Rabu, 16 Maret 2016

Chengbeng, Hari membersihkan makam

Cheng Beng (Jernih dan Terang) adalah salah satu festival yang dikenal oleh masyarakat china kuno, konon tradisi ini sudah berumur lebih dari 4000 tahun, beberapa nama yang berkaitan dengan festival Chengbeng seperti hari menyapu kuburan, hari ziarah kubur, hari peringatan musim semi dan hari raya makanan dingin.Di hari ini biasanya orang orang akan bertamasya dan mengunjungi makam leluhurnya, berkeliling kota, mengunjungi danau, bermain layang layang, makan telur & minum arak. sebuah lukisan yang berjudul Qing Ming Shang He Tu (Along the River During the Qingming Festival) oleh Zhang Zeduan dari masa dinasti Song menggambarkan bagaimana keramaian ibukota Kaifeng diwaktu Chengbeng, dimana orang2 keluar rumah menikmati suasana sejuknya musim semi, disepanjang jembatan pedagang menjajakan jajanan khas musim semi.


Cheng Beng sendiri adalah salah satu penamaan posisi matahari dari kalender tionghua. Cheng beng jatuh pada hari ke 104 setelah titik balik matahari dimusim dingin atau hari pertama dari 5 terminologi matahari. Biasanya Chengbeng jatuh pada tanggal 5 april atau 4 april ditahun kabisat 

Festival Chengbeng konon di hubungkan dengan festival makanan dingin (Han Shi Jie), festival ini sudah ada sejak periode musim semi musim gugur dinasti Zhou (771-476 SM). Raja Wen dari Jin yang pertama kali memerintahkan rakyatnya makan makanan dingin pada hari tu. 



Sebelum Raja Wen dari negeri Jin bertahta, dia dikenal sebagai pangeran Chong Er. Karena konflik internal di istana dia terusir dalam pengasingan, dengan beberapa pengikutnya, pangeran Chong Er meninggalkan negeri Jin sebagai pelarian.



Dalam pelariannya, para bangsawan miskin itu kelaparan, sampai meminta makan kepada para petani. Pengikut pangeran Chong Er yang bernama Jie Zhitui menyayat daging pahanya, memasaknya dan menyajikannya kepada pangeran Chong Er. 

 Ketika konflik di istana berakhir, pangeran Chong Er kembali kenegeri Jin dan diangkat menjadi raja Wen. Semua pengikut raja Wen yang setia menemani dalam pelariannya diberi hadiah dan kedudukan kecuali Jie Zhitui, karena Jie Zhitui kembali ke kampung halamannya dan merawat ibunya yang sudah tua. Jie Zhitui memutuskan melayani ibunya daripada hidup di istana. Raja Wen kelihatannya juga melupakan Jie Zhitui.

Seorang menteri menyindir raja Wen dengan mengirimkan puisi yang menceritakan tentang seekor naga yang terluka, naga itu ditolong oleh sekelompok ular. Setelah sembuh, naga itu terbang kelangit, para ular ikut kelangit, tapi satu ekor ular tertinggal dibumi. Setelah membaca puisi itu raja Wen menyadari kesalahannya karena melupakan jasa Jie Zhitui. 

 Raja Wen kemudian mendatangi Jie Zhitui dan memintanya untuk kembali ke istana. Tetapi Jie Zhitui menolak secara halus karena dia ingin merawat ibunya yang sudah tua, kemudian Jie Zhitui menggendong ibunya pergi ke gunung dan tinggal diatas gunung.

 Dengan segala cara Raja Wen meminta Jie Zhitui agar keluar dari hutan. Panglima Raja Wen menyarankan agar membakar hutan agar memaksa Jie Zhitui keluar dari hutan dan dengan paksa membawa  Jie Zhitui dan ibunya menuju istana. Kemudian Raja Wen memerintahkan semua prajuritnya untuk membakar hutan tempat Jie Zhitui bersembunyi.




Api semakin besar, membakar apapun yang ada Raja Wen dan para prajuritnya kebingungan karena api mulai sulit dikendalikan, mereka semua berlari melarikan diri ketika api mulai menyerbu perkemahan mereka.  Setelah api padam, para prajurit menemukan jenasah Jie Zhitui  yang telah hangus memeluk ibunya. Raja Wen sangat menyesal karena ulahnya, dengan tak sengaja dia telah membunuh seorang yang sangat berbakti. Untuk mengenang Jie Zhitui, Raja Wen memerintahkan agar setiap tahun, dihari kematian Jie Zhitui semua rakyatnya dilarang untuk menyalakan api, sehingga mereka hanya dapat makan masakan dingin.




 Ada sebuah tradisi dalam upacara ziarah makam pada saat festival Cheng Beng, yaitu menyebarkan kertas2 lima warna (dibeberapa daerah di Indonesia memakai kertas merang, kertas yang terbuat dari sekam padi berwarna kekuningan) diatas makam yang menandakan bahwa makam leluhur sudah selesai dibersihkan dan disembahyangi.

Ada kisah menarik dibelakang itu, tradisi menyebarkan kertas lima warna dipopulerkan selama masa dinasti Han (206 SM - 220 M). Liu Bang (247 SM - 195 SM) kaisar pertama dinasti Han sejak muda telah meninggalkan kampung halamannya meninggalkan kedua orang tuanya untuk pergi berperang melawan kekaisaran Qin. Setelah menumbangkan dinasti Qin dan mengalahkan rival terberatnya, Xiang Yu, Liu Bang diangkat sebagai kaisar pertama yang berasal dari kalangan rakyat jelata.

Setelah menjadi seorang kaisar, Liu Bang kembali ke kampung halamannya untuk menemui orang tuanya, namun sayang kedua orang tuanya telah lama meninggal dan makam kedua orang tuanya tidak diketahui karena mereka sangat miskin sehingga nisanpun hanya terbuat dari kayu lapuk. Selain itu Liu Bang tidak memiliki sanank saudara di kampung halamannya sehingga tidak ada keluarga yang merawat makam orang tua Liu Bang



Ada 2 versi yang aku ketahui tentang bagaimana Liu Bang menemukan makam kedua orang tuanya:

  1. Liu Bang memerintahkan semua orang, pada saat Cheng Beng selain untuk mengunjungi dan membersihkan makam leluhurnya, setiap makam wajib diberikan kertas berwarna warni untuk menandakan bahwa makam itu sudah disembahyangi dan dibersihkan. Makam yang tidak terawat yang tidak dipasangi kertas warna warni adalah makam kedua orang tua Liu Bang.
  2. Versi dramatisasi dari versi ini adalah Liu Bang menangis dan berkata, "Langit, aku anak yang tidak berbakti. Aku telah menjadi penguasa seluruh daratan tetapi makam kedua orang tuaku pun aku tidak tahu ada dimana..." kemudian dia mengeluarkan kertas warna warni dan melemparkannya ke udara sambil berkata "Tunjukanlah dimana makam kedua orang tuaku agar aku bisa menjadi anak yang berbakti". Ajaib, kertas warna warni itu jatuh di dua buah makam yang tidak terawat, itulah makam kedua orang tua Liu Bang
Kemudian tradisi menyebarkan kertas warna warni menjadi tradisi di ziarah makam Cheng Beng.

Ilustrated & Reteller by: Wang'ZW (Do not copy without my permission)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar