Senin, 16 April 2012

Muse : Dewi dewi seni



Kesembilan dewi Muse (Mousai) ini adalah putri-putri Zeus dan Mnemosyne (personifikasi dari ingatan) yang mengajarkan musik, nyanyian dan tarian kepada umat manusia. Bersama lahirnya dewi-dewi itu, datang pula kesenangan, kegembiraan dan kelembutan ke atas muka Bumi. Mereka menjadi sumber inspirasi bagi para penyair, seniman dan manusia lainnya untuk menciptakan karya seni yang indah.



Putri-putri Zeus ini sering mendatangi Gunung Helikon dimana para penggembala sering mendengar nyanyian mereka yang berpadu dengan gemericik air dan kicauan burung. Tetapi mereka lebih sering berada di lereng Gunung Parnassos, dekat mata air Kastalia untuk bernyanyi dan menari dengan diiringi petikan lyra Apollo, sang dewa musik pemimpin kesembilan Muse.



Konon, saat dewi-dewi Muse ini lahir dan musik turun ke dunia, banyak orang terpesona sehingga mereka bernyanyi siang dan malam, tanpa berhenti dan tidak makan maupun minum. Mereka terus bernyanyi dan bernyanyi hingga menemui ajal. Tetapi setelah mati mereka tidak turun ke Hades melainkan menjelma menjadi jangkrik, binatang yang terus bernyanyi tanpa diusik oleh rasa lapar dan haus. Konon, bila jangkrik berbunyi sebenarnya binatang itu sedang bercakap-cakap dengan dewi-dewi Muse, membicarakan manusia yang mencintai seni, nyanyian dan tarian yang telah diajarkan para dewi Muse.


Kesembilan dewi Muse itu ialah:

1. Kalliope, yang paling tertua dan dihormati dari Sembilan Muse lainnya. Ia adalah Muse puisi epik (kepahlawanan) yang diseru oleh Homeros di awal sajak Iliad dan Odyssea. Ia digambarkan sedang memegang lempengan batu dan pena di tangan kanan.

2. Kleio, Muse sejarah. Ia digambarkan sedang duduk memegang gulungan kertas yang terbuka atau buku yang setengah terbuka.

3. Euterpe, Muse puisi lirik, yang digambarkan memegang seruling kembar.

4. Melpomene, Muse tragedi. Ia membawa topeng orang yang bersedih atau sebilah pedang, dan kepalanya dihiasi mahkota daun anggur.

5. Terpsikhore, Muse paduan suara dan tarian yang membawa sebuah lyra.

6. Erato, Muse puisi cinta. Seperti Terpsikhore, ia digambarkan sedang memegang Cithara sejenis lyra.

7. Polymnia, Muse himne religi . Ia selalu tampil dengan muka serius, berdiri dalam posisi yang takzim atau sedang berpikir.

8. Ouranie, Muse astronomi, sering digambarkan sedang menunjuk bola dunia dengan sebilah batang kayu.

9. Thaleia, Muse komedi. Ia memakai topeng orang yang tersenyum, membawa tongkat penggembala dan mengenakan mahkota rangkaian tumbuhan sulur di atas kepalanya.


Prayudi~Greek mythology reteller
http://achilles79.multiply.com

EROS & PSYKHE : Kisah cinta sang dewa asmara



Zaman dahulu hiduplah seorang raja di Yunani yang memiliki tiga orang putri. Ketiga-tiganya memiliki paras rupawan, tetapi di antara ketiganya yang paling cantik bagai seorang dewi adalah yang bungsu, yang bernama Psykhe. Setiap Psykhe berjalan keluar dari istana, semua orang mengagumi kecantikannya dan bergumam, "Seolah-olah dewi Aphrodite sendiri yang turun ke dunia." Sedangkan yang lain menganggap Psykhe adalah dewi baru yang kecantikannya melebihi Aphrodite. Selama waktu-waktu tersebut, kuil yang dikeramatkan untuk Aphrodite, sang dewi cinta, mulai dilupakan orang. Semua orang memuja Psykhe dan memberikan berbagai macam hadiah untuknya sekaligus melupakan Aphrodite.

Merasa terhina dan dilecehkan, Aphrodite mengutus Eros, putranya yang bersayap, untuk menghukum dan mempermalukan Psykhe. Ia menyuruh Eros melukai Psykhe dengan anak panah yang akan membuat gadis itu menikah dengan orang yang paling buruk yang pernah ada di dunia. Eros langsung berangkat mematuhi perintah ibunya. Tanpa terlihat mata manusia, ia bersembunyi di balik pohon dekat istana Psykhe dan mulai membidik. Sesaat kemudian, gerbang istana terbuka dan muncullah Psykhe, begitu mempesona bagai kilau bintang di langit malam. Eros seperti tersihir, ia menurunkan busur dan anak panahnya dan memandang Psykhe dengan kagum. Baru kali ini Eros tidak mematuhi perintah ibunya...Hari-hari dan bulan-bulan berlalu semenjak kejadian itu, kedua kakak perempuan Psykhe telah menikah dan tinggal bersama suami mereka. Tapi tak seorangpun yang datang untuk melamar putri raja yang cantik itu.

Sang ayah yang kebingungan pergi bertanya kepada orakel. Menurut orakel, Psykhe harus menikah dengan makhluk yang bukan dari golongan manusia. Sang raja harus mengadakan upacara pemakaman, seolah-olah ada yang meninggal, dan meninggalkan putri tercintanya di bukit di belakang istana. Disana calon suaminya akan menjemput Psykhe seorang diri. Setelah upacara selesai, Psykhe berjalan sendirian ke bukit di belakang istana sambil menangis meratapi nasibnya yang malang. Dan tiba-tiba sekumpulan awan tebal sudah membungkus tubuhnya dan membawanya pergi ke sebuah istana megah yang terbuat dari batu-batu besar yang atapnya terbuat dari gading dan emas. Psykhe memasuki istana itu, di dalamnya begitu megah dan mewah, tapi ia tidak menjumpai seorangpun disana. Tiba-tiba terdengar suara, "Selamat datang di istanaku Psykhe, aku adalah suamimu. Jangan takut dan jangan khawatir, pelayanku yang tidak terlihat akan mengurus apa saja yang kamu perlukan selama berada disini. Tapi jangan pernah melihat mukaku. Aku akan datang ketika malam datang dan kita akan bercakap-cakap dalam gelap." Psykhe mencari sumber suara tersebut, tapi ia tidak menemukan siapa-siapa. Walaupun begitu, ia tidak merasa takut, karena suara itu begitu lembut sehingga ia merasa nyaman dan aman. Akhirnya Psykhe tinggal di istana itu bersama suaminya yang sama sekali ia belum pernah lihat wajahnya. Saat siang, ia tinggal sendirian dan saat malam datang, suaminya akan menghampirinya dan bercakap-cakap sampai ia terlelap.

Beberapa hari kemudian, kedua kakak Psykhe datang ke istana tersebut mengunjungi adik mereka. Malam sebelumnya, suami Psykhe sudah berpesan apabila kedua kakak Psykhe datang dan bertanya mengenai keberadaan suaminya, jangan ceritakan keadaan yang sesungguhnya. Demikianlah, saat kedua kakak Psykhe masuk ke dalam istana dan terperanjat melihat interiornya yang sangat mewah, mereka langsung ingin melihat seperti apa suami adik mereka. Tetapi Psykhe yang patuh pada pesan suaminya hanya mengatakan ia masih muda dan saat ini sedang pergi berburu sehingga tidak bisa menemui mereka berdua. Kakak-kakak Psykhe yang iri, berpikir pasti suami Psykhe orang yang kaya raya dan mulai membujuk Psykhe untuk memberitahu siapa suaminya. Psykhe yang didesak terus, akhirnya mengaku bahwa ia sama sekali belum pernah melihat wajah suaminya dan suaminya hanya menemuinya saat malam tiba. Sebelum pulang, kedua saudari yang iri itu berpesan agar sebelum suaminya pulang, Psykhe menyiapkan lampu minyak dan sebilah pisau di bawah ranjang untuk mengetahui siapa sebenarnya suami Psykhe, apakah dia manusia atau makhluk setengah monster yang mengerikan.



Psykhe menuruti petunjuk kedua kakaknya tersebut, karena dalam hati kecilnya ia juga merasa penasaran ingin melihat seperti apa wajah suaminya tersebut. Begitu malam datang, terdengar langkah suaminya memasuki kamar dan langsung tertidur karena kelelahan. Psykhe menunggu beberapa saat, dan setelah dirasa suaminya sudah tertidur pulas, ia menyalakan lampu minyak dan mendekatkannya ke sosok yang berbaring di samping dirinya.... Psykhe tersentak. Dalam kegelapan malam, ia melihat bulu-bulu sayap keemasan dan ia melihat wajah dewa muda tampan yang tak seorangpun manusia di muka bumi ini pernah melihatnya. Dialah Eros, dewa Cinta. Karena kaget, tanpa sengaja Psykhe menjatuhkan lampu minyak dan mengenai bahu Eros. Eros yang merasa kesakitan terbangun dan begitu melihat Psykhe menghunus pisau, tanpa berkata sepatah kata pun, ia mengepakkan sayapnya dan langsung terbang dalam kegelapan malam. Sia-sia Psykhe memanggil dan memohon Eros untuk tidak meninggalkannya. Yang tertinggal hanyalah malam yang membisu. Psykhe berlari keluar istana dan terus berlari dalam gelapnya malam.

Sementara itu, Eros yang terluka kembali ke kediaman Aphrodite dan menceritakan apa yang telah terjadi. Aphrodite sangat marah mendengarnya dan menghukum Eros untuk tetap tinggal, dan karena luka itu Eros menderita demam tinggi. Psykhe yang menyesal, terus mencari Eros dan bertanya kepada semua orang di penjuru negeri. Tapi semuanya menggeleng bahkan ada yang menganggapnya gila, karena memang tak seorangpun pernah melihat Eros walaupun anak panah cintanya pasti melukai setiap orang di muka bumi ini. Akhirnya salah satu pelayan Aphrodite yang jatuh iba, menemui Psykhe dan membawanya ke kediaman Aphrodite. Aphrodite marah besar dan menguji Psykhe dengan tugas yang tidak mungkin dilakukan agar Psykhe tidak pernah bisa bertemu dengan Eros lagi. Aphrodite menitipkan sebuah kotak kepada Psykhe dan menyuruhnya menemui Persephone, ratu orang-orang mati di Dunia bawah tanah untuk meminta ramuan yang akan menyembuhkan Eros. Karena ingin melihat kesembuhan Eros, Psykhe langsung berangkat menemui Persephone. Ratu dan istri Hades itu begitu terharu melihat kegigihan Psykhe dan bersedia memberikan ramuan itu dengan satu syarat: jangan pernah membuka kotak itu selama perjalanan dan hanya Aphrodite yang harus membukanya.

Dalam perjalanan pulang, Psykhe yang diusik rasa ingin tahu, mengintip apa yang ada di balik kotak tersebut. Dan ternyata di dalam kotak itu selain obat juga tersimpan aroma tidur abadi yang barang siapapun manusia yang menghirupnya akan mati. Eros yang telah sembuh dari demamnya dan mengetahui Psykhe telah meninggal, memohon kepada Zeus untuk menghidupkannya kembali. Zeus mengabulkannya dan memberikan nektar untuk kehidupan yang abadi. Psykhe sekarang menjadi dewi dan hidup berbahagia bersama suaminya, Eros di istana para dewa, di Olympus...

Prayudi~Greek mythology reteller
http://achilles79.multiply.com

Ilustrated by: Wang'ZW (Do not copy without my permission)

PERSEPHONE : Saat musim semi datang dan musim dingin berlalu

Inilah gambaran bagaimana orang-orang yang hidup di masa lampau menyikapi perubahan alam dan pergantian musim. Tanpa adanya metode canggih untuk mengukur pergantian musim, saat itu manusia hanya mengandalkan perkiraan berdasar tanda-tanda dari alam. Dari pengalaman kehidupan sehari-hari manusia mengamati alam, akhirnya muncullah kisah yang di bungkus dengan imajinasi dan rasa hormat mereka kepada alam. Dan inilah kisah yang berasal dari ribuan tahun yang lampau...

PERSEPHONE adalah anak gadis Demeter, dewi panen dan pertanian, yang cantik rupawan. Suatu hari ia sedang bermain bersama kawan-kawannya, peri-peri laut Okeanida di Lembah Nisa, saat sepasang mata mengamatinya dari celah-celah Bumi.

Sepasang mata itu milik Hades, penguasa Dunia bawah tanah yang terpaku memandang Persephone dan berniat memperistrinya. Tanpa sadar, sambil memetiki bunga narsis, Persephone semakin menjauh dari kerumunan teman-temannya.



Hades tak sanggup menahan dirinya lagi dan tiba-tiba dari dalam perut bumi melompat keluar kereta yang ditarik sepasang kuda hitam legam yang tak kenal mati dan dikendarai oleh Hades sendiri. Secepat kilat, ia menyambar Persephone dan membawanya ke dasar bumi yang gelap gulita.

Persephone berteriak memanggil ibunya, sebelum suaranya ditelan kegelapan Hades. Teriakannya terbawa deru angin hingga ke Olympus dan terdengar oleh Demeter yang langsung bangkit dan lari mencari putrinya. Tak henti-hentinya ia memanggil nama putrinya dan tanpa kenal lelah ia mengarungi daratan dan lautan ke tempat teriakan anaknya berasal.

Sampailah Demeter di Lembah Nisa yang hijau, tempat peri-peri laut Okeanida yang cantik bermain. Tapi tak satupun yang mengetahui siapa yang telah menculik Persephone. Betapa malangnya nasib sang dewi, sambil menangis ia kembali berlari mencari Persephone selama sembilan hari sembilan malam. Tapi tak ada tanda-tanda keberadaan putri tercintanya, walaupun ia sudah bertanya pada semua orang, bahkan ke peramal-peramal ulung. Semuanya hanya menggelengkan kepala.



Akhirnya di hari kesepuluh, ia bertemu Helios, sang dewa matahari yang dari singgasana emasnya tak pernah luput menyaksikan segala sesuatu yang terjadi di muka Bumi. Dari Helios, Demeter mengetahui anak gadisnya sekarang telah menjadi istri Hades, ratu kerajaan orang-orang mati, yang tidak akan pernah melihat cahaya matahari dan tinggal selamanya dalam kegelapan abadi.

Kesedihan Demeter membuat seluruh alam turut berduka. Angin selatan yang dingin datang berhembus merontokkan daun-daun pepeohonan, bunga-bunga menjadi layu dan rerumputan hijau mengering. Bumi menjadi padang tandus dan banyak manusia serta binatang mati kelaparan.

Zeus, raja para dewa, yang melihat semua ini, tidak tinggal diam. Ia tidak bisa mengubah Takdir, tapi ia memutuskan untuk mengembalikan Persephone ke atas Bumi untuk hidup bersama ibunya selama enam bulan, dan enam bulan berikutnya tinggal bersama Hades di Dunia bawah tanah.



Sejak itu, di saat musim semi dan musim panas tiba, seluruh alam menghijau dan semarak oleh mekarnya bunga-bunga. Alam bersuka ria menyambut kedatangan Persephone untuk menemani ibunya.

Sebaliknya bila Persephone harus kembali ke dunia bawah tanah, Bumi menjadi gersang, daun-daun berguguran dan cuaca yang hangat menjadi dingin dan kelabu. Musim gugur dan musim dingin datang mengiringi kesedihan Demeter. Demikianlah, peristiwa itu terus berulang sampai sekarang.

Prayudi~Greek mythology reteller
http://achilles79.multiply.com

HERA, Ratu langit dan pelindung wanita



Setelah dimuntahkan Kronos, Hera muda disembunyikan oleh ibunya, Rheia, di negeri para Hesperida, yang aman jauh dari kejahatan Kronos. Negeri yang berada jauh di ufuk Barat, tempat dewa matahari, Helios, mengistirahatkan kuda-kudanya setelah seharian penuh melakukan perjalanan melintasi langit.

Disana tinggal para Hesperida dan dewi-dewi musim, Horae yang mengajarkan segala pengetahuan dan rahasia langit. Di negeri itu juga hidup seekor burung besar yang ekornya mirip bintang di langit, yang selalu mengikuti kemana pun Hera pergi.



Suatu hari, Zeus datang menjemput dewi cantik itu dan mengajaknya kembali ke Yunani untuk membantu menghentikan kejahatan Kronos. Hera yang kagum akan keberanian Zeus, jatuh cinta kepada dewa muda itu dan bersedia ikut dengannya ke tempat kelahirannya di Yunani.

Tak berapa lama kemudian, perang melawan Titan dimulai. Di saat-saat yang sulit itu, Hera selalu berdiri di samping Zeus dan juga turut bertempur bersamanya. Lewat perjuangan yang sangat berat selama sepuluh tahun, akhirnya dewa-dewa Olympus berhasil mengalahkan para Titan.

Zeus bertakhta di Olympus menjadi raja para dewa dan manusia menggantikan Kronos. Hera kemudian menikah dengan Zeus dan di atas singgasana emasnya ia memerintah langit, pergantian musim dan menjadi pelindung pernikahan.

Ia selalu hadir pada setiap pesta pernikahan untuk memberikan nasihat kepada sang istri agar selalu patuh dan setia terhadap suami agar tercipta keluarga yang bahagia. Oleh karena itu, Hera tak akan pernah memaafkan istri-istri yang melanggar sumpah pernikahan.

Hera dan Zeus dikaruniai dua orang putra, Hephaistos, dewa kerajinan tangan, dan Ares, dewa perang. Mereka juga memiliki seorang putri bernama Hebe (baca: Ivi-pen), yang berarti dewi masa muda. Hebe adalah contoh sempurna semua sifat baik yang dimiliki seorang gadis, santun terhadap orangtua dan menghormati saudara-saudaranya yang lebih tua. Ia bertugas menyajikan nektar dan ambrosia kepada para dewa dalam mangkuk dan piala-piala emas.



Hebe sering menemani ibunya bepergian ke Olympia, karena di kota ini terdapat kuil yang paling indah dari semua kuil yang dipersembahkan bagi Hera, yaitu Heraion. Di tempat ini setiap tahun gadis-gadis Yunani akan berlomba memberikan puji-pujian bagi Hera. Dan bagi pemenangnya akan diberikan hadiah berupa mahkota dari daun zaitun, penghargaan yang nilainya lebih dari sekedar materi.
Karena sikap santunnya, Hebe dicintai oleh seluruh dewa-dewa Olympus. Kelak, setelah Herakles menjadi dewa, Hebe menikah dengan pahlawan besar Yunani itu.

Prayudi~Greek mythology reteller
achilles79.multiply.com

Daedalus dan Ikaros

Selama berabad-abad manusia bermimpi untuk menaklukkan langit, terbang seperti burung dan memiliki kekuatan seperti para dewa. Dan jauh sebelum pesawat terbang dan balon udara ditemukan, seorang pemuda Yunani telah membuktikan manusia bisa mencapai apa yang dicita-citakannya dengan keberanian dan tekad bulat. Inilah sebuah kisah di masa lalu tentang penerbangan manusia untuk pertama kalinya dalam sejarah yang manginspirasi umat manusia hingga bisa mencapai Bulan.

Athena, ribuan tahun sebelum Masehi. Di bawah dinding-dinding Akropolis, tersebar puluhan bengkel kerja dan studio para seniman. Disana bekerja para pemahat, pelukis dan seniman lainnya. Yang paling mahsyur diantara mereka adalah Daidalos, putra Erekhteus.

Patung-patung buatan Daidalos terlihat sangat hidup, begitu pula bangunan rancangannya yang membuat kota Athena yang cantik menjadi semakin cantik. Daidalos juga dikenal sebagai seorang penemu. Kompas geometris, alat bor, kapak, tiang dan layar kapal adalah hasil pemikirannya yang cemerlang. Konon, dewi Athena sendiri yang mengajarkan seni kepada Daidalos.




Tetapi orang hebat selain mengumpulkan teman-teman yang mengelilingi mereka, juga menciptakan musuh yang melihat dengan iri keberhasilan Daidalos.

Daidalos mempunyai asisten, seorang pemuda berusia limabelas tahun yang bernama Talos. Ia adalah putra adik perempuan Daidalos, Perdix. Talos sangat berbakat dan rajin. Salah satu penemuannya yang dikenal di dunia ini adalah gergaji. Awalnya ia ingin memotong batang kayu menjadi dua dan ia menggunakan tulang rahang ular yang bergigi tajam. Hasilnya kayu itu terpotong cepat dan rapi. Lalu ia mengambil pisau besi dan membuatnya bergerigi seperti gigi-gigi di rahang ular itu. Demikianlah gergaji muncul ke dunia untuk pertama kalinya.

Suatu hari, paman dan keponakannya itu berjalan-jalan di Akropolis. Mereka menyusuri tepian tembok tinggi dan mengagumi keindahan kota Athena dari atas bukit. Malang, tiba-tiba Talos tersandung, hilang keseimbangan dan jatuh dari ketinggian sehingga menyebabkannya tewas.

Musuh-musuh Daidalos yang senang mendengar kabar ini, menyeret Daidalos ke pengadilan kota Athena. Diputuskan bersalah oleh penuntut hukum yang korup dan disuap, Daidalos diasingkan dari Athena seumur hidup. Dengan pahit, Daidalos keluar dari kota kelahirannya itu. Ia menuju Piraeus, pelabuhan di dekat Athena, lalu berlayar ke kepulauan Kiklades, Delos, Naksos dan Thera sebelum menuju ke Selatan, ke pulau Kreta.

Pada masa itu, Kreta diperintah oleh Raja Minos, putra Zeus dan Europa. Kreta adalah kerajaan besar yang armada lautnya disegani di seluruh dunia. Knossos, ibukota Kreta, berlimpah emas. Istana dan kuil-kuilnya dibangun dengan sangat megah. Minos sangat bangga atas pencapaiannya, tetapi saat ia berkunjung ke Athena, semua prestasinya tersebut pupus. Athena walaupun tak sebesar Knossos tapi sangat cantik dan menawan dengan dihias karya-karya seni bermutu tinggi yang kebanyakan dibuat oleh Daidalos.

Saat raja besar itu kembali ke Kreta, ia masih terbayang-bayang hasil karya indah Daidalos di Athena. 'Andai saja Daidalos tinggal di Kreta', begitu gumamnya.

Tiba-tiba seorang utusan menghadap sang raja dengan membawa kabar gembira: Daidalos baru saja tiba di Kreta. Raja Minos segera melompat dari tempat duduknya dan menyambut seniman mahsyur Athena itu dengan upacara megah.

Demikianlah, Daidalos menetap di Kreta dan menghiasi pulau itu dengan karya-karya seni
yang tak ada duanya. Ia menkah dengan seorang gadis cantik dari Kiklades yang bernama Naukrate dan mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Ikaros. Naukrate tak lama kemudian meninggal ketika Ikaros masih kecil.

Ikaros mencintai seni arsitektur, lukisan dan pahatan seperti ayahnya. Ia ikut membantu membangun labyrinth, karya terbesar Daidalos di Kreta. Labyrinth adalah sebuah bangunan yang sangat rumit, memiliki banyak sekali ruangan, lorong serta pintu. Siapapun yang masuk ke dalamnya tak akan bisa menemukan jalan keluar.

Di bagian dalam labyrinth di penjarakan Minotauros, monster pemakan manusia yang bertubuh manusia dan berkepala banteng. Suatu hari seorang pahlawan Athena, Theseus, membunuh monster ini untuk menyelamatkan rakyat Athena yang setiap tahunnya harus mengorbankan tujuh pemuda dan tujuh gadis perawan untuk dilahap Minotauros.

Daidalos membantu Theseus mengalahkan monster itu dan begitu raja Minos mengetahui hal ini, ia sangat murka. Daidalos dan Ikaros dijebloskan ke dalam penjara di dalam labyrinth. Walaupun Daidalos sendiri yang membangun labyrinth, bukan hal yang mudah untuk keluar dari situ.

Sebagian ruangan labyrinth beratap terbuka dengan tembok-tembok tinggi. Dari sana, Daidalos dan Ikaros memandang ke langit, dimana burung-burung bebas beterbangan. 'Andaikan manusia punya sayap', pikir Daidalos yang lalu disanggah oleh putranya: 'tetapi manusia memiliki otak ayah dan suatu hari nanti manusia akan bisa terbang seperti burung-burung itu'

Daidalos terpekur diam, ia menengadah ke langit sambil berpikir keras dan sebuah gagasan berani tiba-tiba muncul di kepalanya...

Saat Daidalos sedang termenung, ratu Kreta dan istri Minos, Pasiphae datang menemui mereka. Ia tidak sekejam suaminya dan hatinya sangat sedih melihat seniman besar itu dan anaknya dikurung di labyrinth. Daidalos memohon bantuan kepada ratu Kreta itu untuk membawakan bulu-bulu burung atau angsa dalam jumlah banyak. Terkesan oleh tekad dan rasa percaya diri Daidalos yang begitu besar, sang ratu membawa bulu-bulu yang diperlukan Daidalos secara diam-diam.

Daidalos segera bekerja, ia menjalin bulu-bulu itu, satu demi satu, dengan menggunakan lilin. Pekerjaan itu sangat sulit dan membutuhkan waktu serta kesabaran, tapi dalam beberapa hari Daidalos telah menyelesaikan pekerjaannya.



Ia membuat empat buah sayap besar yang sangat bagus, bahkan para dewa sekalipun akan iri bila melihatnya. Dengan menggunakan tali dari kulit, Daidalos memasang sepasang sayap di lengan dan pundak Ikaros, lalu yang sepasang lagi dipasang di tubuhnya sendiri.

Daidalos mencoba menggerakan lengannya ke atas dan ke bawah, dan tubuhnya terangkat ke udara! Impian untuk terbang seperti burung dan dewa-dewa sudah di depan mata!

Sebelum berangkat, Daidalos berpesan kepada anaknya untuk berhati-hati: jangan terbang terlalu rendah, karena gelombang laut bisa membasahi bulu-bulu sayap dan jangan pula terbang terlalu tinggi, sebab matahari akan melelehkan lilin yang merekatkan bulu-bulu itu.

Ikaros mengangguk, dan saatnya sudah tiba. Daidalos mengepakkan kedua sayapnya dengan sekuat tenaga dan meluncur ke angkasa diikuti Ikaros yang terbang di belakang mengikutinya. Mereka melintasi istana Knossos dan di teras istana, raja Minos melihat pemandangan ajaib lewat di depan matanya: dewa-dewa bersayap terbang di atas istananya! Ia tidak menyadari bahwa mereka adalah Daidalos dan putranya.

Daidalos dan Ikaros terbang dengan tenang meninggalkan pulau Kreta. Mereka melintasi laut dan melihat pulau yang tampak seperti bulan separuh. Itulah Thera (Santorini), yang terpotong separuh akibat letusan gunung. Lalu mereka melintasi Naxos, kemudian Delos, dengan kuil Apollo yang berdiri megah. Dan sekali lagi lautan luas terbentang di bawah mereka.

Ikaros sangat menikmati perjalananannya, ia meluncur turun dan naik. Daidalos yang khawatir memperingatkan putranya tersebut, tetapi Ikaros menenangkan ayahnya. Tentu saja Ikaros bukan siapa-siapa bila ia tidak memiliki keberanian. Dan tidak bisa disalahkan bila anak-anak muda memiliki semangat dan keberanian melebihi orang yang lebih tua. Ia terbang semakin tinggi, seakan-akan matahari menariknya seperti magnet. Peringatan ayahnya untuk terbang dengan aman telah dilupakannya.

Ketika Daidalos menengok untuk memeriksa apakah semuanya baik-baik saja, ia tidak melihat putranya di belakang. Dengan panik ia mengawasi langit dari satu tepi ke tepi lainnya. Di kejauhan, ia melihat titik kecil yang terbang ke arah matahari...

"Ikaros...!! Ikaros, kembali...!!"

Daidalos berteriak berulang kali dengan sekuat tenaga tetapi langit luas menelan suaranya. Ikaros tidak mendengar panggilan ayahnya dan sesuatu yang sangat ditakutkan Daidalos terjadi. Perlahan-lahan matahari melelehkan lilin perekat dan bulu-bulu sayap Ikaros rontok satu demi satu. Seperti batu, Ikaros jatuh dari ketinggian. Daidalos berusaha untuk menangkap Ikaros, tetapi usahanya sia-sia belaka. Anak muda pemberani itu menemui ajalnya di dalam pelukan laut biru yang luas.



Laut itu kemudian diberi nama laut Ikaria dan sampai sekarang orang masih mengingat nama Ikaros sebagai pemuda pemberani yang telah mewujudkan cita-cita manusia untuk terbang. Sejarah memang selalu mencatat orang-orang pemberani dan tanpa mereka manusia tidak akan pernah melangkah maju ke depan.

Sementara Daidalos yang sangat terpukul atas kematian putranya hanya punya satu keinginan: melarikan diri sejauh mungkin. Ia lalu terbang ke arah barat dan akhirnya tiba di Sikelia (Sisilia). Beberapa tahun kemudian ia kembali ke Athena yang telah diperintah raja baru, Theseus,dan hukuman pembuangannya telah dibatalkan. Ia mendirikan sekolah di Athena dan mendidik banyak seniman besar hingga akhir hayatnya.

Prayudi~Greek mythology reteller
achilles79.multiply.com

PANDORA: Koreksi atas istilah kotak Pandora

Pada zaman dahulu, manusia belum mengetahui cara menyalakan api. Mereka tinggal di gubuk-gubuk, gua-gua maupun lubang pohon-pohon besar. Titan Prometheus, putra Iapetos, yang pertama kali memberikan api kepada manusia. Ia mengambil api dari tungku di bengkel kerja Hephaistos dan memberikannya untuk umat manusia.
Dengan api, kini manusia dapat memanggang makanan, mempersembahkan kurban kepada para dewa dan membuat perkakas dari logam. Masyarakat saat itu sangat menyukai perkakas yang terbuat dari perunggu, sehingga generasi manusia yang hidup saat itu disebut Generasi Perunggu.

Tapi Zeus tampak tak senang dengan keadaan tersebut. Manusia Generasi Perunggu memiliki tubuh yang tinggi besar dan kuat dan setelah mereka menguasai cara membuat api, kekuatan mereka menjadi berlipat ganda dari sebelumnya. Kini hanya ada satu perbedaan antara dewa dengan manusia: manusia bisa mati sedangkan dewa hidup abadi. Bahkan penguasa para dewa dan manusia itu pun mulai merasa takut dan khawatir.

Karena merasa diperdaya Prometheus, Zeus mengambil kembali hadiah api yang telah diberikan dan menyembunyikannya di puncak tinggi Olympus. Tetapi Prometheus mencuri api tersebut dan membawanya turun kembali untuk diberikan kepada manusia. Mengetahui perbuatan Prometheus, amarah Zeus tak terkendalikan lagi. Ia menyusun rencana untuk menghukum Prometheus dan umat manusia.

Pertama-tama, ia memanggil Hephaistos untuk menciptakan wanita dari tanah liat yang parasnya secantik dewi-dewi, memberinya suara dan gerakan serta memenuhi matanya dengan pesona surgawi. Hephaistos segera memenuhi perintah ayahnya, ia mengambil tanah dan air dan menciptakan seorang wanita sesuai dengan yang digambarkan oleh ayahnya.

Setelah selesai, lalu Zeus memanggil semua dewa untuk berkumpul dan mengumumkan akan memberikan seorang wanita kepada umat manusia yang telah menghormati dewa-dewa. Ia mempersilakan para dewa dan dewi untuk memberikan hadiah kepada wanita muda tersebut.

Athena membungkus tubuh wanita itu dengan gaun-gaun indah yang lebih terang dari matahari, Aphrodite menghadiahkan pesona keindahan yang tidak mungkin ditolak, dewi-dewi Kharites menyematkan kalung emas di leher wanita itu dan dewi-dewi Horai meletakkan mahkota dari rangkaian bunga yang harum semerbak di kepalanya.

Oleh karena itu wanita ini diberi nama Pandora yang berarti "(ia) yang menerima semua hadiah". Tetapi dibalik semua keindahan itu, Zeus diam-diam menyuruh Hermes untuk mengajarinya berbicara kebohongan dan pandai berkelit lidah serta sifat licik dan ingin tahu.

Dengan diantar oleh Hermes, Pandora dipertemukan dengan Epimetheus, saudara Prometheus yang tinggal bersama manusia lainnya di Bumi. Berbeda dengan saudaranya itu, Epimetheus ini tidak hanya lamban tetapi juga berhati lemah. Prometheus telah sering memperingatkannya agar jangan pernah menerima hadiah dari Zeus, karena bisa membuat celaka. Tetapi setelah melihat kecantikan Pandora yang sangat mempesona, dalam sekejap Epimetheus lupa pesan Prometheus dan menerima Pandora untuk dijadikan istrinya.

Ketika ia teringat kembali kata-kata Prometheus, ia lebih berhati-hati mengamati tindak-tanduk Pandora karena di rumahnya terdapat sebuah guci (Pithos) yang ditutup rapat dan disegel dengan hati-hati oleh Prometheus. Karena bila guci itu dibuka, semua kejahatan akan terlepas dan berkeliaran di muka Bumi.

Dan betapa ngerinya Epimetheus, ketika ia memergoki Pandora memeriksa guci itu dengan penuh rasa ingin tahu.



"Jangan dekati guci itu, Pandora, "kata Epimetheus memperingatkan. "Prometheus telah berpesan agar jangan pernah membuka guci itu, jika sampai terbuka bencana besar akan menimpa kita semua."

"Buat apa juga aku membukanya," jawab Pandora ringan. Tetapi meski mulutnya berkata begitu, ia tak juga mampu mengalihkan matanya dari benda yang sungguh memancing rasa ingin tahunya itu.

Ia sangat penasaran apa yang ada di dalam guci itu, kenapa ditutup dan disegel sedemikian rapat. Setiap saat rasa penasaran itu mengganggunya, sampai suatu hari, ia tidak bisa lagi menahan diri. Begitu suaminya pergi meninggalkan rumah, ia mendekati guci itu.

Dengan perlahan ia membuka segel dan menggeser tutup guci... sontak Pandora menjerit penuh kengerian. Dari dalam guci itu keluar segerombolan roh-roh seram: Kejahatan, Kelaparan, Kebencian, Penyakit, Pembalasan Dendam dan roh-roh perbuatan keji lainnya. Rasa takut yang luar biasa mencekam pandora hingga ia tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat selain buru-buru menutup kembali guci itu. Tetapi dengan demikian ia justru mengurung satu-satunya roh baik yang masih tertinggal di dalam guci. Roh itu tak lain adalah... Harapan (elpis).

Prayudi~Greek mythology reteller
achilles79.multiply.com

APHRODITE - HEPHAISTOS - ARES: Ironi sang dewi cinta



Seperti apakah pasangan sang dewi cinta dan kecantikan, Aphrodite? Seseorang yang memiliki paras rupawan? Bertubuh tinggi tegap? Berkulit bersih? Berambut indah? Sayangnya wanita paling cantik sejagat raya tidak berarti harus berpasangan dengan laki-laki paling tampan sedunia. Dan inilah takdir yang telah digariskan: Aphrodite yang jelita menikah dengan dewa yang tidak tampan maupun berbadan tegap, malah kakinya cacat sejak lahir. Dewa buruk rupa ini adalah Hephaistos, dewa api dan pandai besi, putra Zeus dan Hera, yang bila berjalan dibantu dengan sebilah tongkat.

Hephasitos memang bukanlah pasangan yang tepat bagi sang dewi yang memuja keindahan itu. Karena bagi sang dewi, arti kebahagiaan itu adalah pemujaan terhadap kecantikan dirinya. Sementara bagi Hephaistos, kebahagiaan ada dalam kerja keras di bengkelnya yang kotor dan penuh asap. Aphrodite banyak menghabiskan waktunya dengan bersolek sementara sang suami bekerja menempa logam dalam panasnya api, berpeluh keringat dan kotor.

Aphrodite memang tidak benar-benar mencintai Hephaistos dan sungguh ironis: dewi yang menyebarkan cinta di antara manusia justru tak mampu memberikan cinta kepada pasangannya sendiri . Ia lebih memuja saudara Hephaistos, Ares, dewa perang, yang berbadan tegap dan tampak tampan dengan pakaian perang gemerlapan. Walaupun kecerdasan dewa perang ini berbanding terbalik dengan penampilan gemerlapnya itu, tetapi selalu ada wanita yang memuja orang-orang seperti Ares.

Suatu hari Ares berbisik-bisik kepada Aphrodite, membujuk dewi cinta ini untuk melewatkan malam bersamanya… dan tentu saja Aphrodite tidak menolaknya. Yang lebih kurang ajar lagi, Ares mengajak Aphrodite melakukannya di rumah Hephaistos! Walaupun tidak ada seorangpun yang mengetahui rencana Ares, dari atas langit, Helios melihat semuanya dan mendengar setiap kata yang mereka berdua ucapkan. Helios tidak memaafkan perbuatan khianat seperti itu, apalagi menimpa dewa yang baik hati dan begitu dicintai seperti Hephaistos, maka dari itu ia memberi tahu rencana Ares kepada Hephaistos.

Kabar dari Helios itu merupakan kenyataan paling pahit bagi sang dewa api. Jelas sudah Aphrodite sama sekali tidak mencintai dirinya. Ia begitu murka dan memikirkan rencana untuk menangkap basah istrinya yang berselingkuh dengan Ares. Dengan ketrampilannya, Hephaistos menggantungkan jaring-jaring tak terlihat di langit-langit kamar tidurnya dengan tali yang amat kuat sehingga tidak ada seorangpun sanggup merobeknya. Lalu ia mengucapkan selamat tinggal kepada seluruh penghuni Olympos dengan suara keras, bahwa ia akan pergi selama beberapa hari ke Lemnos.

Mengetahui Hephaistos telah pergi, Ares menarik Aphrodite masuk ke kamar Hephaistos… mereka saling berpelukan dan kemudian berbaring di ranjang Hephaistos. Saat itu pula tiba-tiba jaring buatan Hephaistos yang tidak terlihat jatuh membungkus dan mengikat tubuh keduanya dengan begitu erat sehingga keduanya tidak sanggup menggerakkan badan. Saat itu pula, pintu kamar terbuka dan tampaklah semua dewa beserta Hephaistos. Mereka semua tertawa terbahak-bahak melihat kedua pasangan selingkuh itu tertangkap basah.

Hephaistos membiarkan semua dewa mengejek dan menertawakan kedua dewa-dewi itu sampai mereka puas. Sementara Ares dan Aphrodite hanya bisa menunduk malu tidak berani memandang wajah-wajah para dewa. Ares berulang kali mencoba memberontak untuk melepaskan diri dari jaring itu tetapi justru mukanya makin memerah dan membuat dewa-dewa tertawa serta mencemooh dewa perang itu.

Hephaistos tidak berniat untuk melepaskan kedua pasangan itu kalau saja Poseidon tidak membujuk Hephaistos membebaskan keduanya, dan mereka dengan malu pergi dari Olympos. Aphrodite kembali ke negeri kelahirannya, Kypros, sementara Ares bersembunyi di Thrakia, negeri penuh prajurit haus darah yang gemar berperang.

Prayudi~Greek mythology reteller
achilles79.multiply.com