raksasa itu tidak mempan dilukai senjata para dewa, mereka bisa mati kalau terkena senjata manusia.

Akhirnya perang besar tak terelakkan lagi. Raksasa-raksasa ini menyerbu ke Olympus, menimbun batu-batu besar setinggi gunung dan memporak-porandakan istana para dewa. Zeus dengan hujan halilintarnya memaksa mereka mundur ke Khalkidike di utara, tanah air bangsa raksasa. Namun, pertempuran sengit masih terus berlangsung. Halilintar Zeus menyambar-nyambar di antara langit dan bumi, bunyi gemuruh tak henti-hentinya terdengar dan langit menyala-nyala sepanjang malam dan siang. Dewa-dewa terus bertempur, tapi tak ada tanda-tanda akan berakhir. Di saat-saat genting, putra Zeus yang perkasa terjun ke medan perang. Anak-anak panah Herakles yang beracun melesat ke angkasa dan mebunuh para raksasa. Tujuh raksasa mengejar Aphrodite, dewi kecantikan, tapi Herakles membunuh mereka satu per satu. Para dewa segera bangkit menyerang dan sejak itu raksasa tidak kebal lagi. Raksasa Pallas mati terkena lembing panjang Athena. Hephaistos, dewa pekerja keras, membunuh Klitius dengan tongkat apinya. Dionysos, dewa panen anggur, membunuh Eritus dan empat raksasa dibunuh oleh Hermes, Artemis dan dewi-dewi Takdir. Ares, dewa perang, mundur saat menghadapi Ephialtes, tapi Apollo melukai raksasa itu dan Herakles maju untuk membunuhnya.
Raksasa yang lain, Porphyrion, kini mengejar Hera. Dan Herakles tanpa ragu-ragu menolong sang dewi yang sangat membencinya setengah mati. Dengan anak panah beracun, ia membidik Porphyrion sampai mati. Hera yang terkejut, melirik Herakles dengan malu. Ia tidak bisa memahami sikap mulia sang pahlawan. Andai rencana Hera untuk melenyapkan Herakles berhasil, entah apa yang akan terjadi pada dirinya saat ini. Tiba-tiba sepuluh raksasa menyerang Herakles sekaligus, tapi sang pahlawan tidak gentar. Satu per satu anak panahnya merobohkan mereka semua. Pertempuran sudah mendekati akhir. Tinggal dua raksasa yang tersisa dan mereka melarikan diri. Polybutes dikejar oleh Poseidon, dewa laut, hingga ke pulau Kos. Poseidon membelah gunung di pulau itu dan menimpakannya ke kepala raksasa. Maka pulau kecil Nisiros pun lahir.
Athena memburu Enkeladus, raksasa yang paling ganas, ke seluruh Yunani sampai menyeberang ke Sisilia, dan menimbun pulau itu ke tubuh si raksasa. Tapi Enkeladus tidak mati. Sampai saat ini ia kadang menggeliat dan menggeletar, menimbulkan gempa bumi yang membawa kehancuran. Itulah akibat pertempuran antara para dewa dan raksasa. Dan inilah prestasi tertinggi sang pahlawan sekaligus tindakan yang paling mulia di mata para dewa dan manusia. Dan sejak saat itu Hera tidak pernah mengganggu kehidupan Herakles lagi.
Raja Eritus mempunyai empat anak laki-laki dan seorang anak perempuan, Iole. Tetapi sejak istrinya meninggal ia tidak ingin anak gadisnya menikah dan tetap bersamanya hingga tua nanti. Dan ketika Herakles menemuinya, ia mengajukan syarat yang tidak akan mungkin bisa dilakukan oleh para peminang putrinya, yaitu mengalahkannya dalam perlombaan memanah. Eritus diajar memanah oleh Dewa Apollo, yang anak panahnya tak pernah luput dari sasaran, sehingga ia begitu sesumbar takkan ada yang akan pernah mengalahkannya. Tetapi Herakles mengalahkannya, dan juga keempat putranya. Marah dan kecewa atas kekalahannya, Eritus mengingkari janji untuk menyerahkan putrinya. Ia menghina Herakles dan mengusirnya pergi. Herakles memilih pergi tapi ia tak akan melupakan penghinaan Eritus dan bersumpah demi Zeus suatu hari nanti akan membalasnya.
Beberapa waktu kemudian, Herakles memimpin ekspedisi untuk menyerang Oekalia bersama pemuda-pemuda yang gagah berani. Oekhalia ditaklukkan, dan Eritus, si pembatal sumpah, tewas terbunuh bersama keempat putranya. Kemudian Herakles mengirim beberapa tawanan pulang ke Trakhis untuk menemui Deianira, dipimpin Likhas orang kepercayaannya. Deianira melihat di antara mereka, ada seorang wanita cantik, muda dan menggairahkan, yang bersikap dan berpakaian bak putri raja. Ia bertanya kepada Likhas, siapa wanita itu, tapi Likhas menggeleng tidak tahu. Dari tawanan lainnya, akhirnya diketahui wanita itu adalah Iole, putri Eritus. Dan tiba-tiba kecemburuan menyergap hati Deianira yang takut Herakles akan menikahi Iole yang lebih muda dan cantik. Tidak ada satupun mitos yang mengisahkan Herakles masih mencintai Iole atau tidak. Entah kecurigaan Deianira benar atau salah. Karena begitu dipujanya sang pahlawan, hingga tak seorang pun mau mengungkapkan kesalahan kecil yang mungkin dilakukannya.
Tapi rasa cemburu adalah penasihat yang buruk, dan Deianira langsung teringat pada darah Nessus Kentaurus yang konon berkhasiat untuk memepertahankan cinta sang suami. Di malam bulan purnama yang bersinar penuh, Deianira memerciki baju yang dibuatnya untuk Herakles dengan darah Nessus. O, wanita malang, tidakkah engkau tahu darah itu bercampur racun dari anak panah Herakles, yang sebelumnya telah dibasuh dengan darah hydra, bisa ular yang paling mematikan tidak hanya di seluruh Yunani, bahkan di seluruh dunia? Setelah selesai, Deianira memasukkan baju itu ke dalam peti dan menyuruh Likhas untuk menemui Herakles dan berpesan : 'Di dalam peti ini terdapat baju yang kutenun dengan tanganku sendiri. Katakan padanya agar segera mengenakan baju ini bila ingin melakukan persembahan untuk Zeus.' Likhas segera berangkat menemui Herakles.
Keesokan harinya, Deianira melihat pemandangan yang hampir membuatnya gila. Di halaman, di tempat ia memerciki darah Nessus ke baju Herakles, bebatuan dan rerumputan berubah warna menjadi kebiruan. Dan saat sinar matahari menyentuhnya, darah yang bertetesan di atasnya mulai mendidih dan menggelegak. Saat itu ia baru menyadari, Nessus ternyata ingin membunuh Herakles! Langsung ia berlari memanggil Hilus, putra sulungnya, "Segera lari ke Oekhalia, dan jangan berhenti sedetik pun! Jangan sampai ayahmu memakai baju yang kukirimkan, karena baju itu beracun!" Hilus yang terkejut langsung berlari secepat angin ke Oekhalia. Di saat yang sama, di Oekhalia, Herakles sedang bersiap-siap melakukan persembahan untuk Zeus pagi-pagi sekali. Ia dengan sukacita memandang baju yang dikirimkan istri tercintanya dan mengenakannya dengan penuh rasa bangga. Baju yang ditenun dengan tangan-tangan istrinya sendiri. Saat matahari perlahan naik, racun yang berada dalam baju itu mulai menghangat...
"Lepaskan baju itu ayah! Baju itu beracun!", seseorang tiba-tiba berteriak. Itu suara Hilus, dan ia langsung pingsan karena kelelahan. Herakles tersadar, tapi sudah terlambat! Ia mencoba merobek bajunya, tapi sia-sia. Baju itu telah melekat ke kulitnya, dan rasa sakit yang ditimbulkan darah Nessus sangat dahsyat. Begitu mengerikan racun dari bisa hydra yang telah meresap itu, hingga sang pahlawan menjerit-jerit dan bergulingan di atas tanah sambil merobek-robek kulitnya sendiri. Permintaannya untuk pulang ke Trakhis, agar Deianira melihat hasil perbuatannya sendiri, segera dipenuhi. Sesampainya di sana, Hilus mencari ibunya dan menceritakan apa yang dilihatnya. Deianira menjerit menyayat hati dan masuk kembali ke dalam kamar. Air matanya tak henti-hentinya mengalir, dan tiba-tiba tangisannya terhenti. Hilus yang bergegas masuk, menemui ibunya telah tewas bersimbah darah. Deianira bunuh diri dengan rasa penyesalan yang mendalam.
Di saat-saat terakhir, Herakles meminta untuk disemayamkan di puncak Gunung Oeta. Ia juga berpesan kepada Hilus untuk merawat adik-adiknya dan bila ia dewasa kelak, untuk menikahi Iole. Di puncak Gunung Oeta, Herakles memerintahkan agar tubuhnya segera dibakar. Tapi tak seorang pun yang tega untuk melakukannya. Siapa yang sanggup membakar sang pahlawan agung itu hidup-hidup, walaupun bisa membebaskannya dari rasa sakit yang amat sangat? Akhirnya maju seorang pemanah ulung, Philoktetes, yang iba pada penderitaan Herakles, dan bersedia menyalakan api untuknya. Perlahan-lahan api mulai melahap kayu dimana tubuh Herakles dibaringkan...
Sampai disinikah akhir kisah dari Herakles, pahlawan besar Yunani? Belum, paling tidak menurut mitologi inilah akhir kisah yang sebenarnya...Tepat sebelum nyala api menyentuh tubuh sang pahlawan, tiba-tiba langit terbelah oleh sambaran halilintar Zeus dan seluruh alam menjadi terang-benderang. Dari langit meluncur sebuah kereta yang ditarik empat ekor kuda bersayap yang dikendarai oleh Athena dan Hermes. Peri-peri hutan yang turut serta, membawa kendi berisi air untuk memadamkan api.

Athena dan Hermes mengangkat Herakles berdiri, menyembuhkannya dari racun, dan menempatkannya di kereta. Dalam sekejap mata, kuda-kuda itu mengepakkan sayap mereka dan kembali meluncur ke angkasa membawa Herakles menuju istana dewa-dewa yang berkilauan. Disana Herakles disambut oleh semua dewa, termasuk Zeus dan Hera. Hera berdamai dengan Herakles dan memanggil putrinya, Hebe (baca : Ivi) untuk menyajikan nektar (makanan abadi para dewa) bagi dewa baru itu. Herakles akhirnya menikah dengan Hebe dan hidup bahagia di Olympus selamanya.
Prayudi~Greek mythology reteller
http://achilles79.multiply.com
Senin, 16 April 2012
Muse : Dewi dewi seni

Kesembilan dewi Muse (Mousai) ini adalah putri-putri Zeus dan Mnemosyne (personifikasi dari ingatan) yang mengajarkan musik, nyanyian dan tarian kepada umat manusia. Bersama lahirnya dewi-dewi itu, datang pula kesenangan, kegembiraan dan kelembutan ke atas muka Bumi. Mereka menjadi sumber inspirasi bagi para penyair, seniman dan manusia lainnya untuk menciptakan karya seni yang indah.

Putri-putri Zeus ini sering mendatangi Gunung Helikon dimana para penggembala sering mendengar nyanyian mereka yang berpadu dengan gemericik air dan kicauan burung. Tetapi mereka lebih sering berada di lereng Gunung Parnassos, dekat mata air Kastalia untuk bernyanyi dan menari dengan diiringi petikan lyra Apollo, sang dewa musik pemimpin kesembilan Muse.

Konon, saat dewi-dewi Muse ini lahir dan musik turun ke dunia, banyak orang terpesona sehingga mereka bernyanyi siang dan malam, tanpa berhenti dan tidak makan maupun minum. Mereka terus bernyanyi dan bernyanyi hingga menemui ajal. Tetapi setelah mati mereka tidak turun ke Hades melainkan menjelma menjadi jangkrik, binatang yang terus bernyanyi tanpa diusik oleh rasa lapar dan haus. Konon, bila jangkrik berbunyi sebenarnya binatang itu sedang bercakap-cakap dengan dewi-dewi Muse, membicarakan manusia yang mencintai seni, nyanyian dan tarian yang telah diajarkan para dewi Muse.

Kesembilan dewi Muse itu ialah:
1. Kalliope, yang paling tertua dan dihormati dari Sembilan Muse lainnya. Ia adalah Muse puisi epik (kepahlawanan) yang diseru oleh Homeros di awal sajak Iliad dan Odyssea. Ia digambarkan sedang memegang lempengan batu dan pena di tangan kanan.
2. Kleio, Muse sejarah. Ia digambarkan sedang duduk memegang gulungan kertas yang terbuka atau buku yang setengah terbuka.
3. Euterpe, Muse puisi lirik, yang digambarkan memegang seruling kembar.
4. Melpomene, Muse tragedi. Ia membawa topeng orang yang bersedih atau sebilah pedang, dan kepalanya dihiasi mahkota daun anggur.
5. Terpsikhore, Muse paduan suara dan tarian yang membawa sebuah lyra.
6. Erato, Muse puisi cinta. Seperti Terpsikhore, ia digambarkan sedang memegang Cithara sejenis lyra.
7. Polymnia, Muse himne religi . Ia selalu tampil dengan muka serius, berdiri dalam posisi yang takzim atau sedang berpikir.
8. Ouranie, Muse astronomi, sering digambarkan sedang menunjuk bola dunia dengan sebilah batang kayu.
9. Thaleia, Muse komedi. Ia memakai topeng orang yang tersenyum, membawa tongkat penggembala dan mengenakan mahkota rangkaian tumbuhan sulur di atas kepalanya.
Prayudi~Greek mythology reteller
http://achilles79.multiply.com
EROS & PSYKHE : Kisah cinta sang dewa asmara

Zaman dahulu hiduplah seorang raja di Yunani yang memiliki tiga orang putri. Ketiga-tiganya memiliki paras rupawan, tetapi di antara ketiganya yang paling cantik bagai seorang dewi adalah yang bungsu, yang bernama Psykhe. Setiap Psykhe berjalan keluar dari istana, semua orang mengagumi kecantikannya dan bergumam, "Seolah-olah dewi Aphrodite sendiri yang turun ke dunia." Sedangkan yang lain menganggap Psykhe adalah dewi baru yang kecantikannya melebihi Aphrodite. Selama waktu-waktu tersebut, kuil yang dikeramatkan untuk Aphrodite, sang dewi cinta, mulai dilupakan orang. Semua orang memuja Psykhe dan memberikan berbagai macam hadiah untuknya sekaligus melupakan Aphrodite.
Merasa terhina dan dilecehkan, Aphrodite mengutus Eros, putranya yang bersayap, untuk menghukum dan mempermalukan Psykhe. Ia menyuruh Eros melukai Psykhe dengan anak panah yang akan membuat gadis itu menikah dengan orang yang paling buruk yang pernah ada di dunia. Eros langsung berangkat mematuhi perintah ibunya. Tanpa terlihat mata manusia, ia bersembunyi di balik pohon dekat istana Psykhe dan mulai membidik. Sesaat kemudian, gerbang istana terbuka dan muncullah Psykhe, begitu mempesona bagai kilau bintang di langit malam. Eros seperti tersihir, ia menurunkan busur dan anak panahnya dan memandang Psykhe dengan kagum. Baru kali ini Eros tidak mematuhi perintah ibunya...Hari-hari dan bulan-bulan berlalu semenjak kejadian itu, kedua kakak perempuan Psykhe telah menikah dan tinggal bersama suami mereka. Tapi tak seorangpun yang datang untuk melamar putri raja yang cantik itu.
Sang ayah yang kebingungan pergi bertanya kepada orakel. Menurut orakel, Psykhe harus menikah dengan makhluk yang bukan dari golongan manusia. Sang raja harus mengadakan upacara pemakaman, seolah-olah ada yang meninggal, dan meninggalkan putri tercintanya di bukit di belakang istana. Disana calon suaminya akan menjemput Psykhe seorang diri. Setelah upacara selesai, Psykhe berjalan sendirian ke bukit di belakang istana sambil menangis meratapi nasibnya yang malang. Dan tiba-tiba sekumpulan awan tebal sudah membungkus tubuhnya dan membawanya pergi ke sebuah istana megah yang terbuat dari batu-batu besar yang atapnya terbuat dari gading dan emas. Psykhe memasuki istana itu, di dalamnya begitu megah dan mewah, tapi ia tidak menjumpai seorangpun disana. Tiba-tiba terdengar suara, "Selamat datang di istanaku Psykhe, aku adalah suamimu. Jangan takut dan jangan khawatir, pelayanku yang tidak terlihat akan mengurus apa saja yang kamu perlukan selama berada disini. Tapi jangan pernah melihat mukaku. Aku akan datang ketika malam datang dan kita akan bercakap-cakap dalam gelap." Psykhe mencari sumber suara tersebut, tapi ia tidak menemukan siapa-siapa. Walaupun begitu, ia tidak merasa takut, karena suara itu begitu lembut sehingga ia merasa nyaman dan aman. Akhirnya Psykhe tinggal di istana itu bersama suaminya yang sama sekali ia belum pernah lihat wajahnya. Saat siang, ia tinggal sendirian dan saat malam datang, suaminya akan menghampirinya dan bercakap-cakap sampai ia terlelap.
Beberapa hari kemudian, kedua kakak Psykhe datang ke istana tersebut mengunjungi adik mereka. Malam sebelumnya, suami Psykhe sudah berpesan apabila kedua kakak Psykhe datang dan bertanya mengenai keberadaan suaminya, jangan ceritakan keadaan yang sesungguhnya. Demikianlah, saat kedua kakak Psykhe masuk ke dalam istana dan terperanjat melihat interiornya yang sangat mewah, mereka langsung ingin melihat seperti apa suami adik mereka. Tetapi Psykhe yang patuh pada pesan suaminya hanya mengatakan ia masih muda dan saat ini sedang pergi berburu sehingga tidak bisa menemui mereka berdua. Kakak-kakak Psykhe yang iri, berpikir pasti suami Psykhe orang yang kaya raya dan mulai membujuk Psykhe untuk memberitahu siapa suaminya. Psykhe yang didesak terus, akhirnya mengaku bahwa ia sama sekali belum pernah melihat wajah suaminya dan suaminya hanya menemuinya saat malam tiba. Sebelum pulang, kedua saudari yang iri itu berpesan agar sebelum suaminya pulang, Psykhe menyiapkan lampu minyak dan sebilah pisau di bawah ranjang untuk mengetahui siapa sebenarnya suami Psykhe, apakah dia manusia atau makhluk setengah monster yang mengerikan.

Psykhe menuruti petunjuk kedua kakaknya tersebut, karena dalam hati kecilnya ia juga merasa penasaran ingin melihat seperti apa wajah suaminya tersebut. Begitu malam datang, terdengar langkah suaminya memasuki kamar dan langsung tertidur karena kelelahan. Psykhe menunggu beberapa saat, dan setelah dirasa suaminya sudah tertidur pulas, ia menyalakan lampu minyak dan mendekatkannya ke sosok yang berbaring di samping dirinya.... Psykhe tersentak. Dalam kegelapan malam, ia melihat bulu-bulu sayap keemasan dan ia melihat wajah dewa muda tampan yang tak seorangpun manusia di muka bumi ini pernah melihatnya. Dialah Eros, dewa Cinta. Karena kaget, tanpa sengaja Psykhe menjatuhkan lampu minyak dan mengenai bahu Eros. Eros yang merasa kesakitan terbangun dan begitu melihat Psykhe menghunus pisau, tanpa berkata sepatah kata pun, ia mengepakkan sayapnya dan langsung terbang dalam kegelapan malam. Sia-sia Psykhe memanggil dan memohon Eros untuk tidak meninggalkannya. Yang tertinggal hanyalah malam yang membisu. Psykhe berlari keluar istana dan terus berlari dalam gelapnya malam.
Sementara itu, Eros yang terluka kembali ke kediaman Aphrodite dan menceritakan apa yang telah terjadi. Aphrodite sangat marah mendengarnya dan menghukum Eros untuk tetap tinggal, dan karena luka itu Eros menderita demam tinggi. Psykhe yang menyesal, terus mencari Eros dan bertanya kepada semua orang di penjuru negeri. Tapi semuanya menggeleng bahkan ada yang menganggapnya gila, karena memang tak seorangpun pernah melihat Eros walaupun anak panah cintanya pasti melukai setiap orang di muka bumi ini. Akhirnya salah satu pelayan Aphrodite yang jatuh iba, menemui Psykhe dan membawanya ke kediaman Aphrodite. Aphrodite marah besar dan menguji Psykhe dengan tugas yang tidak mungkin dilakukan agar Psykhe tidak pernah bisa bertemu dengan Eros lagi. Aphrodite menitipkan sebuah kotak kepada Psykhe dan menyuruhnya menemui Persephone, ratu orang-orang mati di Dunia bawah tanah untuk meminta ramuan yang akan menyembuhkan Eros. Karena ingin melihat kesembuhan Eros, Psykhe langsung berangkat menemui Persephone. Ratu dan istri Hades itu begitu terharu melihat kegigihan Psykhe dan bersedia memberikan ramuan itu dengan satu syarat: jangan pernah membuka kotak itu selama perjalanan dan hanya Aphrodite yang harus membukanya.
Dalam perjalanan pulang, Psykhe yang diusik rasa ingin tahu, mengintip apa yang ada di balik kotak tersebut. Dan ternyata di dalam kotak itu selain obat juga tersimpan aroma tidur abadi yang barang siapapun manusia yang menghirupnya akan mati. Eros yang telah sembuh dari demamnya dan mengetahui Psykhe telah meninggal, memohon kepada Zeus untuk menghidupkannya kembali. Zeus mengabulkannya dan memberikan nektar untuk kehidupan yang abadi. Psykhe sekarang menjadi dewi dan hidup berbahagia bersama suaminya, Eros di istana para dewa, di Olympus...
Prayudi~Greek mythology reteller
http://achilles79.multiply.com
Ilustrated by: Wang'ZW (Do not copy without my permission)
PERSEPHONE : Saat musim semi datang dan musim dingin berlalu
Inilah gambaran bagaimana orang-orang yang hidup di masa lampau menyikapi perubahan alam dan pergantian musim. Tanpa adanya metode canggih untuk mengukur pergantian musim, saat itu manusia hanya mengandalkan perkiraan berdasar tanda-tanda dari alam. Dari pengalaman kehidupan sehari-hari manusia mengamati alam, akhirnya muncullah kisah yang di bungkus dengan imajinasi dan rasa hormat mereka kepada alam. Dan inilah kisah yang berasal dari ribuan tahun yang lampau...
PERSEPHONE adalah anak gadis Demeter, dewi panen dan pertanian, yang cantik rupawan. Suatu hari ia sedang bermain bersama kawan-kawannya, peri-peri laut Okeanida di Lembah Nisa, saat sepasang mata mengamatinya dari celah-celah Bumi.
Sepasang mata itu milik Hades, penguasa Dunia bawah tanah yang terpaku memandang Persephone dan berniat memperistrinya. Tanpa sadar, sambil memetiki bunga narsis, Persephone semakin menjauh dari kerumunan teman-temannya.

Hades tak sanggup menahan dirinya lagi dan tiba-tiba dari dalam perut bumi melompat keluar kereta yang ditarik sepasang kuda hitam legam yang tak kenal mati dan dikendarai oleh Hades sendiri. Secepat kilat, ia menyambar Persephone dan membawanya ke dasar bumi yang gelap gulita.
Persephone berteriak memanggil ibunya, sebelum suaranya ditelan kegelapan Hades. Teriakannya terbawa deru angin hingga ke Olympus dan terdengar oleh Demeter yang langsung bangkit dan lari mencari putrinya. Tak henti-hentinya ia memanggil nama putrinya dan tanpa kenal lelah ia mengarungi daratan dan lautan ke tempat teriakan anaknya berasal.
Sampailah Demeter di Lembah Nisa yang hijau, tempat peri-peri laut Okeanida yang cantik bermain. Tapi tak satupun yang mengetahui siapa yang telah menculik Persephone. Betapa malangnya nasib sang dewi, sambil menangis ia kembali berlari mencari Persephone selama sembilan hari sembilan malam. Tapi tak ada tanda-tanda keberadaan putri tercintanya, walaupun ia sudah bertanya pada semua orang, bahkan ke peramal-peramal ulung. Semuanya hanya menggelengkan kepala.

Akhirnya di hari kesepuluh, ia bertemu Helios, sang dewa matahari yang dari singgasana emasnya tak pernah luput menyaksikan segala sesuatu yang terjadi di muka Bumi. Dari Helios, Demeter mengetahui anak gadisnya sekarang telah menjadi istri Hades, ratu kerajaan orang-orang mati, yang tidak akan pernah melihat cahaya matahari dan tinggal selamanya dalam kegelapan abadi.
Kesedihan Demeter membuat seluruh alam turut berduka. Angin selatan yang dingin datang berhembus merontokkan daun-daun pepeohonan, bunga-bunga menjadi layu dan rerumputan hijau mengering. Bumi menjadi padang tandus dan banyak manusia serta binatang mati kelaparan.
Zeus, raja para dewa, yang melihat semua ini, tidak tinggal diam. Ia tidak bisa mengubah Takdir, tapi ia memutuskan untuk mengembalikan Persephone ke atas Bumi untuk hidup bersama ibunya selama enam bulan, dan enam bulan berikutnya tinggal bersama Hades di Dunia bawah tanah.

Sejak itu, di saat musim semi dan musim panas tiba, seluruh alam menghijau dan semarak oleh mekarnya bunga-bunga. Alam bersuka ria menyambut kedatangan Persephone untuk menemani ibunya.
Sebaliknya bila Persephone harus kembali ke dunia bawah tanah, Bumi menjadi gersang, daun-daun berguguran dan cuaca yang hangat menjadi dingin dan kelabu. Musim gugur dan musim dingin datang mengiringi kesedihan Demeter. Demikianlah, peristiwa itu terus berulang sampai sekarang.
Prayudi~Greek mythology reteller
http://achilles79.multiply.com
PERSEPHONE adalah anak gadis Demeter, dewi panen dan pertanian, yang cantik rupawan. Suatu hari ia sedang bermain bersama kawan-kawannya, peri-peri laut Okeanida di Lembah Nisa, saat sepasang mata mengamatinya dari celah-celah Bumi.
Sepasang mata itu milik Hades, penguasa Dunia bawah tanah yang terpaku memandang Persephone dan berniat memperistrinya. Tanpa sadar, sambil memetiki bunga narsis, Persephone semakin menjauh dari kerumunan teman-temannya.

Hades tak sanggup menahan dirinya lagi dan tiba-tiba dari dalam perut bumi melompat keluar kereta yang ditarik sepasang kuda hitam legam yang tak kenal mati dan dikendarai oleh Hades sendiri. Secepat kilat, ia menyambar Persephone dan membawanya ke dasar bumi yang gelap gulita.
Persephone berteriak memanggil ibunya, sebelum suaranya ditelan kegelapan Hades. Teriakannya terbawa deru angin hingga ke Olympus dan terdengar oleh Demeter yang langsung bangkit dan lari mencari putrinya. Tak henti-hentinya ia memanggil nama putrinya dan tanpa kenal lelah ia mengarungi daratan dan lautan ke tempat teriakan anaknya berasal.
Sampailah Demeter di Lembah Nisa yang hijau, tempat peri-peri laut Okeanida yang cantik bermain. Tapi tak satupun yang mengetahui siapa yang telah menculik Persephone. Betapa malangnya nasib sang dewi, sambil menangis ia kembali berlari mencari Persephone selama sembilan hari sembilan malam. Tapi tak ada tanda-tanda keberadaan putri tercintanya, walaupun ia sudah bertanya pada semua orang, bahkan ke peramal-peramal ulung. Semuanya hanya menggelengkan kepala.

Akhirnya di hari kesepuluh, ia bertemu Helios, sang dewa matahari yang dari singgasana emasnya tak pernah luput menyaksikan segala sesuatu yang terjadi di muka Bumi. Dari Helios, Demeter mengetahui anak gadisnya sekarang telah menjadi istri Hades, ratu kerajaan orang-orang mati, yang tidak akan pernah melihat cahaya matahari dan tinggal selamanya dalam kegelapan abadi.
Kesedihan Demeter membuat seluruh alam turut berduka. Angin selatan yang dingin datang berhembus merontokkan daun-daun pepeohonan, bunga-bunga menjadi layu dan rerumputan hijau mengering. Bumi menjadi padang tandus dan banyak manusia serta binatang mati kelaparan.
Zeus, raja para dewa, yang melihat semua ini, tidak tinggal diam. Ia tidak bisa mengubah Takdir, tapi ia memutuskan untuk mengembalikan Persephone ke atas Bumi untuk hidup bersama ibunya selama enam bulan, dan enam bulan berikutnya tinggal bersama Hades di Dunia bawah tanah.

Sejak itu, di saat musim semi dan musim panas tiba, seluruh alam menghijau dan semarak oleh mekarnya bunga-bunga. Alam bersuka ria menyambut kedatangan Persephone untuk menemani ibunya.
Sebaliknya bila Persephone harus kembali ke dunia bawah tanah, Bumi menjadi gersang, daun-daun berguguran dan cuaca yang hangat menjadi dingin dan kelabu. Musim gugur dan musim dingin datang mengiringi kesedihan Demeter. Demikianlah, peristiwa itu terus berulang sampai sekarang.
Prayudi~Greek mythology reteller
http://achilles79.multiply.com
HERA, Ratu langit dan pelindung wanita

Setelah dimuntahkan Kronos, Hera muda disembunyikan oleh ibunya, Rheia, di negeri para Hesperida, yang aman jauh dari kejahatan Kronos. Negeri yang berada jauh di ufuk Barat, tempat dewa matahari, Helios, mengistirahatkan kuda-kudanya setelah seharian penuh melakukan perjalanan melintasi langit.
Disana tinggal para Hesperida dan dewi-dewi musim, Horae yang mengajarkan segala pengetahuan dan rahasia langit. Di negeri itu juga hidup seekor burung besar yang ekornya mirip bintang di langit, yang selalu mengikuti kemana pun Hera pergi.

Suatu hari, Zeus datang menjemput dewi cantik itu dan mengajaknya kembali ke Yunani untuk membantu menghentikan kejahatan Kronos. Hera yang kagum akan keberanian Zeus, jatuh cinta kepada dewa muda itu dan bersedia ikut dengannya ke tempat kelahirannya di Yunani.
Tak berapa lama kemudian, perang melawan Titan dimulai. Di saat-saat yang sulit itu, Hera selalu berdiri di samping Zeus dan juga turut bertempur bersamanya. Lewat perjuangan yang sangat berat selama sepuluh tahun, akhirnya dewa-dewa Olympus berhasil mengalahkan para Titan.
Zeus bertakhta di Olympus menjadi raja para dewa dan manusia menggantikan Kronos. Hera kemudian menikah dengan Zeus dan di atas singgasana emasnya ia memerintah langit, pergantian musim dan menjadi pelindung pernikahan.
Ia selalu hadir pada setiap pesta pernikahan untuk memberikan nasihat kepada sang istri agar selalu patuh dan setia terhadap suami agar tercipta keluarga yang bahagia. Oleh karena itu, Hera tak akan pernah memaafkan istri-istri yang melanggar sumpah pernikahan.
Hera dan Zeus dikaruniai dua orang putra, Hephaistos, dewa kerajinan tangan, dan Ares, dewa perang. Mereka juga memiliki seorang putri bernama Hebe (baca: Ivi-pen), yang berarti dewi masa muda. Hebe adalah contoh sempurna semua sifat baik yang dimiliki seorang gadis, santun terhadap orangtua dan menghormati saudara-saudaranya yang lebih tua. Ia bertugas menyajikan nektar dan ambrosia kepada para dewa dalam mangkuk dan piala-piala emas.
Hebe sering menemani ibunya bepergian ke Olympia, karena di kota ini terdapat kuil yang paling indah dari semua kuil yang dipersembahkan bagi Hera, yaitu Heraion. Di tempat ini setiap tahun gadis-gadis Yunani akan berlomba memberikan puji-pujian bagi Hera. Dan bagi pemenangnya akan diberikan hadiah berupa mahkota dari daun zaitun, penghargaan yang nilainya lebih dari sekedar materi.
Karena sikap santunnya, Hebe dicintai oleh seluruh dewa-dewa Olympus. Kelak, setelah Herakles menjadi dewa, Hebe menikah dengan pahlawan besar Yunani itu.
Prayudi~Greek mythology reteller
achilles79.multiply.com
Daedalus dan Ikaros
Selama berabad-abad manusia bermimpi untuk menaklukkan langit, terbang seperti burung dan memiliki kekuatan seperti para dewa. Dan jauh sebelum pesawat terbang dan balon udara ditemukan, seorang pemuda Yunani telah membuktikan manusia bisa mencapai apa yang dicita-citakannya dengan keberanian dan tekad bulat. Inilah sebuah kisah di masa lalu tentang penerbangan manusia untuk pertama kalinya dalam sejarah yang manginspirasi umat manusia hingga bisa mencapai Bulan.
Athena, ribuan tahun sebelum Masehi. Di bawah dinding-dinding Akropolis, tersebar puluhan bengkel kerja dan studio para seniman. Disana bekerja para pemahat, pelukis dan seniman lainnya. Yang paling mahsyur diantara mereka adalah Daidalos, putra Erekhteus.
Patung-patung buatan Daidalos terlihat sangat hidup, begitu pula bangunan rancangannya yang membuat kota Athena yang cantik menjadi semakin cantik. Daidalos juga dikenal sebagai seorang penemu. Kompas geometris, alat bor, kapak, tiang dan layar kapal adalah hasil pemikirannya yang cemerlang. Konon, dewi Athena sendiri yang mengajarkan seni kepada Daidalos.

Tetapi orang hebat selain mengumpulkan teman-teman yang mengelilingi mereka, juga menciptakan musuh yang melihat dengan iri keberhasilan Daidalos.
Daidalos mempunyai asisten, seorang pemuda berusia limabelas tahun yang bernama Talos. Ia adalah putra adik perempuan Daidalos, Perdix. Talos sangat berbakat dan rajin. Salah satu penemuannya yang dikenal di dunia ini adalah gergaji. Awalnya ia ingin memotong batang kayu menjadi dua dan ia menggunakan tulang rahang ular yang bergigi tajam. Hasilnya kayu itu terpotong cepat dan rapi. Lalu ia mengambil pisau besi dan membuatnya bergerigi seperti gigi-gigi di rahang ular itu. Demikianlah gergaji muncul ke dunia untuk pertama kalinya.
Suatu hari, paman dan keponakannya itu berjalan-jalan di Akropolis. Mereka menyusuri tepian tembok tinggi dan mengagumi keindahan kota Athena dari atas bukit. Malang, tiba-tiba Talos tersandung, hilang keseimbangan dan jatuh dari ketinggian sehingga menyebabkannya tewas.
Musuh-musuh Daidalos yang senang mendengar kabar ini, menyeret Daidalos ke pengadilan kota Athena. Diputuskan bersalah oleh penuntut hukum yang korup dan disuap, Daidalos diasingkan dari Athena seumur hidup. Dengan pahit, Daidalos keluar dari kota kelahirannya itu. Ia menuju Piraeus, pelabuhan di dekat Athena, lalu berlayar ke kepulauan Kiklades, Delos, Naksos dan Thera sebelum menuju ke Selatan, ke pulau Kreta.
Pada masa itu, Kreta diperintah oleh Raja Minos, putra Zeus dan Europa. Kreta adalah kerajaan besar yang armada lautnya disegani di seluruh dunia. Knossos, ibukota Kreta, berlimpah emas. Istana dan kuil-kuilnya dibangun dengan sangat megah. Minos sangat bangga atas pencapaiannya, tetapi saat ia berkunjung ke Athena, semua prestasinya tersebut pupus. Athena walaupun tak sebesar Knossos tapi sangat cantik dan menawan dengan dihias karya-karya seni bermutu tinggi yang kebanyakan dibuat oleh Daidalos.
Saat raja besar itu kembali ke Kreta, ia masih terbayang-bayang hasil karya indah Daidalos di Athena. 'Andai saja Daidalos tinggal di Kreta', begitu gumamnya.
Tiba-tiba seorang utusan menghadap sang raja dengan membawa kabar gembira: Daidalos baru saja tiba di Kreta. Raja Minos segera melompat dari tempat duduknya dan menyambut seniman mahsyur Athena itu dengan upacara megah.
Demikianlah, Daidalos menetap di Kreta dan menghiasi pulau itu dengan karya-karya seni
yang tak ada duanya. Ia menkah dengan seorang gadis cantik dari Kiklades yang bernama Naukrate dan mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Ikaros. Naukrate tak lama kemudian meninggal ketika Ikaros masih kecil.
Ikaros mencintai seni arsitektur, lukisan dan pahatan seperti ayahnya. Ia ikut membantu membangun labyrinth, karya terbesar Daidalos di Kreta. Labyrinth adalah sebuah bangunan yang sangat rumit, memiliki banyak sekali ruangan, lorong serta pintu. Siapapun yang masuk ke dalamnya tak akan bisa menemukan jalan keluar.
Di bagian dalam labyrinth di penjarakan Minotauros, monster pemakan manusia yang bertubuh manusia dan berkepala banteng. Suatu hari seorang pahlawan Athena, Theseus, membunuh monster ini untuk menyelamatkan rakyat Athena yang setiap tahunnya harus mengorbankan tujuh pemuda dan tujuh gadis perawan untuk dilahap Minotauros.
Daidalos membantu Theseus mengalahkan monster itu dan begitu raja Minos mengetahui hal ini, ia sangat murka. Daidalos dan Ikaros dijebloskan ke dalam penjara di dalam labyrinth. Walaupun Daidalos sendiri yang membangun labyrinth, bukan hal yang mudah untuk keluar dari situ.
Sebagian ruangan labyrinth beratap terbuka dengan tembok-tembok tinggi. Dari sana, Daidalos dan Ikaros memandang ke langit, dimana burung-burung bebas beterbangan. 'Andaikan manusia punya sayap', pikir Daidalos yang lalu disanggah oleh putranya: 'tetapi manusia memiliki otak ayah dan suatu hari nanti manusia akan bisa terbang seperti burung-burung itu'
Daidalos terpekur diam, ia menengadah ke langit sambil berpikir keras dan sebuah gagasan berani tiba-tiba muncul di kepalanya...
Saat Daidalos sedang termenung, ratu Kreta dan istri Minos, Pasiphae datang menemui mereka. Ia tidak sekejam suaminya dan hatinya sangat sedih melihat seniman besar itu dan anaknya dikurung di labyrinth. Daidalos memohon bantuan kepada ratu Kreta itu untuk membawakan bulu-bulu burung atau angsa dalam jumlah banyak. Terkesan oleh tekad dan rasa percaya diri Daidalos yang begitu besar, sang ratu membawa bulu-bulu yang diperlukan Daidalos secara diam-diam.
Daidalos segera bekerja, ia menjalin bulu-bulu itu, satu demi satu, dengan menggunakan lilin. Pekerjaan itu sangat sulit dan membutuhkan waktu serta kesabaran, tapi dalam beberapa hari Daidalos telah menyelesaikan pekerjaannya.

Ia membuat empat buah sayap besar yang sangat bagus, bahkan para dewa sekalipun akan iri bila melihatnya. Dengan menggunakan tali dari kulit, Daidalos memasang sepasang sayap di lengan dan pundak Ikaros, lalu yang sepasang lagi dipasang di tubuhnya sendiri.
Daidalos mencoba menggerakan lengannya ke atas dan ke bawah, dan tubuhnya terangkat ke udara! Impian untuk terbang seperti burung dan dewa-dewa sudah di depan mata!
Sebelum berangkat, Daidalos berpesan kepada anaknya untuk berhati-hati: jangan terbang terlalu rendah, karena gelombang laut bisa membasahi bulu-bulu sayap dan jangan pula terbang terlalu tinggi, sebab matahari akan melelehkan lilin yang merekatkan bulu-bulu itu.
Ikaros mengangguk, dan saatnya sudah tiba. Daidalos mengepakkan kedua sayapnya dengan sekuat tenaga dan meluncur ke angkasa diikuti Ikaros yang terbang di belakang mengikutinya. Mereka melintasi istana Knossos dan di teras istana, raja Minos melihat pemandangan ajaib lewat di depan matanya: dewa-dewa bersayap terbang di atas istananya! Ia tidak menyadari bahwa mereka adalah Daidalos dan putranya.
Daidalos dan Ikaros terbang dengan tenang meninggalkan pulau Kreta. Mereka melintasi laut dan melihat pulau yang tampak seperti bulan separuh. Itulah Thera (Santorini), yang terpotong separuh akibat letusan gunung. Lalu mereka melintasi Naxos, kemudian Delos, dengan kuil Apollo yang berdiri megah. Dan sekali lagi lautan luas terbentang di bawah mereka.
Ikaros sangat menikmati perjalananannya, ia meluncur turun dan naik. Daidalos yang khawatir memperingatkan putranya tersebut, tetapi Ikaros menenangkan ayahnya. Tentu saja Ikaros bukan siapa-siapa bila ia tidak memiliki keberanian. Dan tidak bisa disalahkan bila anak-anak muda memiliki semangat dan keberanian melebihi orang yang lebih tua. Ia terbang semakin tinggi, seakan-akan matahari menariknya seperti magnet. Peringatan ayahnya untuk terbang dengan aman telah dilupakannya.
Ketika Daidalos menengok untuk memeriksa apakah semuanya baik-baik saja, ia tidak melihat putranya di belakang. Dengan panik ia mengawasi langit dari satu tepi ke tepi lainnya. Di kejauhan, ia melihat titik kecil yang terbang ke arah matahari...
"Ikaros...!! Ikaros, kembali...!!"
Daidalos berteriak berulang kali dengan sekuat tenaga tetapi langit luas menelan suaranya. Ikaros tidak mendengar panggilan ayahnya dan sesuatu yang sangat ditakutkan Daidalos terjadi. Perlahan-lahan matahari melelehkan lilin perekat dan bulu-bulu sayap Ikaros rontok satu demi satu. Seperti batu, Ikaros jatuh dari ketinggian. Daidalos berusaha untuk menangkap Ikaros, tetapi usahanya sia-sia belaka. Anak muda pemberani itu menemui ajalnya di dalam pelukan laut biru yang luas.

Laut itu kemudian diberi nama laut Ikaria dan sampai sekarang orang masih mengingat nama Ikaros sebagai pemuda pemberani yang telah mewujudkan cita-cita manusia untuk terbang. Sejarah memang selalu mencatat orang-orang pemberani dan tanpa mereka manusia tidak akan pernah melangkah maju ke depan.
Sementara Daidalos yang sangat terpukul atas kematian putranya hanya punya satu keinginan: melarikan diri sejauh mungkin. Ia lalu terbang ke arah barat dan akhirnya tiba di Sikelia (Sisilia). Beberapa tahun kemudian ia kembali ke Athena yang telah diperintah raja baru, Theseus,dan hukuman pembuangannya telah dibatalkan. Ia mendirikan sekolah di Athena dan mendidik banyak seniman besar hingga akhir hayatnya.
Prayudi~Greek mythology reteller
achilles79.multiply.com
Athena, ribuan tahun sebelum Masehi. Di bawah dinding-dinding Akropolis, tersebar puluhan bengkel kerja dan studio para seniman. Disana bekerja para pemahat, pelukis dan seniman lainnya. Yang paling mahsyur diantara mereka adalah Daidalos, putra Erekhteus.
Patung-patung buatan Daidalos terlihat sangat hidup, begitu pula bangunan rancangannya yang membuat kota Athena yang cantik menjadi semakin cantik. Daidalos juga dikenal sebagai seorang penemu. Kompas geometris, alat bor, kapak, tiang dan layar kapal adalah hasil pemikirannya yang cemerlang. Konon, dewi Athena sendiri yang mengajarkan seni kepada Daidalos.

Tetapi orang hebat selain mengumpulkan teman-teman yang mengelilingi mereka, juga menciptakan musuh yang melihat dengan iri keberhasilan Daidalos.
Daidalos mempunyai asisten, seorang pemuda berusia limabelas tahun yang bernama Talos. Ia adalah putra adik perempuan Daidalos, Perdix. Talos sangat berbakat dan rajin. Salah satu penemuannya yang dikenal di dunia ini adalah gergaji. Awalnya ia ingin memotong batang kayu menjadi dua dan ia menggunakan tulang rahang ular yang bergigi tajam. Hasilnya kayu itu terpotong cepat dan rapi. Lalu ia mengambil pisau besi dan membuatnya bergerigi seperti gigi-gigi di rahang ular itu. Demikianlah gergaji muncul ke dunia untuk pertama kalinya.
Suatu hari, paman dan keponakannya itu berjalan-jalan di Akropolis. Mereka menyusuri tepian tembok tinggi dan mengagumi keindahan kota Athena dari atas bukit. Malang, tiba-tiba Talos tersandung, hilang keseimbangan dan jatuh dari ketinggian sehingga menyebabkannya tewas.
Musuh-musuh Daidalos yang senang mendengar kabar ini, menyeret Daidalos ke pengadilan kota Athena. Diputuskan bersalah oleh penuntut hukum yang korup dan disuap, Daidalos diasingkan dari Athena seumur hidup. Dengan pahit, Daidalos keluar dari kota kelahirannya itu. Ia menuju Piraeus, pelabuhan di dekat Athena, lalu berlayar ke kepulauan Kiklades, Delos, Naksos dan Thera sebelum menuju ke Selatan, ke pulau Kreta.
Pada masa itu, Kreta diperintah oleh Raja Minos, putra Zeus dan Europa. Kreta adalah kerajaan besar yang armada lautnya disegani di seluruh dunia. Knossos, ibukota Kreta, berlimpah emas. Istana dan kuil-kuilnya dibangun dengan sangat megah. Minos sangat bangga atas pencapaiannya, tetapi saat ia berkunjung ke Athena, semua prestasinya tersebut pupus. Athena walaupun tak sebesar Knossos tapi sangat cantik dan menawan dengan dihias karya-karya seni bermutu tinggi yang kebanyakan dibuat oleh Daidalos.
Saat raja besar itu kembali ke Kreta, ia masih terbayang-bayang hasil karya indah Daidalos di Athena. 'Andai saja Daidalos tinggal di Kreta', begitu gumamnya.
Tiba-tiba seorang utusan menghadap sang raja dengan membawa kabar gembira: Daidalos baru saja tiba di Kreta. Raja Minos segera melompat dari tempat duduknya dan menyambut seniman mahsyur Athena itu dengan upacara megah.
Demikianlah, Daidalos menetap di Kreta dan menghiasi pulau itu dengan karya-karya seni
yang tak ada duanya. Ia menkah dengan seorang gadis cantik dari Kiklades yang bernama Naukrate dan mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Ikaros. Naukrate tak lama kemudian meninggal ketika Ikaros masih kecil.
Ikaros mencintai seni arsitektur, lukisan dan pahatan seperti ayahnya. Ia ikut membantu membangun labyrinth, karya terbesar Daidalos di Kreta. Labyrinth adalah sebuah bangunan yang sangat rumit, memiliki banyak sekali ruangan, lorong serta pintu. Siapapun yang masuk ke dalamnya tak akan bisa menemukan jalan keluar.
Di bagian dalam labyrinth di penjarakan Minotauros, monster pemakan manusia yang bertubuh manusia dan berkepala banteng. Suatu hari seorang pahlawan Athena, Theseus, membunuh monster ini untuk menyelamatkan rakyat Athena yang setiap tahunnya harus mengorbankan tujuh pemuda dan tujuh gadis perawan untuk dilahap Minotauros.
Daidalos membantu Theseus mengalahkan monster itu dan begitu raja Minos mengetahui hal ini, ia sangat murka. Daidalos dan Ikaros dijebloskan ke dalam penjara di dalam labyrinth. Walaupun Daidalos sendiri yang membangun labyrinth, bukan hal yang mudah untuk keluar dari situ.
Sebagian ruangan labyrinth beratap terbuka dengan tembok-tembok tinggi. Dari sana, Daidalos dan Ikaros memandang ke langit, dimana burung-burung bebas beterbangan. 'Andaikan manusia punya sayap', pikir Daidalos yang lalu disanggah oleh putranya: 'tetapi manusia memiliki otak ayah dan suatu hari nanti manusia akan bisa terbang seperti burung-burung itu'
Daidalos terpekur diam, ia menengadah ke langit sambil berpikir keras dan sebuah gagasan berani tiba-tiba muncul di kepalanya...
Saat Daidalos sedang termenung, ratu Kreta dan istri Minos, Pasiphae datang menemui mereka. Ia tidak sekejam suaminya dan hatinya sangat sedih melihat seniman besar itu dan anaknya dikurung di labyrinth. Daidalos memohon bantuan kepada ratu Kreta itu untuk membawakan bulu-bulu burung atau angsa dalam jumlah banyak. Terkesan oleh tekad dan rasa percaya diri Daidalos yang begitu besar, sang ratu membawa bulu-bulu yang diperlukan Daidalos secara diam-diam.
Daidalos segera bekerja, ia menjalin bulu-bulu itu, satu demi satu, dengan menggunakan lilin. Pekerjaan itu sangat sulit dan membutuhkan waktu serta kesabaran, tapi dalam beberapa hari Daidalos telah menyelesaikan pekerjaannya.

Ia membuat empat buah sayap besar yang sangat bagus, bahkan para dewa sekalipun akan iri bila melihatnya. Dengan menggunakan tali dari kulit, Daidalos memasang sepasang sayap di lengan dan pundak Ikaros, lalu yang sepasang lagi dipasang di tubuhnya sendiri.
Daidalos mencoba menggerakan lengannya ke atas dan ke bawah, dan tubuhnya terangkat ke udara! Impian untuk terbang seperti burung dan dewa-dewa sudah di depan mata!
Sebelum berangkat, Daidalos berpesan kepada anaknya untuk berhati-hati: jangan terbang terlalu rendah, karena gelombang laut bisa membasahi bulu-bulu sayap dan jangan pula terbang terlalu tinggi, sebab matahari akan melelehkan lilin yang merekatkan bulu-bulu itu.
Ikaros mengangguk, dan saatnya sudah tiba. Daidalos mengepakkan kedua sayapnya dengan sekuat tenaga dan meluncur ke angkasa diikuti Ikaros yang terbang di belakang mengikutinya. Mereka melintasi istana Knossos dan di teras istana, raja Minos melihat pemandangan ajaib lewat di depan matanya: dewa-dewa bersayap terbang di atas istananya! Ia tidak menyadari bahwa mereka adalah Daidalos dan putranya.
Daidalos dan Ikaros terbang dengan tenang meninggalkan pulau Kreta. Mereka melintasi laut dan melihat pulau yang tampak seperti bulan separuh. Itulah Thera (Santorini), yang terpotong separuh akibat letusan gunung. Lalu mereka melintasi Naxos, kemudian Delos, dengan kuil Apollo yang berdiri megah. Dan sekali lagi lautan luas terbentang di bawah mereka.
Ikaros sangat menikmati perjalananannya, ia meluncur turun dan naik. Daidalos yang khawatir memperingatkan putranya tersebut, tetapi Ikaros menenangkan ayahnya. Tentu saja Ikaros bukan siapa-siapa bila ia tidak memiliki keberanian. Dan tidak bisa disalahkan bila anak-anak muda memiliki semangat dan keberanian melebihi orang yang lebih tua. Ia terbang semakin tinggi, seakan-akan matahari menariknya seperti magnet. Peringatan ayahnya untuk terbang dengan aman telah dilupakannya.
Ketika Daidalos menengok untuk memeriksa apakah semuanya baik-baik saja, ia tidak melihat putranya di belakang. Dengan panik ia mengawasi langit dari satu tepi ke tepi lainnya. Di kejauhan, ia melihat titik kecil yang terbang ke arah matahari...
"Ikaros...!! Ikaros, kembali...!!"
Daidalos berteriak berulang kali dengan sekuat tenaga tetapi langit luas menelan suaranya. Ikaros tidak mendengar panggilan ayahnya dan sesuatu yang sangat ditakutkan Daidalos terjadi. Perlahan-lahan matahari melelehkan lilin perekat dan bulu-bulu sayap Ikaros rontok satu demi satu. Seperti batu, Ikaros jatuh dari ketinggian. Daidalos berusaha untuk menangkap Ikaros, tetapi usahanya sia-sia belaka. Anak muda pemberani itu menemui ajalnya di dalam pelukan laut biru yang luas.

Laut itu kemudian diberi nama laut Ikaria dan sampai sekarang orang masih mengingat nama Ikaros sebagai pemuda pemberani yang telah mewujudkan cita-cita manusia untuk terbang. Sejarah memang selalu mencatat orang-orang pemberani dan tanpa mereka manusia tidak akan pernah melangkah maju ke depan.
Sementara Daidalos yang sangat terpukul atas kematian putranya hanya punya satu keinginan: melarikan diri sejauh mungkin. Ia lalu terbang ke arah barat dan akhirnya tiba di Sikelia (Sisilia). Beberapa tahun kemudian ia kembali ke Athena yang telah diperintah raja baru, Theseus,dan hukuman pembuangannya telah dibatalkan. Ia mendirikan sekolah di Athena dan mendidik banyak seniman besar hingga akhir hayatnya.
Prayudi~Greek mythology reteller
achilles79.multiply.com
PANDORA: Koreksi atas istilah kotak Pandora
Pada zaman dahulu, manusia belum mengetahui cara menyalakan api. Mereka tinggal di gubuk-gubuk, gua-gua maupun lubang pohon-pohon besar. Titan Prometheus, putra Iapetos, yang pertama kali memberikan api kepada manusia. Ia mengambil api dari tungku di bengkel kerja Hephaistos dan memberikannya untuk umat manusia.
Dengan api, kini manusia dapat memanggang makanan, mempersembahkan kurban kepada para dewa dan membuat perkakas dari logam. Masyarakat saat itu sangat menyukai perkakas yang terbuat dari perunggu, sehingga generasi manusia yang hidup saat itu disebut Generasi Perunggu.
Tapi Zeus tampak tak senang dengan keadaan tersebut. Manusia Generasi Perunggu memiliki tubuh yang tinggi besar dan kuat dan setelah mereka menguasai cara membuat api, kekuatan mereka menjadi berlipat ganda dari sebelumnya. Kini hanya ada satu perbedaan antara dewa dengan manusia: manusia bisa mati sedangkan dewa hidup abadi. Bahkan penguasa para dewa dan manusia itu pun mulai merasa takut dan khawatir.
Karena merasa diperdaya Prometheus, Zeus mengambil kembali hadiah api yang telah diberikan dan menyembunyikannya di puncak tinggi Olympus. Tetapi Prometheus mencuri api tersebut dan membawanya turun kembali untuk diberikan kepada manusia. Mengetahui perbuatan Prometheus, amarah Zeus tak terkendalikan lagi. Ia menyusun rencana untuk menghukum Prometheus dan umat manusia.
Pertama-tama, ia memanggil Hephaistos untuk menciptakan wanita dari tanah liat yang parasnya secantik dewi-dewi, memberinya suara dan gerakan serta memenuhi matanya dengan pesona surgawi. Hephaistos segera memenuhi perintah ayahnya, ia mengambil tanah dan air dan menciptakan seorang wanita sesuai dengan yang digambarkan oleh ayahnya.
Setelah selesai, lalu Zeus memanggil semua dewa untuk berkumpul dan mengumumkan akan memberikan seorang wanita kepada umat manusia yang telah menghormati dewa-dewa. Ia mempersilakan para dewa dan dewi untuk memberikan hadiah kepada wanita muda tersebut.
Athena membungkus tubuh wanita itu dengan gaun-gaun indah yang lebih terang dari matahari, Aphrodite menghadiahkan pesona keindahan yang tidak mungkin ditolak, dewi-dewi Kharites menyematkan kalung emas di leher wanita itu dan dewi-dewi Horai meletakkan mahkota dari rangkaian bunga yang harum semerbak di kepalanya.
Oleh karena itu wanita ini diberi nama Pandora yang berarti "(ia) yang menerima semua hadiah". Tetapi dibalik semua keindahan itu, Zeus diam-diam menyuruh Hermes untuk mengajarinya berbicara kebohongan dan pandai berkelit lidah serta sifat licik dan ingin tahu.
Dengan diantar oleh Hermes, Pandora dipertemukan dengan Epimetheus, saudara Prometheus yang tinggal bersama manusia lainnya di Bumi. Berbeda dengan saudaranya itu, Epimetheus ini tidak hanya lamban tetapi juga berhati lemah. Prometheus telah sering memperingatkannya agar jangan pernah menerima hadiah dari Zeus, karena bisa membuat celaka. Tetapi setelah melihat kecantikan Pandora yang sangat mempesona, dalam sekejap Epimetheus lupa pesan Prometheus dan menerima Pandora untuk dijadikan istrinya.
Ketika ia teringat kembali kata-kata Prometheus, ia lebih berhati-hati mengamati tindak-tanduk Pandora karena di rumahnya terdapat sebuah guci (Pithos) yang ditutup rapat dan disegel dengan hati-hati oleh Prometheus. Karena bila guci itu dibuka, semua kejahatan akan terlepas dan berkeliaran di muka Bumi.
Dan betapa ngerinya Epimetheus, ketika ia memergoki Pandora memeriksa guci itu dengan penuh rasa ingin tahu.

"Jangan dekati guci itu, Pandora, "kata Epimetheus memperingatkan. "Prometheus telah berpesan agar jangan pernah membuka guci itu, jika sampai terbuka bencana besar akan menimpa kita semua."
"Buat apa juga aku membukanya," jawab Pandora ringan. Tetapi meski mulutnya berkata begitu, ia tak juga mampu mengalihkan matanya dari benda yang sungguh memancing rasa ingin tahunya itu.
Ia sangat penasaran apa yang ada di dalam guci itu, kenapa ditutup dan disegel sedemikian rapat. Setiap saat rasa penasaran itu mengganggunya, sampai suatu hari, ia tidak bisa lagi menahan diri. Begitu suaminya pergi meninggalkan rumah, ia mendekati guci itu.
Dengan perlahan ia membuka segel dan menggeser tutup guci... sontak Pandora menjerit penuh kengerian. Dari dalam guci itu keluar segerombolan roh-roh seram: Kejahatan, Kelaparan, Kebencian, Penyakit, Pembalasan Dendam dan roh-roh perbuatan keji lainnya. Rasa takut yang luar biasa mencekam pandora hingga ia tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat selain buru-buru menutup kembali guci itu. Tetapi dengan demikian ia justru mengurung satu-satunya roh baik yang masih tertinggal di dalam guci. Roh itu tak lain adalah... Harapan (elpis).
Prayudi~Greek mythology reteller
achilles79.multiply.com
Dengan api, kini manusia dapat memanggang makanan, mempersembahkan kurban kepada para dewa dan membuat perkakas dari logam. Masyarakat saat itu sangat menyukai perkakas yang terbuat dari perunggu, sehingga generasi manusia yang hidup saat itu disebut Generasi Perunggu.
Tapi Zeus tampak tak senang dengan keadaan tersebut. Manusia Generasi Perunggu memiliki tubuh yang tinggi besar dan kuat dan setelah mereka menguasai cara membuat api, kekuatan mereka menjadi berlipat ganda dari sebelumnya. Kini hanya ada satu perbedaan antara dewa dengan manusia: manusia bisa mati sedangkan dewa hidup abadi. Bahkan penguasa para dewa dan manusia itu pun mulai merasa takut dan khawatir.
Karena merasa diperdaya Prometheus, Zeus mengambil kembali hadiah api yang telah diberikan dan menyembunyikannya di puncak tinggi Olympus. Tetapi Prometheus mencuri api tersebut dan membawanya turun kembali untuk diberikan kepada manusia. Mengetahui perbuatan Prometheus, amarah Zeus tak terkendalikan lagi. Ia menyusun rencana untuk menghukum Prometheus dan umat manusia.
Pertama-tama, ia memanggil Hephaistos untuk menciptakan wanita dari tanah liat yang parasnya secantik dewi-dewi, memberinya suara dan gerakan serta memenuhi matanya dengan pesona surgawi. Hephaistos segera memenuhi perintah ayahnya, ia mengambil tanah dan air dan menciptakan seorang wanita sesuai dengan yang digambarkan oleh ayahnya.
Setelah selesai, lalu Zeus memanggil semua dewa untuk berkumpul dan mengumumkan akan memberikan seorang wanita kepada umat manusia yang telah menghormati dewa-dewa. Ia mempersilakan para dewa dan dewi untuk memberikan hadiah kepada wanita muda tersebut.
Athena membungkus tubuh wanita itu dengan gaun-gaun indah yang lebih terang dari matahari, Aphrodite menghadiahkan pesona keindahan yang tidak mungkin ditolak, dewi-dewi Kharites menyematkan kalung emas di leher wanita itu dan dewi-dewi Horai meletakkan mahkota dari rangkaian bunga yang harum semerbak di kepalanya.
Oleh karena itu wanita ini diberi nama Pandora yang berarti "(ia) yang menerima semua hadiah". Tetapi dibalik semua keindahan itu, Zeus diam-diam menyuruh Hermes untuk mengajarinya berbicara kebohongan dan pandai berkelit lidah serta sifat licik dan ingin tahu.
Dengan diantar oleh Hermes, Pandora dipertemukan dengan Epimetheus, saudara Prometheus yang tinggal bersama manusia lainnya di Bumi. Berbeda dengan saudaranya itu, Epimetheus ini tidak hanya lamban tetapi juga berhati lemah. Prometheus telah sering memperingatkannya agar jangan pernah menerima hadiah dari Zeus, karena bisa membuat celaka. Tetapi setelah melihat kecantikan Pandora yang sangat mempesona, dalam sekejap Epimetheus lupa pesan Prometheus dan menerima Pandora untuk dijadikan istrinya.
Ketika ia teringat kembali kata-kata Prometheus, ia lebih berhati-hati mengamati tindak-tanduk Pandora karena di rumahnya terdapat sebuah guci (Pithos) yang ditutup rapat dan disegel dengan hati-hati oleh Prometheus. Karena bila guci itu dibuka, semua kejahatan akan terlepas dan berkeliaran di muka Bumi.
Dan betapa ngerinya Epimetheus, ketika ia memergoki Pandora memeriksa guci itu dengan penuh rasa ingin tahu.

"Jangan dekati guci itu, Pandora, "kata Epimetheus memperingatkan. "Prometheus telah berpesan agar jangan pernah membuka guci itu, jika sampai terbuka bencana besar akan menimpa kita semua."
"Buat apa juga aku membukanya," jawab Pandora ringan. Tetapi meski mulutnya berkata begitu, ia tak juga mampu mengalihkan matanya dari benda yang sungguh memancing rasa ingin tahunya itu.
Ia sangat penasaran apa yang ada di dalam guci itu, kenapa ditutup dan disegel sedemikian rapat. Setiap saat rasa penasaran itu mengganggunya, sampai suatu hari, ia tidak bisa lagi menahan diri. Begitu suaminya pergi meninggalkan rumah, ia mendekati guci itu.
Dengan perlahan ia membuka segel dan menggeser tutup guci... sontak Pandora menjerit penuh kengerian. Dari dalam guci itu keluar segerombolan roh-roh seram: Kejahatan, Kelaparan, Kebencian, Penyakit, Pembalasan Dendam dan roh-roh perbuatan keji lainnya. Rasa takut yang luar biasa mencekam pandora hingga ia tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat selain buru-buru menutup kembali guci itu. Tetapi dengan demikian ia justru mengurung satu-satunya roh baik yang masih tertinggal di dalam guci. Roh itu tak lain adalah... Harapan (elpis).
Prayudi~Greek mythology reteller
achilles79.multiply.com
APHRODITE - HEPHAISTOS - ARES: Ironi sang dewi cinta

Seperti apakah pasangan sang dewi cinta dan kecantikan, Aphrodite? Seseorang yang memiliki paras rupawan? Bertubuh tinggi tegap? Berkulit bersih? Berambut indah? Sayangnya wanita paling cantik sejagat raya tidak berarti harus berpasangan dengan laki-laki paling tampan sedunia. Dan inilah takdir yang telah digariskan: Aphrodite yang jelita menikah dengan dewa yang tidak tampan maupun berbadan tegap, malah kakinya cacat sejak lahir. Dewa buruk rupa ini adalah Hephaistos, dewa api dan pandai besi, putra Zeus dan Hera, yang bila berjalan dibantu dengan sebilah tongkat.
Hephasitos memang bukanlah pasangan yang tepat bagi sang dewi yang memuja keindahan itu. Karena bagi sang dewi, arti kebahagiaan itu adalah pemujaan terhadap kecantikan dirinya. Sementara bagi Hephaistos, kebahagiaan ada dalam kerja keras di bengkelnya yang kotor dan penuh asap. Aphrodite banyak menghabiskan waktunya dengan bersolek sementara sang suami bekerja menempa logam dalam panasnya api, berpeluh keringat dan kotor.
Aphrodite memang tidak benar-benar mencintai Hephaistos dan sungguh ironis: dewi yang menyebarkan cinta di antara manusia justru tak mampu memberikan cinta kepada pasangannya sendiri . Ia lebih memuja saudara Hephaistos, Ares, dewa perang, yang berbadan tegap dan tampak tampan dengan pakaian perang gemerlapan. Walaupun kecerdasan dewa perang ini berbanding terbalik dengan penampilan gemerlapnya itu, tetapi selalu ada wanita yang memuja orang-orang seperti Ares.
Suatu hari Ares berbisik-bisik kepada Aphrodite, membujuk dewi cinta ini untuk melewatkan malam bersamanya… dan tentu saja Aphrodite tidak menolaknya. Yang lebih kurang ajar lagi, Ares mengajak Aphrodite melakukannya di rumah Hephaistos! Walaupun tidak ada seorangpun yang mengetahui rencana Ares, dari atas langit, Helios melihat semuanya dan mendengar setiap kata yang mereka berdua ucapkan. Helios tidak memaafkan perbuatan khianat seperti itu, apalagi menimpa dewa yang baik hati dan begitu dicintai seperti Hephaistos, maka dari itu ia memberi tahu rencana Ares kepada Hephaistos.
Kabar dari Helios itu merupakan kenyataan paling pahit bagi sang dewa api. Jelas sudah Aphrodite sama sekali tidak mencintai dirinya. Ia begitu murka dan memikirkan rencana untuk menangkap basah istrinya yang berselingkuh dengan Ares. Dengan ketrampilannya, Hephaistos menggantungkan jaring-jaring tak terlihat di langit-langit kamar tidurnya dengan tali yang amat kuat sehingga tidak ada seorangpun sanggup merobeknya. Lalu ia mengucapkan selamat tinggal kepada seluruh penghuni Olympos dengan suara keras, bahwa ia akan pergi selama beberapa hari ke Lemnos.
Mengetahui Hephaistos telah pergi, Ares menarik Aphrodite masuk ke kamar Hephaistos… mereka saling berpelukan dan kemudian berbaring di ranjang Hephaistos. Saat itu pula tiba-tiba jaring buatan Hephaistos yang tidak terlihat jatuh membungkus dan mengikat tubuh keduanya dengan begitu erat sehingga keduanya tidak sanggup menggerakkan badan. Saat itu pula, pintu kamar terbuka dan tampaklah semua dewa beserta Hephaistos. Mereka semua tertawa terbahak-bahak melihat kedua pasangan selingkuh itu tertangkap basah.
Hephaistos membiarkan semua dewa mengejek dan menertawakan kedua dewa-dewi itu sampai mereka puas. Sementara Ares dan Aphrodite hanya bisa menunduk malu tidak berani memandang wajah-wajah para dewa. Ares berulang kali mencoba memberontak untuk melepaskan diri dari jaring itu tetapi justru mukanya makin memerah dan membuat dewa-dewa tertawa serta mencemooh dewa perang itu.
Hephaistos tidak berniat untuk melepaskan kedua pasangan itu kalau saja Poseidon tidak membujuk Hephaistos membebaskan keduanya, dan mereka dengan malu pergi dari Olympos. Aphrodite kembali ke negeri kelahirannya, Kypros, sementara Ares bersembunyi di Thrakia, negeri penuh prajurit haus darah yang gemar berperang.
Prayudi~Greek mythology reteller
achilles79.multiply.com
HESTIA: dewi yang membawa kehangatan dalam keluarga

Alkisah suatu hari, suatu senja di musim dingin… di dalam gubuk yang sangat sederhana dimana keluarga pekerja biasa tinggal, anggota keluarga sedang berkumpul mengelilingi tungku perapian yang hangat. Di tungku itu menyala api yang asapnya keluar melalui sebuah lubang di langit-langit atap. Sang ibu sedang memasak masakan di atas api tersebut.
Keluarga sederhana itu telah duduk di depan perapian. Dalam kehangatan api mereka bersantai dan berseda gurau setelah lelah bekerja sehari penuh di ladang. Sang ayah bercengkerama dengan putra sulungnya sementara anak perempuannya yang manja minta dipangku oleh sang kakek.
Beberapa saat kemudian masakan sudah matang, sang ibu mengambil panci yang berisi makanan dari atas api dan membukanya. Bau harum sup yang lezat dan gurih segera merebak ke seluruh ruangan. Ia menyajikan makan malam berupa roti gandum dan sup yang masih hangat mengepul dengan segenap cinta kasih kepada seluruh anggota keluarga.
Itulah gambaran kehidupan keluarga Yunani ribuan tahun yang lalu dan dewi apa yang namanya mereka sebut saat makanan dihidangkan dan saat selesai bersantap? Nama dewi itu adalah Hestia, yang menurut penyair besar Homeros, dewi yang paling dicintai dan dihormati oleh manusia. Karena Hestia adalah dewi rumah tangga, keluarga dan api tungku yang tak pernah padam.

Hestia seperti halnya dewi Athena dan Artemis, tidak menikah dan tetap perawan. Cintanya hanyalah untuk manusia dan kehangatan keluarga. Tidak heran ia dicintai manusia melebihi dewa-dewa Olympos lainnya karena manusia mencintai kehangatan, kedamaian dan kehidupan yang damai. Manusia lebih mencintai dewa-dewi yang rendah hati dan lebih dekat dengan manusia.
Memang di zaman itu, di saat menyalakan api bukanlah perkara yang mudah, api tungku harus tetap menyala di setiap rumah. Bila sampai api itu padam, dipercaya bencana besar akan menimpa rumah tersebut. Api perapian dijaga turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Saat anak-anak tumbuh dewasa dan menikah, mereka mengambil bara yang menyala dari rumah ayah mereka untuk dinyalakan di rumah yang baru. Mereka menjaga nyala api dan kehangatannya selama ratusan bahkan ribuan tahun dan akan membela mati-matian bila ada ada yang ingin memadamkannya.
Selain di dalam rumah, di setiap kota juga dapat ditemui sebuah bangunan yang disebut pritaneion. Di dalamnya terdapat altar pemujaan untuk Hestia dan api abadi yang terus-menerus menyala. Bila penduduk kota itu pergi untuk mendirikan koloni di daerah lain, mereka membawa api dari altar itu untuk dinyalakan di altar baru di kota yang akan mereka bangun.
Nyala api ini akan selalu mengingatkan mereka akan ikatan suci antara kota baru dan kota asal mereka, dan melambangkan kerinduan kepada kampung halaman mereka...
Prayudi~Greek mythology reteller
achilles79.multiply.com
Selasa, 10 April 2012
ATHENA: Kisah mengenai sang dewi kebijaksanaan (4)
Athena dan Tiresias
“Adalah diantara warga Thebes, seorang peramal bernama Teiresias, putra Eueres dan peri Khariklo… dan ia tidak bisa melihat… Konon, kebutaannya itu disebabkan oleh Athena” (Apollodorus, The Library)

Athena hanya mencintai keindahan dan keterampilan para seniman sejati. Ia mengingkari kesenangan pada diri sendiri, sebab itu ia tidak pernah jatuh cinta dan menikah. Maka tidak heran saat seorang laki-laki memergokinya sedang tidak berbusana, Athena merasa sangat malu dan terhina. Walaupun laki-laki itu tidak bermaksud jahat dan tidak sengaja, sang dewi menutup kedua mata laki-laki itu dan lelaki malang itu kehilangan penglihatannya.
Ketika Athena melihat laki-laki buta itu berjalan tersaruk-saruk, ia merasa iba dan ingin mengembalikan penglihatnnya seperti semula, tetapi itu tidak mungkin. Jadi untuk memperbaiki kesalahannya, Athena mempertajam pendengaran laki-laki itu sehingga mengerti bahasa burung dan bisa meramal masa depan serta menghadiahkannya tongkat kayu ajaib yang dapat menuntunnya seperti orang yang bisa melihat.
Laki-laki itu adalah Teiresias yang kemudian menjadi peramal terbesar dan namanya sering disebut-sebut dalam sejarah Mitologi Yunani.
Athena dan Arakhne

Di saat-saat sang dewi sedang sendirian, ia lebih senang melakukan kegemarannya, yaitu menenun. Kalau Athena sedang menenun dan menyulam, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk bekerja dengan alat tenunnya dan melupakan semua persoalan. Keahliannya ini kemudian diajarkannya kepada manusia hingga semua wanita bisa menenun sebaik dan hasilnya seindah hasil tenunannya.
Tapi tak seorangpun wanita di dunia yang berani menyombongkan hasil tenunnya melebihi karya sang dewi, kecuali satu orang. Wanita yang berasal dari Lydia itu bernama Arakhne yang angkuh dan sering meremehkan hasil karya orang lain. Hasil tenunannya memang sangat bagus dan indah sehingga keahliannya hampir menyamai keahlian Athena.
Suatu hari di depan orang banyak yang mengagumi hasil tenunannya, Arakhne kembali menyombongkan dirinya bahwa ia lebih baik dari Athena dan menantang sang dewi untuk datang dan membuktikan siapa yangterbaik di antara mereka berdua.
Athena yang ingin menghukum wanita sombong ini, segera menemui Arakhne dan menjawab tantangannya. Keduanya berlomba-lomba menyelesaikan tenunannya dengan gerakan cepat dan lincah. Jari-jari mereka menari di antara benang warna-warni dan menyulamnya hingga menjadi hasil karya yang begitu menakjubkan.
Setelah selesai, keduanya memamerkan hasil tenunannya di depan semua orang. Karya sang dewi menggambarkan Akropolis yang permai dan seluruh dewa-dewa Olympos tampak sedang berkumpul di dekat Kekrops untuk menentukan siapa yang berhak melindungi kota, Poseidon atau Athena. Seluruh gambar itu dibingkai oleh rangkaian buah zaitun sehingga memepercantik hasil tenunan Athena itu.

Sedangkan Arakhne, dengan hasil karya yang sama sempurnanya seperti karya Athena, sebaliknya menggambarkan dewa-dewa Olympos penuh penghinaan dan penuh nafsu liar. Ia memang bermaksud untuk merendahkan dan menghina dewa-dewa Olympos di atas tenunannya itu. Ketika melihat hasil karya Arakhne yang sempurna tanpa cacat, kemarahan Athena tak tertahankan lagi. Ia segera merobek-robek hasil karya Arakhne dan membuangnya ke lantai.
Arakhne yang tidak tahan dipermalukan seperti itu di depan orang banyak mengambil seutas tali dan berniat menggantung dirinya sendiri, tetapi sang dewi mencegahnya:
“Hiduplah dan menenunlah sambil menggantung seperti sekarang ini… dan begitu pula yang dilakukan keturunanmu di kemudian hari.”
Seusai berkata-kata seperti itu, Athena mengubah Arakhne menjadi seekor laba-laba, yang dalam bahasa Yunani disebut juga dengan nama Arakhnês.
Sejak saat itu Arakhne dan keturunannya sambil menggantung diri terus-menerus menenun, seperti yang dulu pernah dikerjakannya. Tetapi saat ini tak ada seorangpun yang menyenangi hasil tenunannya itu karena setiap orang yang melihat jaring laba-laba di rumahnya pasti akan segera menyingkirkannya dan merusaknya.
Prayudi~Greek mythology reteller
achilles79.multiply.com
“Adalah diantara warga Thebes, seorang peramal bernama Teiresias, putra Eueres dan peri Khariklo… dan ia tidak bisa melihat… Konon, kebutaannya itu disebabkan oleh Athena” (Apollodorus, The Library)

Athena hanya mencintai keindahan dan keterampilan para seniman sejati. Ia mengingkari kesenangan pada diri sendiri, sebab itu ia tidak pernah jatuh cinta dan menikah. Maka tidak heran saat seorang laki-laki memergokinya sedang tidak berbusana, Athena merasa sangat malu dan terhina. Walaupun laki-laki itu tidak bermaksud jahat dan tidak sengaja, sang dewi menutup kedua mata laki-laki itu dan lelaki malang itu kehilangan penglihatannya.
Ketika Athena melihat laki-laki buta itu berjalan tersaruk-saruk, ia merasa iba dan ingin mengembalikan penglihatnnya seperti semula, tetapi itu tidak mungkin. Jadi untuk memperbaiki kesalahannya, Athena mempertajam pendengaran laki-laki itu sehingga mengerti bahasa burung dan bisa meramal masa depan serta menghadiahkannya tongkat kayu ajaib yang dapat menuntunnya seperti orang yang bisa melihat.
Laki-laki itu adalah Teiresias yang kemudian menjadi peramal terbesar dan namanya sering disebut-sebut dalam sejarah Mitologi Yunani.
Athena dan Arakhne

Di saat-saat sang dewi sedang sendirian, ia lebih senang melakukan kegemarannya, yaitu menenun. Kalau Athena sedang menenun dan menyulam, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk bekerja dengan alat tenunnya dan melupakan semua persoalan. Keahliannya ini kemudian diajarkannya kepada manusia hingga semua wanita bisa menenun sebaik dan hasilnya seindah hasil tenunannya.
Tapi tak seorangpun wanita di dunia yang berani menyombongkan hasil tenunnya melebihi karya sang dewi, kecuali satu orang. Wanita yang berasal dari Lydia itu bernama Arakhne yang angkuh dan sering meremehkan hasil karya orang lain. Hasil tenunannya memang sangat bagus dan indah sehingga keahliannya hampir menyamai keahlian Athena.
Suatu hari di depan orang banyak yang mengagumi hasil tenunannya, Arakhne kembali menyombongkan dirinya bahwa ia lebih baik dari Athena dan menantang sang dewi untuk datang dan membuktikan siapa yangterbaik di antara mereka berdua.
Athena yang ingin menghukum wanita sombong ini, segera menemui Arakhne dan menjawab tantangannya. Keduanya berlomba-lomba menyelesaikan tenunannya dengan gerakan cepat dan lincah. Jari-jari mereka menari di antara benang warna-warni dan menyulamnya hingga menjadi hasil karya yang begitu menakjubkan.
Setelah selesai, keduanya memamerkan hasil tenunannya di depan semua orang. Karya sang dewi menggambarkan Akropolis yang permai dan seluruh dewa-dewa Olympos tampak sedang berkumpul di dekat Kekrops untuk menentukan siapa yang berhak melindungi kota, Poseidon atau Athena. Seluruh gambar itu dibingkai oleh rangkaian buah zaitun sehingga memepercantik hasil tenunan Athena itu.

Sedangkan Arakhne, dengan hasil karya yang sama sempurnanya seperti karya Athena, sebaliknya menggambarkan dewa-dewa Olympos penuh penghinaan dan penuh nafsu liar. Ia memang bermaksud untuk merendahkan dan menghina dewa-dewa Olympos di atas tenunannya itu. Ketika melihat hasil karya Arakhne yang sempurna tanpa cacat, kemarahan Athena tak tertahankan lagi. Ia segera merobek-robek hasil karya Arakhne dan membuangnya ke lantai.
Arakhne yang tidak tahan dipermalukan seperti itu di depan orang banyak mengambil seutas tali dan berniat menggantung dirinya sendiri, tetapi sang dewi mencegahnya:
“Hiduplah dan menenunlah sambil menggantung seperti sekarang ini… dan begitu pula yang dilakukan keturunanmu di kemudian hari.”
Seusai berkata-kata seperti itu, Athena mengubah Arakhne menjadi seekor laba-laba, yang dalam bahasa Yunani disebut juga dengan nama Arakhnês.
Sejak saat itu Arakhne dan keturunannya sambil menggantung diri terus-menerus menenun, seperti yang dulu pernah dikerjakannya. Tetapi saat ini tak ada seorangpun yang menyenangi hasil tenunannya itu karena setiap orang yang melihat jaring laba-laba di rumahnya pasti akan segera menyingkirkannya dan merusaknya.
Prayudi~Greek mythology reteller
achilles79.multiply.com
ATHENA: Kisah mengenai sang dewi kebijaksanaan (3)
Athena dan Erekhtheus
Erekhteus, raja Athena pengganti Kekrops konon adalah putra Athena dengan Hephaistos. Tetapi karena sang dewi tetap perawan, sebagian mitos menyebutkan Erekhtheus adalah putra Bunda Bumi dan Hephaistos sehingga disebut juga Erikhthonios (yang berasal dari Bumi). Setelah melahirkan Erektheus, Bunda Bumi menitipkannya kepada Athena untuk didik dan dirawat seperti bayinya sendiri. Sehingga sebagian orang berpendapat Athena lah yang melahirkan Erekhtheus.

Alih-alih menjaga Erekhtheus kecil, Athena menempatkan bayi itu ke dalam keranjang tertutup dan menaruh seekor ular keramat di sampingnya. Ia memberikan keranjang yang tertutup rapat itu kepada Aglauros, putri Kekrops. Athena berpesan agar Agaluros tidak sekali-kali membuka keranjang itu dan tidak mengatakan kepada siapapun bahwa sang dewi memberikan sesuatu kepada Aglauros.
Setelah itu Athena bergegas kembali ke Akropolis untuk melanjutkan pembangunan kota Athena, tetapi Agalauros mulai diusik rasa ingin tahu apa yang ada di dalam keranjang tersebut. Ia berniat membukanya tanpa mengindahkan peringatan sang dewi. Dan saat Aglauros membuka tutup keranjang itu… tiba-tiba seekor ular muncul dari balik selimut dan menjulurkan kepalanya siap menggigit Aglauros. Putri Kekrops itu menjadi panik dan ketakutan, ia lari terbirit-birit dan jatuh dari ketinggian Akropolis...

Saat itu, Athena sedang sibuk mengangkut batu-batu besar untuk memperkuat dinding Akropolis. Seekor burung gagak yang sedang lewat memberitahukan kejadian yang dialami oleh Aglauros itu kepada Athena. Sang dewi yang cemas dan terkejut langsung menjatuhkan begitu saja batu yang sedang dibawanya. Ia cepat-cepat berlari ke kediaman Agaluros untuk mengambil si bayi dan kemudian membawanya ke kuilnya untuk dirawat sendiri.
Sementara batu yang dijatuhkan oleh Athena tetap berdiri utuh di tempatnya sekarang dan dinamai Bukit Lykabettus (Lykavittos). Bukit ini mencuat persis di tengah-tengah pusat kota Athena, tidak jauh dari Akropolis. Sedangkan burung gagak yang membawa kabar buruk itu oleh sang dewi warna bulunya diubah dari putih bersih menjadi hitam legam dan suaranya juga menjadi parau dan memilukan. Demikianlah, sejak saat itu dewi Athena melarang burung gagak mendekati Akropolis untuk selamanya.
Prayudi~Greek mythology reteller
achilles79.multiply.com
Erekhteus, raja Athena pengganti Kekrops konon adalah putra Athena dengan Hephaistos. Tetapi karena sang dewi tetap perawan, sebagian mitos menyebutkan Erekhtheus adalah putra Bunda Bumi dan Hephaistos sehingga disebut juga Erikhthonios (yang berasal dari Bumi). Setelah melahirkan Erektheus, Bunda Bumi menitipkannya kepada Athena untuk didik dan dirawat seperti bayinya sendiri. Sehingga sebagian orang berpendapat Athena lah yang melahirkan Erekhtheus.

Alih-alih menjaga Erekhtheus kecil, Athena menempatkan bayi itu ke dalam keranjang tertutup dan menaruh seekor ular keramat di sampingnya. Ia memberikan keranjang yang tertutup rapat itu kepada Aglauros, putri Kekrops. Athena berpesan agar Agaluros tidak sekali-kali membuka keranjang itu dan tidak mengatakan kepada siapapun bahwa sang dewi memberikan sesuatu kepada Aglauros.
Setelah itu Athena bergegas kembali ke Akropolis untuk melanjutkan pembangunan kota Athena, tetapi Agalauros mulai diusik rasa ingin tahu apa yang ada di dalam keranjang tersebut. Ia berniat membukanya tanpa mengindahkan peringatan sang dewi. Dan saat Aglauros membuka tutup keranjang itu… tiba-tiba seekor ular muncul dari balik selimut dan menjulurkan kepalanya siap menggigit Aglauros. Putri Kekrops itu menjadi panik dan ketakutan, ia lari terbirit-birit dan jatuh dari ketinggian Akropolis...

Saat itu, Athena sedang sibuk mengangkut batu-batu besar untuk memperkuat dinding Akropolis. Seekor burung gagak yang sedang lewat memberitahukan kejadian yang dialami oleh Aglauros itu kepada Athena. Sang dewi yang cemas dan terkejut langsung menjatuhkan begitu saja batu yang sedang dibawanya. Ia cepat-cepat berlari ke kediaman Agaluros untuk mengambil si bayi dan kemudian membawanya ke kuilnya untuk dirawat sendiri.
Sementara batu yang dijatuhkan oleh Athena tetap berdiri utuh di tempatnya sekarang dan dinamai Bukit Lykabettus (Lykavittos). Bukit ini mencuat persis di tengah-tengah pusat kota Athena, tidak jauh dari Akropolis. Sedangkan burung gagak yang membawa kabar buruk itu oleh sang dewi warna bulunya diubah dari putih bersih menjadi hitam legam dan suaranya juga menjadi parau dan memilukan. Demikianlah, sejak saat itu dewi Athena melarang burung gagak mendekati Akropolis untuk selamanya.
Prayudi~Greek mythology reteller
achilles79.multiply.com
ATHENA: Kisah mengenai sang dewi kebijaksanaan (2)
II. Asal Mula Berdirinya Kota Athena
Pada masa lampau, wilayah dimana kota Athena berdiri sekarang masih bernama Kekropia, yang diambil dari nama raja pertamanya, Kekrops. Kekrops adalah putra Bumi, mulai dari pinggang ke bawah tubuhnya berbentuk ular. Saat ia sedang mengawasi pembangunan kota baru itu dari puncak Akropolis, Poseidon sang dewa laut datang untuk menemuinya. Ia menginginkan kota baru itu diberi nama Poseidonia dan sebagai gantinya Poseidon akan membuat armada kota itu menjadi penguasa lautan dan tidak ada kekuatan yang sanggup menandinginya.

Agar Kekrops yakin dengan janji sang dewa laut itu, Poseidon memukulkan trisulanya ke atas batu dan dari tempat itu muncul sebuah sumur yang mengeluarkan mata air yang mengandung garam. Bila orang berlutut sambil menempelkan telinganya ke sumber mata air itu dan mendengar suara gemuruh lautan, jangan berlayar hari itu sebab badai akan mengamuk dan gelombang akan menelan setiap kapal yang berlayar di laut.
(Di masa-masa awal itu, semua dewa Olympos sedang memilih-milih kota di Yunani yang dikhususkan untuk menghormati satu dewa saja dan sebagai gantinya sang dewa akan melindungi kota tersebut. Contohnya, Aegina adalah kota kesayangan Zeus, Argos dilindungi oleh Hera atau Delphi yang memuja Apollo-pen.)
Saat Poseidon pergi, tiba-tiba muncul Athena di hadapan Kekrops. Sang dewi kebijaksanaan ini juga meminta Kekrops menamai kota itu dengan nama Athena dan dijanjikan kota yang akan menyandang nama sang dewi akan tumbuh menjadi pusat keindahan, kesenian, kesusastraan dan ilmu pengetahuan. Athena memukul batu dengan lembingnya dan muncullah pohon zaitun yang ranting-rantingnya sarat buah. Selain buahnya bisa dimakan dan minyaknya bisa digunakan untuk penerangan, ranting-ranting pohon ini akan menjadi lambang perdamaian untuk seluruh umat manusia.
Kekrops sangat gembira menerima hadiah dari sang dewi. Ia sangat menginginkan kota yang dibangunnya menjadi pusat kebudayaan dunia, tetapi Poseidon telah datang lebih dulu. Kekrops tidak bisa memutuskan nama apa yang ia akan pilih untuk kotanya: Poseidonia atau Athena?
Tiba-tiba Poseidon muncul kembali dan dengan trisulanya mencoba menghancurkan pohon zaitun Athena, tetapi Athena tidak tinggal diam. Ia meraih lembingnya dan menghalangi langkah sang penguasa lautan. Sikap berani Athena ini sangat melukai harga diri Poseidon dan ia menantang Athena untuk bertarung dengannya, satu lawan satu. Poseidon mengacungkan trisulanya yang menakutkan dan Athena mengarahkan lembing panjangnya yang gemerlapan, saling berhadap-hadapan.
Kedua dewa Olympos ini sudah akan saling menyerang saat tiba-tiba Zeus muncul di hadapan mereka berdua dan menengahi pertikaian di antara keduanya. Zeus sebenarnya ingin menghadiahkan kota itu untuk putri kesayangannya tetapi Poseidon yang pemarah tidak bisa dianggap remeh. Maka Zeus mengumpulkan semua dewa Olympos dan memutuskan masalah ini diselesaikan dengan cara pengambilan suara.

Satu persatu dewa Olympos lalu memberikan suaranya, apakah kota itu dihadiahkan untuk Poseidon atau Athena. Hasil akhirnya, semua dewi (Hera, Aphrodite, Demeter, Artemis dan Hestia) memberikan suaranya untuk Athena dan semua dewa memberikan suaranya untuk Poseidon (Hephaistos, Ares, Apollo dan Hermes). Karena Zeus tidak memilih, maka Athena menang dengan satu suara dan kota baru itu diberi nama Athena.
Ketika mengetahui dirinya kalah, Poseidon mengamuk. Ia mengaduk-aduk lautan dan menciptakan gelombang setinggi gunung untuk membanjiri daratan kota itu. Warga yang ketakutan bertanya kepada orakel apa yang harus mereka lakukan untuk menghentikan amarah Poseidon.

Jawaban orakel adalah seluruh wanita Athena harus melepaskan perannya sebagai pemimpin suku atau kepala keluarga dan anak-anaknya tidak boleh menyertakan nama ibunya di belakang namanya. Dan sejak saat itu, zaman dimana pemimpin keluarga adalah wanita lenyap sudah, digantikan oleh kaum laki-laki. Demikian juga, setiap anak mulai saat itu menyandang nama ayahnya bukan nama ibunya. Semua ini terjadi pada masa yang amat lampau, mungkin pada masa dimana kota Athena baru didirikan.
Setelah amarah Poseidon reda, penduduk Athena membangun sebuah kuil indah untuk menghormati Poseidon di tanjung Sainion, Athena. Sampai saat inipun di Akropolis masih terdapat mata air yang konon adalah mata air yang diciptakan Poseidon saat trisulanya dipukulkan ke tanah, dan saat kita mendekatkan telinga kita ke mata air tersebut, lamat-lamat akan terdengar suara gemuruh seperti suara badai di laut.
Demikian pula, pohon zaitun pemberian Athena masih bisa dilihat di Akropolis sampai sekarang, walaupun yang saat ini berdiri adalah pohon zaitun yang sudah ditanam berulangkali.
Konon, menurut Pausinias dalam tulisannya di Description of Greece, saat tentara Persia menyerbu dan membumihanguskan kota Athena, pohon zaitun itu ikut terbakar habis tetapi pada hari yang sama secara ajaib pohon zaitun itu tumbuh kembali mencapai tinggi 2 cubit/pekhys (kurang lebih 1 meter)
Prayudi~Greek mythology reteller
achilles79.multiply.com
Pada masa lampau, wilayah dimana kota Athena berdiri sekarang masih bernama Kekropia, yang diambil dari nama raja pertamanya, Kekrops. Kekrops adalah putra Bumi, mulai dari pinggang ke bawah tubuhnya berbentuk ular. Saat ia sedang mengawasi pembangunan kota baru itu dari puncak Akropolis, Poseidon sang dewa laut datang untuk menemuinya. Ia menginginkan kota baru itu diberi nama Poseidonia dan sebagai gantinya Poseidon akan membuat armada kota itu menjadi penguasa lautan dan tidak ada kekuatan yang sanggup menandinginya.

Agar Kekrops yakin dengan janji sang dewa laut itu, Poseidon memukulkan trisulanya ke atas batu dan dari tempat itu muncul sebuah sumur yang mengeluarkan mata air yang mengandung garam. Bila orang berlutut sambil menempelkan telinganya ke sumber mata air itu dan mendengar suara gemuruh lautan, jangan berlayar hari itu sebab badai akan mengamuk dan gelombang akan menelan setiap kapal yang berlayar di laut.
(Di masa-masa awal itu, semua dewa Olympos sedang memilih-milih kota di Yunani yang dikhususkan untuk menghormati satu dewa saja dan sebagai gantinya sang dewa akan melindungi kota tersebut. Contohnya, Aegina adalah kota kesayangan Zeus, Argos dilindungi oleh Hera atau Delphi yang memuja Apollo-pen.)
Saat Poseidon pergi, tiba-tiba muncul Athena di hadapan Kekrops. Sang dewi kebijaksanaan ini juga meminta Kekrops menamai kota itu dengan nama Athena dan dijanjikan kota yang akan menyandang nama sang dewi akan tumbuh menjadi pusat keindahan, kesenian, kesusastraan dan ilmu pengetahuan. Athena memukul batu dengan lembingnya dan muncullah pohon zaitun yang ranting-rantingnya sarat buah. Selain buahnya bisa dimakan dan minyaknya bisa digunakan untuk penerangan, ranting-ranting pohon ini akan menjadi lambang perdamaian untuk seluruh umat manusia.
Kekrops sangat gembira menerima hadiah dari sang dewi. Ia sangat menginginkan kota yang dibangunnya menjadi pusat kebudayaan dunia, tetapi Poseidon telah datang lebih dulu. Kekrops tidak bisa memutuskan nama apa yang ia akan pilih untuk kotanya: Poseidonia atau Athena?
Tiba-tiba Poseidon muncul kembali dan dengan trisulanya mencoba menghancurkan pohon zaitun Athena, tetapi Athena tidak tinggal diam. Ia meraih lembingnya dan menghalangi langkah sang penguasa lautan. Sikap berani Athena ini sangat melukai harga diri Poseidon dan ia menantang Athena untuk bertarung dengannya, satu lawan satu. Poseidon mengacungkan trisulanya yang menakutkan dan Athena mengarahkan lembing panjangnya yang gemerlapan, saling berhadap-hadapan.
Kedua dewa Olympos ini sudah akan saling menyerang saat tiba-tiba Zeus muncul di hadapan mereka berdua dan menengahi pertikaian di antara keduanya. Zeus sebenarnya ingin menghadiahkan kota itu untuk putri kesayangannya tetapi Poseidon yang pemarah tidak bisa dianggap remeh. Maka Zeus mengumpulkan semua dewa Olympos dan memutuskan masalah ini diselesaikan dengan cara pengambilan suara.

Satu persatu dewa Olympos lalu memberikan suaranya, apakah kota itu dihadiahkan untuk Poseidon atau Athena. Hasil akhirnya, semua dewi (Hera, Aphrodite, Demeter, Artemis dan Hestia) memberikan suaranya untuk Athena dan semua dewa memberikan suaranya untuk Poseidon (Hephaistos, Ares, Apollo dan Hermes). Karena Zeus tidak memilih, maka Athena menang dengan satu suara dan kota baru itu diberi nama Athena.
Ketika mengetahui dirinya kalah, Poseidon mengamuk. Ia mengaduk-aduk lautan dan menciptakan gelombang setinggi gunung untuk membanjiri daratan kota itu. Warga yang ketakutan bertanya kepada orakel apa yang harus mereka lakukan untuk menghentikan amarah Poseidon.

Jawaban orakel adalah seluruh wanita Athena harus melepaskan perannya sebagai pemimpin suku atau kepala keluarga dan anak-anaknya tidak boleh menyertakan nama ibunya di belakang namanya. Dan sejak saat itu, zaman dimana pemimpin keluarga adalah wanita lenyap sudah, digantikan oleh kaum laki-laki. Demikian juga, setiap anak mulai saat itu menyandang nama ayahnya bukan nama ibunya. Semua ini terjadi pada masa yang amat lampau, mungkin pada masa dimana kota Athena baru didirikan.
Setelah amarah Poseidon reda, penduduk Athena membangun sebuah kuil indah untuk menghormati Poseidon di tanjung Sainion, Athena. Sampai saat inipun di Akropolis masih terdapat mata air yang konon adalah mata air yang diciptakan Poseidon saat trisulanya dipukulkan ke tanah, dan saat kita mendekatkan telinga kita ke mata air tersebut, lamat-lamat akan terdengar suara gemuruh seperti suara badai di laut.
Demikian pula, pohon zaitun pemberian Athena masih bisa dilihat di Akropolis sampai sekarang, walaupun yang saat ini berdiri adalah pohon zaitun yang sudah ditanam berulangkali.
Konon, menurut Pausinias dalam tulisannya di Description of Greece, saat tentara Persia menyerbu dan membumihanguskan kota Athena, pohon zaitun itu ikut terbakar habis tetapi pada hari yang sama secara ajaib pohon zaitun itu tumbuh kembali mencapai tinggi 2 cubit/pekhys (kurang lebih 1 meter)
Prayudi~Greek mythology reteller
achilles79.multiply.com
Langganan:
Postingan (Atom)



